Rabu, 21 Desember 2016

ALEPPO

ALEPPO

Bagaimana rasanya mendengar desingan peluru?
Apakah seperti mendengarkan alunan musik heavy metal yang memacu adrenalinmu?

Coba tanyakan pada bocah Aleppo sana...
Sempatkah ia tersenyum mendengarkan backsound yang marak di negerinya saat ini?

Sempatkah bayi-bayi Aleppo bertanya atas dosa apa mereka dibunuh?
Sempatkah ayah bunda Aleppo merekam kelucuan putra-putrinya lalu mengupload ke instagram dan media sosial lainnya?
Sempatkah muda-mudi Aleppo ber-wefie ria bahkan galau memikirkan cinta tak kunjung tiba?

Aleppo... kota yang diberkahi
Kini hancur akibat birahi
Birahi penguasa yang menista agama

Kedaulatan macam apa yang meminta bantuan asing menghancurkan penduduk sipilnya sendiri?

Agama mana yang mengajarkan perkosaan adalah hal lumrah, hingga banyak muslimah Aleppo memilih bunuh diri meski hati jerih?

Sementara dunia bungkam
Hanya menyaksikan dalam diam
Detik kehidupan tetap berdetak biasa
Jumlah korban hanya tercetak sebagai angka
Statistika

Aleppo hanya menjadi topik pembahasan
Di meja-meja makan
Di warung angkringan
Bahkan menjelma tulisan

Ujungnya kita hanya kirim doa
Tambah sedikit dana

Duhai, warga Aleppo
Nampaknya kau harus lebih bersabar
Menjadi pengobar dan pengibar
Menyulut api keimanan di dada kami
Dengan luka di kepala
Dan duka di dada

Meta morfillah

Jumat, 16 Desember 2016

[Review buku] The black cat

Judul: The black cat
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerbit: Noura books
Dimensi: 383 hlm, cetakan ketiga agustus 2016
ISBN: 978 602 385 053 2

Buku ini berisi 13 cerpen dengan dua kategori: kisah-kisah horor dan kisah-kisah detektif. Delapan kisah horor yang terdapat di buku ini jujur saja agak membingungkan saya. Tapi khusus cerpen "Kucing hitam" yang menjadi judul utama memang membuat bulu kuduk merinding meski baca ulang scanning. Twistnya mirip salah satu adegan di mini series alfred hitckok yang hitam putih itu. Menggelikan, tapi tetap mendebarkan untuk dipecahkan.

Sedangkan tiga kisah detektif berisi tentang tokoh utama bernama Chevalier C. Auguste Dupin. Dupin mengingatkan saya pada Arsene Lupin tokoh detektif karangan Maurice Le Blanc. Sehingga membuat saya bertanya apakah kemiripan ini karena mereka sama-sama berasal dari Prancis? Siapakah yang lebih dulu terkenal di dunia detektif? Sebab tahun kejadian di sini disamarkan 18--. Sungguh mirip. Atau memang tahun itu sedang zamannya fiksi detektif di Prancis ya? Kasusnya hanya tiga, tapi cukup panjang menganalisis berita korannya. Hanya pada kasus ketiga sedari awal saya sudah bisa menebak dengan benar sebab sering terjadi di kasus Sherlock Holmes dan Conan.

Bahasanya cukup menjelimet dan banyak ungkapan atau kalimat Prancis yang tidak dijelaskan arti atau maknanya. Sebaiknya sih diberi foot note agar pembaca awam paham maksudnya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Sebagian besar kebenaran muncul dari hal-hal yang kurang penting." (H.312)

"Jika diajukan dengan terampil, pertanyaan tidak akan gagal memancing informasi tentang hal-hal tertentu, dari berbagai pihak yang mungkin bahkan tidak menyadari bahwa mereka memiliki informasi tersebut." (H.340)

