Sabtu, 07 Februari 2015

[Review buku] Lapis-lapis keberkahan

Judul: Lapis-lapis keberkahan
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Dimensi: 16 x 24 cm, 518 hlm
ISBN: 978 602 7820 12 8

Hampir semua buku-buku Salim saya baca, dan saya suka. Tapi bila boleh diurut dari yang paling saya suka adalah buku "Dalam dekapan ukhuwah" dan buku ini. Prolog buku ini begitu mengesankan, sehingga saya langsung tergerak untuk pre order. Membacanya dimulai dari 21 Juli 2014, saat buku ini mendarat setelah menanti sebulan pre order dari Yogya. Sangat bersemangat, namun juga tak ingin lekas selesai. Sengaja saya berlama-lama dan mengulang-ulang kisah yang membuat hati lirih hingga gerimis. Hingga akhirnya saya selesaikan malam ini, sebab terlalu asyiknya membaca kisah teladan yang disampaikan dengan kalimat-kalimat indah nan cerdas khas salim.

Dalam tiap bukunya, salim selalu menampilkan kata-kata baru yang jarang saya temui. Hingga sering kali saya bertanya pada teman atau googling arti kata tersebut, seperti: anggitan, selingkung, teripis, dll. Soal diksi, jangan ditanya... saya kadung jatuh cinta pada untaian kalimat salim di tiap bukunya.

Dalam buku lapis-lapis keberkahan ini sendiri terbagi menjadi tiga bab yang dipecah lagi menjadi beberapa sub bab. Bab pertama berjudul beriris-iris asas makna, bab kedua  berjudul bertumpuk-tumpuk bahan karya, dan bab terakhir berjudul bersusun-susun rasa surga. Membahas tentang hakikat kebahagiaan yang sejatinya kita cari dalam bentuk keberkahan dan lapis-lapisnya, yang dapat ditemui dalam teladan pribadi rasulullah, sahabat serta keluarganya, juga berbagai tempat, waktu dan amalan yang memiliki keutamaan untuk diberkahi.

Membaca buku ini, membuat saya terhempas membayangkan masa lalu saat rasul hidup hingga kurun waktu sebelumnya, saat doa nabi ibrahim terwujud dalam bentuk hadirnya rasulullah sebagai jawaban doa berusia 4000 tahun. Betapa kecil dan tiada apa-apanya diri ini dibandingkan mereka.

Lalu di bab terakhir, saya merasa diajak bermuhasabah dari pribadi, keluarga, hingga negara. Dan ditutup dengan epilog cantik berjudul Tiada rasa cukup akan berkahMu.

Kamis, 29 Januari 2015

Sebuah nama sebuah cerita: Sri Lorohati

Sebuah nama sebuah cerita: Sri Lorohati

Namanya Sri Lorohati. Dilahirkan pada 25 November 1954. Biasa dipanggil Yayi, karena keluarganya merupakan priyayi di jamannya. Sebutan itu berasal dari kata “nyai” sebenarnya, hanya huruf ‘n’ dihilangkan, menjadi yai, lalu yayi (dengan penekanan huruf ‘k’ di akhir, terdengar seperti yayik). Anak kedua dari dua belas bersaudara, merupakan anak perempuan tertua di keluarganya. Saudaranya yang masih hidup hanya sembilan orang. Satu mati keguguran, dan satu lagi hanyut terbawa banjir deras di Jakarta. 

Yayi terbiasa makan enak, karena orangtuanya bekerja sebagai mantri dan bidan. Pekerjaan yang hebat di jamannya. Hidup enak yayi berubah di usia 18 tahun. Tahun 1972, ibunya meninggal dunia. Saat itu Yayi muda sedang bersekolah di Sekolah Perawat Gigi, menantikan kabar kelulusan, namun yang didapatkan adalah kabar kematian ibundanya. Yayi menjadi kepala keluarga, tulang punggung, karena kakaknya lelaki nomor satu di keluarga tak dapat diandalkan. Yayi bekerja di Semarang dan menyisihkan uang gajinya yang tidak seberapa untuk keperluan adik-adiknya di Jakarta. Bapaknya sibuk berjudi dan menikah lagi. Hingga Yayi memiliki tiga ibu tiri, dan saudara tiri yang banyak. Ibu tiri di Cianjur, Bogor dan Tangerang. 

Yayi yang bermental baja tetap melanjutkan hidup, menyekolahkan adik-adiknya hingga SMA. Di usia 25 tahun, yayi menikah dengan seorang pemuda yang usianya terpaut jauh lebih tua darinya. Perbedaan usia yang mencolok, 20 tahun, tidak menyurutkan langkah mereka untuk menikah. Dari pernikahan tersebut lahirlah tiga anak. Dua wanita dan satu lelaki. Anak lelakinya yang normal, di usia seminggu setelah lahir mengalami jatuh, hingga menjadi lumpuh, terganggu syarafnya dan akhirnya disabilitas.

Walau sudah berumah tangga, yayi tetap memegang peranan sebagai tulang punggung keluarga. Adik-adiknya bergantung pada gajinya. Ditambah tanggungan obat untuk anak lelakinya yang disabilitas, membuat yayi pusing tujuh keliling mencari dana tambahan. Saat itu yayi sudah bergelar PNS, namun belum digaji pemerintah. Yayi memang bodoh dalam urusan agama, namun niat belajarnya yang tinggi membuatnya semakin dekat dan mendalami agamanya. Ia selalu berkeluh kesah pada Tuhannya. Di tengah cibiran berbagai manusia terhadap rumah tangganya, rongrongan saudara kanan-kirinya, yayi tetap tegar. Allah selalu memberi kemudahan, semua terpenuhi dari jalan yang tak pernah ia sangka. Hidupnya pas-pasan. Setiap ia butuh, pas ada. Walau kadang ia dan keluarganya harus makan bubur nasi dan garam berhari-hari lamanya.

Kehidupan menempa yayi dengan segala leluconnya. Tak puas juga, kehidupan memberikan kejutan lain. Tahun 1995, yayi diberikan penyakit langka. Remathoid athritis. Sendi-sendinya membengkok, tangan dan kakinya tak berfungsi dengan baik. Ujung-ujung jarinya menjadi benjolan, menyebabkan tangannya membengkok, tak lurus indah lagi seperti dulu. Kakinya perlahan membenjol, menyebabkan tiada lagi sepatu atau sandal yang cocok untuk dipakai. Butuh sepatu khusus. Sepatu berharga satu juta yang terbuat dari semacam busa dan tali yang tidak menarik, dibuat di RSCM.

Yayi menjalani hidup semakin khusyu, meminta pertolongan hanya pada Allah, satu-satunya harapan yang ia miliki. Lagi-lagi, ia mendapatkan kemudahan, ada saja jalannya. Sepatu mahal tak menarik, namun khusus untuk kakinya dapat ia beli. Di tengah kesulitan hidup, ada saja kejadian air susu dibalas air tuba. Adik-adiknya yang dibesarkan, memakinya hanya karena ia tak dapat memberikan pinjaman uang. Bahkan ada yang sempat mengatakan bahwa anaknya menjadi cacat adalah karena kutukan. Yayi hanya diam, kepada Tuhannya saja ia mengadu. Perih, pedih, tersayat hati, ia pendam sendiri.

Hidup bahkan tidak memanis ataupun berlembut hati. Tahun 2001, suaminya tercinta dipanggil Sang Maha Kuasa. Yayi merapuh, tak ada lagi kawan sejatinya, seperjalanan, sang nakhoda rumah tangga. Yayi kebingungan. Rumah tangganya agak oleng. Menjadi single parent bagi ketiga anaknya, saat anak bungsunya masih kelas 6 SD, dan anak tertuanya belum lulus kuliah. Kembali yayi dengan segala keterbatasan fisiknya namun keluarbiasaan hatinya, mengarungi lautan kehidupan yang kejam dengan ketegarannya.

Uang pensiunan suaminya dan gajinya yang tidak seberapa diirit-irit demi pendidikan anaknya. Tekad yayi menjadikan anaknya sarjana begitu kuat. Ia tak mau anaknya terinjak-injak. Tentu saja yayi mendapatkan banyak masalah, namun tak ia ceritakan kepada siapapun. Kedekatannya pada Tuhan membuahkan kebaikan. Perlahan-lahan keluarganya bangkit, rumahnya kian bagus, dari gubuk kayu, menjadi semi permanen, lalu berubah total permanen.