Meta morfillah

Minggu, 11 Desember 2016

[Review buku] Pulang

Judul: Pulang
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Dimensi: iv + 400 hlm, 13.5 x 20.5 cm, cetakan XXII, september 2016
ISBN: 978 602 0822 1 29

Bujang, Si Babi Hutan, adalah julukannya setelah meninggalkan Talang, tanah kelahirannya di rimba Sumatra. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Juga tidak pernah ada rasa takut dalam dirinya. Hingga tiga lapis benteng ketakutannya runtuh disebabkan tiga hal. Kematian Mamak, Bapak, dan Tauke Besar. Berbahayakah rasa takut? Bisakah ia melewati masa depan sebagai penguasa sendirian? Saat dirinya kalut, seseorang dari masa lalu datang memanggilnya dengan nama sebenarnya dan membuatnya berpikir ulang tentang jalan hidupnya. Benarlah bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan seringkali berkelindan menyatu.

Novel Tere Liye kali ini amat sesuai dengan background penulis yang merupakan sarjana ekonomi. Memberikan pengetahuan luas tentang shadow economy ditambah bumbu mafia/dunia hitam yang merangkak dari sekadar penguasa daerah menjadi ibukota, dan akhirnya meraksasa dunia.

Namun tetap dengan mempertahankan sebuah prinsip baik. Prinsip taat pada pesan orangtua dan kesetiaan. Bahwa doa orangtua pada akhirnya membawa diri Bujang kembali pulang. Bukan sekadar pulang dalam artian fisik, melainkan pulang dalam arti lebih dalam. Pulang pada Tuhannya. Berdamai dengan segala masa lalunya.

Filosofi berat yang dikemas mengalir ringan oleh penulis. Membuat pembaca mudah memahaminya. Meski menurut saya covernya kurang tepat mewakili cerita. Sebab yang tergambar adalah sunset, sedangkan momen penting dan lekat di cerita ini adalah sunrise dan pelabuhan. Juga sudut pandang 'aku' yang terkesan tahu segalanya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing." (H.101)

"Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain." (H.181)

"Sejatinya dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja." (H.219)

"Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan." (H.262)

"...mulai membaca--cara yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Dengan ditemani buku, tanpa terasa hari telah beranjak petang, tidak sempat lagi mengingat kenangan menyakitkan." (H.268)

"Lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati mamakku dibanding di matanya." (H.315)

"Hidup ini adalah perjalanan panjang. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat spesial, kita dilahirkan. Di salah satu hari berikutnya kita belajar tengkurap, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari terbit.
Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur luka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia mengetuk pintu. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan." (H.337)

"Jangan dilawan semua hari menyakitkan itu, Nak. Karena kau pasti kalah. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. Peluklah erat semuanya. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?
Saat mamakmu meninggal misalnya, itu adalah hari paling indah bagi mamakmu. Memang bukan bagi yang ditinggalkan. Tapi bagi mamakmu, itu adalah hari penting, saat dia usai menunaikan tugasnya sebagai istri yang mencintai suaminya dan sebagai ibu yang membesarkan anaknya. Genap pengabdiannya, tunai baktinya." (H.339)

"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ii hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran." (H.340)

"Tidak mengapa jika rasa takut itu hadir, sepanjang itu baik, dan menyadari masih ada yang memegang takdir. Dia menambatkan rasa takut itu kepada Sang Maha Memiliki." (H.343)

"Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit." (H.345)

Meta morfillah

Jumat, 09 Desember 2016

[Belated] Surprise Hari Guru

Hari ini jadwal padat, persiapan agenda pendakian. Dari pagi guru yang akan mendaki ikut pelatihan medis terkait CPR, bidai, dan hipotermia. Selesai pelatihan pukul 11.00 biasanya sudah tersedia makan siang. Tapi tumben sampai pukul 12.30 belum ada. Tiba-tiba ada bunyi sirine di lapangan. Lalu murid-murid narik semua guru "Ayo, Bu, kita ke lapangan."