Tahun 2011 yayi pensiun. Namun tidak penyakitnya. Penyakit itu setia menemani, hingga semakin parah. Pinggang dan lehernya membutuhkan alat bantuan. Alat penyangga, yang memakan biaya tak sedikit. Yayi tak mau mengambil, walaupun badannya sudah tak kuat tegak. Sakit luar biasa. Percayalah, Tuhan tidak tidur, Kawan. Yayi mendapatkan semua itu gratis. Tercover oleh asuransi JPK semasa ia kerja dahulu, alhamdulillah.

Apakah hidup semakin membaik? Orang-orang yang melihat kehidupan yayi muda hingga yayi tua bilang YA. Secara materi, yayi dan keluarga boleh bersyukur. Secara pendidikan, yayi sukses menciptakan dua sarjana. Namun, itu hanya yang tampak. Sesungguhnya kehidupan tetap keras. Yayi dengan anak lelakinya yang disabilitas, kini hanya menghabiskan waktu berdua di rumah barunya yang jauh dari keramaian kota. Di Bogor. Tanpa pembantu, tiap hari yayi bercengkerama dengan dinginnya udara dan air yang menggigit hingga menusuk tulang untuk memasak air, mencuci baju, mencuci piring. Hanya seminggu sekali anak bungsunya dan terkadang anak sulung beserta keluarga dan cucunya mendatangi.

Apakah yayi bahagia? Secara kasat mata, tampaknya YA. Namun secara batin, tidak ada yang tahu. Hanya yayi dan tuhannya yang mengerti, apa itu kebahagiaan.

Kisah ini adalah nyata. Tokohnya begitu menginspirasi saya, panutan dalam kehidupan saya. Yaa… yayi atau Sri Lorohati adalah mama saya tercinta.

Apakah Anda melihat saya sebagai anak yang kejam? Tak tahu diri? Membiarkan ibunda tetap bekerja sendirian, tiada yang menemani? Secara kasat mata, tampaknya YA. Tapi, yang merasakannya adalah saya dan mama. Anda tak perlu tahu. Biarlah Anda memaki, mencaci kami. Ini hidup kami. Hanya kami dan Tuhan yang tahu kebenarannya.

With love,
Meta morfillah

*Tulisan ini diikutsertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lain bisa diakses di http://nulisbarengibu.com

Selasa, 27 Januari 2015

[Review buku] Iblis tidak pernah mati

Judul: Iblis tidak pernah mati
Penulis: Seno gumira ajidarma
Penerbit: Galang Press
Identitas: 264 hlm, 18 cm. Cetakan kedua, agustus 2001
ISBN: 979 95690 2 8

Segi cover:
Kalau saja saya tidak mengenal penulisnya, mungkin buku ini tidak akan pernah saya baca. Mengapa? Karena tampilan covernya sungguh enggak banget. Kayak komik murahan yang bercerita tentang azab neraka. Sadly, I should say it.

Segi isi:
SGA memang tak diragukan lago. Kelima belas cerpen yang terangkum dalam buku ini betul-betul menyentak. Dibagi menjadi empat part, yakni: sebelum, ketika, sesudah, dan selamanya. Kronologis cerpen tersebut ternyata mengacu pada peristiwa kerusuhan mei 1998 dan dampaknya.

Sebelum: Terdiri dari lima cerpen berjudul
1. Kematian Paman Gober
Menceritakan kiasan kepemerintahan soeharto yang begitu diktator, ditakuti, dan diharapkan kematiannya setiap hari.

2. Dongeng sebelum tidur
Menceritakan peristiwa penggusiran di bend-hil ke dalam sebuah dongeng pengantar tidur.

3. Sembilan semar
Menceritakan kemunculan sembilan semar yang dianggap sebagai pertanda bahwa kebenaran semakin punah.

4. Pada suatu hari minggu
Menceritakan tentang sebuah keluarga yang ingin melewatkan hari minggunya dengan damai. Saya rasa, cerita ini agak di luar konteks kronologis.

5. Taksi blues
Menceritakan pengemudi taksi yang menjadi saksi beragam peristiwa di malam hari. Termasuk penculikan aktivis pro reformasi.

Ketika: terdiri dari dua cerpen
1. Jakarta, suatu ketika
Menceritakan kerusuhan mei 1998 dari sudut pandang juru kamera dan seorang anak bernama Sari.

2. Clara
Menceritakan tragedi yang dialami perempuan keturunan cina saat kerusuhan terjadi.

Sesudah: ada tujuh cerita
1. Partai pengemis
Menceritakan pertikaian yang terjadi di sebuah partai.

2. Tujuan: Negeri senja
Menceritakan sebuah kereta aneh di stasiun tugu yogya yang menuju ke negeri senja. Cerita ini pun di luar konteks menurut saya.

3. Kisah seorang penyadap telepon
Menceritakan seorang penyadap telepon yang tuli.

4. Cinta dan ninja
Menceritakan kekuatan cinta yang mengalahkan kekejaman ninja. Cerita ini pun di luar konteks menurut saya.

5. Patung
Menceritakan seorang lelaki yang setia menunggu kekasihnya membunuh iblis, hingga ia berubah menjadi patung 200 tahun kemudian.

6. Anak-anak langit
Menceritakan anak-anak pengemis yang kian banyak setelah reformasi.

7. Eksodus
Menceritakan tentang pendatang yang diusir dari tanah mana pun, termasuk tanah asalnya. Seperti mewakili kaum cina.

Selamanya: memuat satu cerita
1. Karnaval
Menceritakan anak kecil yang ditinggal ibunya saat karnaval. Saya rasa, cerpen ini pun di luar konteks.

Saya mengapresiasi kumcer ini 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Senin, 26 Januari 2015

[Review buku] The Codex

Judul: The Codex
Penulis: Rizki Ridyasmara
Penerbit: Pustaka Al Kautsar
Identitas: 434 hlm; 13.5 x 20.5 cm. Cetakan keempat, maret 2013
ISBN: 978 979 19163 5 6

"Anda adalah apa yang Anda makan."

Cover buku ini sudah begitu mencuri perhatian dengan kata-kata "Konspirasi jahat di atas meja makan kita" dan beragam testimoni lainnya.
Untuk penulisnya sendiri, ini bukan kali pertama saya membaca karyanya. Kalau tidak salah, saya membaca karya pertamanya berjudul "Jacatra secret" terbitan serambi. Tak jauh berbeda, novel sebelumnya juga mengungkap beragam kode, simbol pagan dan mason di kota jakarta. Di novel the codex ini, rizki kembali mengungkap konspirasi dan sedikit kode dalam simbol negara amerika.

Melalui tokoh Alda Adrina--seorang saintis yang bekerja di La rocher laboratory--, George Marshall--mantan suami alda yang beralih profesi dari sniper pasukan rahasia australi menjadi seorang novelis--saya diajak mengikuti petualangan menegangkan yang melibatkan CIA hingga mafiosso italia.

Semua ini terjadi karena sebuah microchip yang ditinggalkan oleh Dr. Pannier. Rentetan peristiwa yang diwarnai pembunuhan kejam dan beragam pembunuh bayaran terlatih, mengungkap suatu peristiwa menakjubkan. Bahwa ada konspirasi nyata dalam makanan yang kita asup tiap harinya.

Dalam novel ini, disajikan beberapa lampiran fakta mengenai nama bahan kimia, produk transgenik, skandal korporasi multinasional (seperti Mc'D dan bayer), dan nama saintis dunia yang meninggal misterius. Semua itu mengacu pada satu program yang dianut oleh Amerika; Depopulation program. Sebuah program pemusnahan manusia melalui beragam cara, baik lambat (melalui makanan, penyakit, dll), atau pun cepat (melalui konflik, peperangan, dll).

Ada beberapa pemikiran menarik pula dalam novel ini yang membuat saya tercengan dan berpikir ulang. Seperti pernyataan bahwa tsunami aceh 2004 adalah kamuflase, gempa artifisial uang dirancang karena ledakan micronuklir amerika. Serta virus pembunuh massal yang hanya akan membunuh satu ras, satu gen yang sudah dikenali, biasanya membunuh orang-orang kulit hitam seperti afrika, yaitu HIV.

Walau saat membaca novel ini, saya merasa seperti berada di karya Dan Brown, karena tutur katanya yang begitu mirip dan tokoh yang dipilihnya pun memiliki kesamaan karakter dengan Robert Langdon. Tapi, saya tak tahu, apakah itu memang terkait karena penulisnya berkiblat ke sana atau tidak.