Bahkan sampai dituntun.

Ternyata, ada kejutan dari komite dan semua murid untuk merayakan Hari Guru (25 november lalu). Ada penampilan dari komite, puisi dari kelas 6, juga nyanyian "Terima kasih guru" dari kelas 7 SMP, kelas 6 dan kelas 4. Dilanjut pemberian reward pada guru-guru.

Alhamdulillah, saya mendapat reward untuk guru terkreatif SMP, Hafal hadits dan doa kelas 1-5, STIFIn box (Quiz), dan STIFIn dasar (yang nilainya di atas 90). Entahlah, saya merasa malu dan kurang pantas mendapatkan semua hadiah itu, sebab saya merasa tidak menonjol apalagi kreatif. Ada beban tambahan mempertanggungjawabkan apa yang terlihat di mata makhluk. Semoga tak ada hasad dan reward ini memicu pribadi lebih baik lagi dengan niat tetap lillah.

Setelahnya kami ramah tamah, dengan aneka hidangan lezat nan banyak macam. Ternyata kami sengaja dibuat lapar oleh catering sebab mau dijamu spesial. Masyaaa Allah.

Baru sesuap bakso, tiba-tiba seorang murid ikhwan kelas saya datang menghampiri dan berkata, "Bu, gawat, Bu! Di kelas pada berantem, kacau. Gak bisa satu guru aja, Bu yang damaikan. Ayo, Bu, ke kelas!"

Lalu dia berlari ke kelas. Meninggalkan saya yang shock. Sebab memang pernah ada kejadian saat kelas kosong, ada yang bertengkar. Saya khawatir. Maka saya bersegera mengajak guru akhwat lain menuju kelas. Dari tangga bawah, terdengar teriakan-teriakan, "Pisau, mana, pisau!"

Saya deg-degan, takut mereka main pisau lipat pendakian ke arah temannya. Lalu terdengar suara tangis murid akhwat. Ditambah pemandangan dua orang murid ikhwan seperti sedang bergulat. Saya pun memacu langkah saya lebih cepat menaiki tangga. Sesampainya di atas, "Ada apa ini?"

Tiba-tiba ada semburan kertas dan teriakan "Yeee... selamat hari guru! Kaget, ya, Bu?"

Lalu saya melihat kelas didekor dengan tulisan dari kertas seadanya dan banyak kalimat positif di papan tulis. Lalu seorang murid ikhwan memberikan hadiah pada saya.

Ternyata, saya dikerjai! Ya Allah, seumur-umur ini surprise yang cukup membuat saya sport jantung. Saya cukup lemas hingga memilih duduk dan mengamati mereka. Ternyata, di balik ulah mereka yang menguji kesabaran, mereka masihlah tetap anak-anak yang manis.

Rabbi habbli minasshaalihiin yaa Rabb.

Hanya itu yang bisa saya ucapkan terus menerus. Doa adalah kekuatan saya. Sebab di antara guru SMP lain, saya memang tak terlalu disukai karena ketegasan saya dan banyaknya aturan yang saya terapkan selaku wali kelas. Tapi saya sadar, itu adalah risiko. Menyayangi tanpa kembali disayangi.

Meta morfillah

Wanita Thinking dan perhatiannya

Dulu saat pindah, saya kira tidak akan lagi saya mendapat teman sepengertian dan asyik untuk diajak senang dan susah. Ternyata Allah maha baik. Saya dipasangkan dengan wanita yang lama kuliah di Bandung ini. Dia begitu pendiam dan datar wajahnya karena memang dia cool ala Thinking. Tapi, kalau sudah kenal, dia bisa bercerita berjam-jam, bahkan membuat saya begadang demi mendengarkan ceritanya.