Terlepas itu semua, menurut saya novel ini menarik sekali! Novel ini saya baca mulai pukul 10 dan selesai pukul 13.00.

Saya memberikan 5 bintang dari 5.

Meta morfillah

Sabtu, 24 Januari 2015

[Cerita Lirik] Selamanya cinta

Dikala hati resah
Seribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalaulah ku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh

Friendzone. Ya, itu istilah baru yang kerap kudengar. Suatu hubungan pertemanan yang lebih dari sekadar teman, tapi tak serius seperti kekasih. Keduanya saling menyimpan rasa, namun berlindung di balik nama "teman". Kautahu, itu menyebalkan! Membesarkan sayap pengharapanmu akan suatu hubungan yang hanya ilusi. Dan aku sedang mengalaminya sekarang...

**

"Bisakah kaujelaskan padaku mengenai hubungan kita?"
Aku menguncimu dalam tatapanku. Ada sedikit kerut di bibir kanan atasmu, menandakan kau sedang merasa bingung atas pertanyaanku seakan berkata "Pertanyaan macam apa ini?". Aku menegaskan pertanyaanku dengan menatap tajam ke matamu dan menelengkan kepalaku ke kanan seakan berkata "Ayo jawab, aku serius!"

"Teman."

Jawaban salah.

"Tidak seperti ini kau memperlakukan teman."

"Sahabat," kau masih berusaha menjawab.

"Tidak ada sahabat yang rajin mengingatkan makan, memanggil sayang, mengucapkan 'aku sayang kamu' hampir tiap hari, memeluk, mengajak nonton, dan lebih sering menghabiskan waktu dengannya dibanding pacarnya sendiri."

Kita terdiam.

"Yang kutahu, aku nyaman denganmu. Tak bolehkah?"

"Nyaman seperti apa?"

"Entahlah, aku tak bisa menjelaskannya. Lagipula hal ini tak penting. Sudahlah, kita makan saja."

Kaumulai memakan pancake durian di hadapanmu.

"Ini penting buatku. Aku merasa ada yang salah dalam pertemanan kita. Aku butuh kepastian."

Kaudiam saja. Pembicaraan hari ini telah selesai. Selalu begitu. Mengikuti maumu.

Tapi tidak bagiku. Ada hal-hal yang tak akan pernah selesai. Ingin sekali kutahu apa yang sedang kaupikirkan. Ingin sekali kutahu, apa kautahu tentang rindu? Tentang rasa nyaman, aman dan pasti. Kurasa, kautak akan pernah tahu. Semua ini hanya tentang kesenanganmu.

Biar awan pun gelisah
Daun-daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku

Tapi, cinta memang membutakan dua insan yang sedang dimabuknya. Terutama aku. Aku masih saja percaya sebuah keajaiban bahwa kauakan mengerti. Paham. Suatu hari nanti. Dengan ilusi itu, aku merasa hariku akan selalu cerah, asalkan bersamamu. Di hatiku, hanya ada musim panas dan musim semi. Aku telah lupa rasa dinginnya musim dingin dan sedihnya musim gugur.

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya selamanya...
Tuhan jalinkanlah cinta
Bersama selamanya...

Kubiarkan hubungan kita sebagaimana biasanya, tanpa ada yang terungkapkan. Membodohi diriku, bahkan meminta pada tuhan untuk menjalinkan hatimu dan hatiku. Bodohnya aku, mengimanimu sebagai cintaku selamanya. Sementara, kauterus berlanjut dengan kekasihmu yang kaukeluhkan tapi tak kautinggalkan. Meski lebih banyak waktumu yang kauhabiskan denganku, yang hanya "teman"mu. Hingga sebuah kenyataan menyadarkanku, bahwa kita adalah ilusi. Hanya dengan sebuah kertas, undangan pernikahanmu. Undangan hujan yang kaukirimkan untukku. Hujan deras dari kedua bola mataku.

*cerita lirik selamanya cinta - d'cinnamons, dan inspirasi dari film 500 days of summer

Meta morfillah

Jumat, 23 Januari 2015

Aku menyayangimu karena Allah

Setiap perpindahan itu berat. Terutama dalam meninggalkan sesuatu yang begitu dicintai, nyaman, apalagi seorang sahabat. Tapi aku harus percaya bahwa selalu ada INDAH di setiap PINDAH. Aku harus percaya, bahwa akan ada suatu masa kita akan bertemu lagi dan menatap haru tak percaya, atas kesuksesan yang kita raih setelah berjuang masing-masing. Kelak, anak-anak kita pun akan saling bersahabat seperti persahabatan kita saat ini.

Aku tahu, bahwa jauh lebih sulit melihat dari posisi yang ditinggalkan. Jauh lebih lama untuk pulih. Sebab, akan ada sedikit kekecewaan, "Mengapa aku harus ditinggalkan lagi?" dan mungkin ada rasa sedih mengapa kita tak bisa saling mempertahankan lebih lama. Untuk hal ini, aku pun meminta maaf. Sebab egoku masih jauh lebih besar dari sayangku padamu. Aku masih saja memikirkan tentang perasaanku dan melindunginya dengan cara ini. Tapi, aku berterima kasih bahwa kamu selalu memaklumi kebodohanku. Kamu adalah salah satu orang, selain mama yang mau percaya padaku. Keyakinan itulah yang membuatku kuat. Meski aku tahu, kalian menyembunyikan kesedihan kalian di baliknya.

Mengenalmu, agak kusesalkan. Mengapa baru setahun belakangan kita dekat. Rasanya waktu begitu kurang. Ingin kupeluk kamu tiap hari, sebab aku tak pandai menghibur. Kini, walau ragaku tak di sisimu lagi, aku akan terus memelukmu dalam doa. Persahabatan tidak berarti harus selalu dekat. Tapi, mereka yang saling menyebut nama sahabatnya dalam doa, meski nanti komunikasi kita terputus dan perhatian kita teralihkan.

Terima kasih untuk semua ketulusanmu.
Terima kasih telah bersedia menjadikanku bagian dalam hidupmu.
Semoga persahabatan kita terus berlanjut hingga surgaNya.
Semoga kita selalu diberikan persahabatan yang sebening prasangka, sekokoh janji, selembut perhatian, dan sehangat semangat.

Maafkan aku untuk semua yang kurang sempurna.

Aku sayang mba yani, karena Allah.

Meta morfillah

Kamis, 22 Januari 2015

[Cerita Lirik] Lapang Dada



Apa yang salah dengan lagu ini
Kenapa kembali kumengingatmu
Seperti aku bisa merasakan
Getaran jantung dan langkah kakimu

Padahal aku telah melipat segala hal tentangmu dan kuletakkan dalam sebuah kotak, yang kupojokkan di ruang hatiku. Bahkan sebuah lagu yang baru kudengar ini, terasa begitu salah. Salah karena memantik ingatanku tentangmu. Begitu mudahnya semua kenangan itu menguar dan memenuhi kepala hingga udara yang kuhirup. Seperti aku bisa merasakan getaran jantung hingga langkah kakimu lagi.

Di jalan yang setapak kecil ini
Seperti kumendengar kau bernyanyi
Kau harus bisa
Bisa berlapang dada
Kau harus bisa
Bisa ambil hikmahnya
Karena semua
Semua tak lagi sama
Walau kautahu dia pun merasakannya

Di sini aku seperti mendengar nyanyianmu yang menguatkanku. Persis seperti yang biasa kaulakukan dahulu, saat kuterpuruk. Menyuruhku berlapang dada dan mengambil hikmahnya. Menasihatiku tentang perubahan, bahwa semua tak akan lagi sama. Bahkan kamu suka menceritakan kegagalan perasaanmu. Tentang dia, yang sebenarnya juga merasakan apa yang kaurasakan. Namun, memang kalian tak berjodoh. Dahulu aku hanya terpaku mendengar kisahmu.

Ke mana ini akan membawaku
Aku takkan pernah tahu

Sejauh ini aku berjalan, aku tak tahu ke mana jalan ini akan membawaku. Aku tak pernah tahu. Yang kutahu, aku harus terus berjalan dan tak menengok ke belakang. Yaa, aku tak menengok. Tapi sekali ini saja, aku membiarkan diriku larut dalam kenangan tentangmu. Sebelum aku membuangnya jauh sekali. Mencoba tegar dan berlapang dada. Entah sampai kapan akan begini terus.

*Cerita Lirik Lapang Dada - Sheila on 7
Meta morfillah