Hal itu saya ketahui setelah beberapa bulan dia mengajukan diri menemani saya selama seminggu saat saya ditinggal sendirian oleh mama dan uda sebab berobat bulanan ke Jakarta. Bahkan beberapa kawan agak heran melihat kedekatan kami. Ini bukan soal Feeling menaklukkan Thinking, saya rasa. Tapi sebab kesamaan visi kami terhadap pendidikan dan agama.

Menurut saya, wanita Thinking ini romantis dengan caranya. Perhatiannya mungkin tidak terumbar seperti saya yang ekspresif. Tapi detail. Saat saya sakit dan tidak masuk kerja hingga dua kali, dia yang setia menjenguk saya dan berinisiatif mengajak teman lain. Saat saya mengaku saya sendirian di rumah, dia yang berinisiatif mengajukan diri menemani saya, dan menjadi kebiasaan kami beberapa bulan terakhir. Saat saya ingin ke suatu tempat atau sekadar hangout kulineran, dia selalu siap sedia. Belum pernah saya mendengar dia menolak apa yang saya pinta dengan alasan yang kurang logis.

Puncaknya adalah kemarin, yang membuat saya cukup terharu. Hari terakhir dia menginap di rumah saya. Beberapa hari sebelumnya, saya memang memasakkan makanan untuknya. Tapi kemarin saya mau mencuci baju, saya bilang padanya bahwa saya agak malas masak. Seketika dia mengajukan diri untuk memasak. Saya iyakan. Ternyata masakannya enak. Sambalnya TOP! Lalu saya iseng bilang, "Pengin nyoba seblak buatan Bu Jijah, deh. Kan kamu sering buat waktu di Bandung dulu."

Tanpa banyak kata, dia belanja apa yang belum ada di rumah saya untuk membuat seblak. Sementara saya mencuci baju. Masyaaa Allah. Apa yang saya katakan selintas didengar dan dikabulkan. Lalu setelah acara di sekolah kemarin, di mana dia dapat beberapa reward juga, dia menemani saya mencari keperluan pendakian hingga malam.

Terakhir, dia bilang mau beli buku. Setelah sampai di Gramedia, dia berkata, "Bu Meta, aku sudah janji mau belikan Bu Meta sebuah buku. Tadinya mau belikan buku Inteligensi Embun Pagi yang pernah Bu Meta pegang lalu ditaruh lagi. Tapi ternyata Bu Meta sudah baca di ijak. Jadi Bu Meta pilih saja sendiri, ya!"

Wooww... saya mengonfirmasi dan saya candai, "Aku pilih yang paling mahal, ya? Jangan nyesel loh, janjiin aku buku. Akan kutagih terus. Aku ga nolak dan ga malu kalau soal buku mah!"

Dan inilah buku yang saya pilih. Muhammad seri ketiga karya Tasaro GK yang sudah lama ingin saya beli. Sementara Pulang karya Tere Liye adalah buku yang saya rekomendasikan padanya untuk dibeli. Saya terbiasa merekomendasikan dia buku yang sesuai dengan gaya bacaannya yang belum terlalu berat dan juga belum saya baca. Jadi saya bisa pinjam. Dan lagi-lagi kebaikan hatinya, saya dipinjamkan sebelum dia membacanya. Masyaa Allah... sungguh rezeki memiliki teman yang baik. Semoga Allah kabulkan segala doamu ya, yang terbaik untukmu. Barakallah...

Meta morfillah



Minggu, 04 Desember 2016

[Review buku] Haduh, aku di-follow

Judul: Haduh, aku di-follow
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: KPG
Dimensi: vi + 122 hlm, 20 x 20 cm, edisi ebook di ijak
ISBN: 978 979 91 0529 5

Buku ini berisi kumpulan #puitwit atau puisi yang ditwit dalam 140 karakter. Dibuat dalam kronologis urutan waktu twit, namun bisa juga dinikmati dalam satu tema berdasarkan indeks di halaman belakang, misal tentang celana.

Secara keseluruhan puisinya unik, diksinya juga lumayan buat saya. Beberapa jarang saya temukan dalam keseharian. Yang paling menarik adalah ilustrasi, layout dan ragam font serta warnanya. Secara isi, puisi jokpin ini semacam sindiran dan kepekaan terhadap isu sosial saat ini.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Ibukota cinta adalah ibu."

"Tuhan, aku twit kau setiap malam, tapi Kau bilang doaku masih terlampau panjang."

"Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan." (H. 40)

"Kata-kata melipat jarak menjadi selembar kita."

"Mari belajar sabar kepada kabar. Ia baik-baik saja walau setiap hari diserang apa."

"Begini saja: aku yang nulis puisi, kamu yang jadi puisi."

Meta morfillah

Jumat, 02 Desember 2016

[Review buku] Inteligensi embun pagi

Judul: Intelegensi embun pagi
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang
Dimensi: 710 hlm, cetakan pertama februari 2016, edisi ebook di ijak
ISBN: 978 602 291 154 8

Sepertinya saya terlewat, belum membaca seri kelima--Gelombang. Sebab saya agak asing dengan detail tentang Alfa. Oh ya, buku ini adalah seri terakhir dari Supernova. Di buku ini, semua tokoh yang dibahas detail di buku sebelumnya: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh; Akar; Petir; Partikel; dan Gelombang muncul dan bersatu membentuk satu gugus peretas Asko. Berawal dari Diva, gugus Asko bangkit dan terhubung. Bodhi/akar sebagai peretas kisi, Etra/petir sebagai peretas memori, Zarah/partikel sebagai peretas gerbang, Gio sebagai peretas kunci, dan Alfa/gelombang sebagai peretas mimpi.

Dibantu oleh beberapa Infiltran dan Umbra, mereka mencoba melindungi sekuens Hari Terobosan agar kelahiran Peretas puncak tetap ada. Sayangnya, ada banyak Savara yang menyusup dan pengkhianatan berlapis terjadi dari dalam. Asko dan portal terancam lenyap. Hanya ada satu cara untuk membuat semua berjalan normal kembali. Seseorang harus dikorbankan. Seseorang yang akan selalu menjadi alasan perang, sebab ketidakmungkinan bersatunya dia dengan belahan jiwa. Sebab mempersatukan mereka, sama saja melenyapkannya. Bagai malam dengan siang. Tidak akan pernah bertemu, apalagi bersatu. Siapakah dia?

Luar biasa, saya tak pernah menyangka bahwa endingnya akan seperti ini. Saya kira selama ini Dee hanya mencoba membangun karakter dari berbagai perjalanan rohaninya mendalami beberapa agama. Ternyata di buku ini, ia terlepas dari segala macam agama. Lebih terasa sangat science fiction. Saya membayangkan semacam film interstellaar digabung matrix, harry potter, transcendence, dll. Meski masih ada banyak pertanyaan menggantung.

Jujur saja, banyak pula istilah njelimet yang saya tak paham meski sudah baca glosariumnya. Macam gaya stephen hawking. Tapi begitulah, saya larut dalam tiap episode.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Kenapa orang-orang sekarang suka sekali membuat cinta jadi rumit? Suka, ya suka. Mama lihat matamu." (H.317)

"Jangan sampai harapan membuat kita buta pada kenyataan." (H. 505)

"Masa 12 tahun tidak mengaratkan esensi, sekalipun menyusutkan bara. Tidak lagi bergejolak, tapi hangat. Hangat yang tampaknya kekal." (H. 688)

"Menulis membutuhkan kerja keras dan pembelajaran seumur hidup. Bukan sekadar modal hasrat dan angan-angan." (H. 700)

"Menjadi penulis bukan hanya perkara bercerita, tapi juga meliputi penempaan mental. Kita diajak untuk mengenali diri kita lebih baik lagi, menghadapi monster dan malaikat internal, serta belajar bagaimana memanfaatkan keduanya untuk kemajuan kita." (H. 701)

Meta morfillah