Tampilkan postingan dengan label #CeritaLirik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #CeritaLirik. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juli 2015

Assalammualaikum beijing

Assalammualaikum kekasih hati
Assalammualaikum pendamping diri
Tak pernah kubayangkan
Kautawarkan genggaman
mengobati luka di jiwa

Assalammualaikum cinta sejati
Assalammualaikum penghias mimpi
Dari negeri yang jauh, menelusuri waktu
Kau datang penuhi takdirku

Kasih tak pernah menyerah
Walau ujian datang menyapa
Cinta yang dulu timbulkan luka
Kini pernah berganti cahaya

Assalammualaikum beijing...

***

Dari awal nonton filmnya, langsung jatuh hati sama soundtrack ini. Mudah terbaca di liriknya, bahkan menjelaskan keseluruhan film. Entahlah... ada yang menyeruak di dada saat mendengar lagu ini di kali pertama. Pernah merasa seperti itu terhadap sebuah lagu yang asing? Begitu yakin bahwa akan menyukai lagu ini dalam penggalan mau pun keutuhannya?

Saya mencari-cari dan pada akhirnya dibantu oleh seorang kawan dokter di seberang pulau untuk mendapatkan lagu ini. Butuh lima kali putar untuk hafal dan menuliskan lirik lagu ini. Beginilah... kalau sudah suka, saya putar terus. Bosan? Itu urusan belakangan.

Haha... karakter lelaki di film ini... bikin melting banget. Awalnya sudah sesak nafas saat tahu ada jurang perbedaan iman. Berharap ada hidayah menyentuhnya, lalu saat tersentuh... tokoh wanitanya yang ngedrop. Meski orang melihat banyak kelebihan, tapi wanita itu melihat pada satu kekurangan. Penyakitnya. Mungkin kenaifan tokoh wanitanya yang membuat saya merasa begitu dekat. Seringkali, di hadapan orang yang sangat kita sayangi dan kita harapkan menjadi pendamping, kita merasa begitu jauh dari kata pantas. Bahwa dia terlalu baik untuk disulitkan menerima kekurangan kita. Ah, paradoks wanita. Atau saya saja yang seperti ini?

Well... inilah rasa yang bangkit saat mendengar lagu ini. Enaknya, dalam lagu ini happy ending. Kalau dalam kisah saya, bagaimana ya? Semoga tidak harus jauh-jauh menjemput jodoh ke negeri cina.

"Apa yang bisa diberikan oleh perempuan sepertiku?" (Asma)

"Aku juga takut, Asma. Tapi Cinta romantis ada. Dan tidak butuh fisik yang sempurna untuk miliki kisah cinta sempurna.." (Chungwan)

Meta morfillah

Sabtu, 09 Mei 2015

[Cerita lirik] Rapuh

Belum sempat kumembagi kebahagiaanku
Belum sempat kumembuat dia tersenyum
Haruskah ku kehilangan, untuk kesekian kali
Tuhan kumohon jangan lakukan itu

Kosong. Pikirannya terasa begitu kosong. Menatap tubuh yang terbaring di hadapannya, berbalut kain putih. Rumahnya ramai, tapi ia merasa begitu sepi. Sendiri. Ia diam. Bukan diam yang tenang. Lebih kepada tak tahu harus berbuat apa. Berusaha mencerna keadaan. Lalu kesadaran datang menyergapnya. Matanya berkabut. Kerongkongannya tercekat. Susah payah ia menelan air liurnya sendiri. Satu kesimpulan ia dapatkan. Tubuh itu, tubuh yang terbaring berbalut kain putih itu... adalah tubuh seseorang yang sangat ia cintai. Satu-satunya keluarga yang ia miliki, setelah kepergian ayahnya lima belas tahun lalu. Perlahan matanya merintik. Kelebat kejadian melintas dalam pikirannya. Bagaimana ia sampai di sini, ditelepon saat sedang bekerja. Sepanjang perjalanannya tadi, ia bagai mayat berjalan. Tak sadar. Kecerdasannya hilang begitu saja saat mendengar kabar duka itu. Ibunya meninggal.

Sebab kusayang dia
Sebab kukasihi dia
Sebab kutak rela
Tak selalu bersama

Matanya hujan. Penyangkalan mulai membuatnya menggugat Tuhan. Ia merasa ini tak pantas terjadi. Tidak. Satu-satunya orang yang ia sayang, kasihi diambil kembali. Lalu... ia akan sendiri. Sendiri menghadapi dunia ini. Mengapa Tuhan begitu tega? Pikirnya.

Kurapuh tanpa dia
Seperti kehilangan arah

Dulu, saat ayahnya meninggal separuh dirinya ikut hilang. Ia yang begitu dekat dengan ayahnya, merasa kekosongan di sebagian hatinya. Lalu kini, ibunya... sempurnalah sudah. Ia merasa begitu rapuh. Bagaimana ia bisa menghadapi dunia ini sendiri? Siapa yang akan mengarahkannya? Memberinya nasehat-nasehat saat ia berlaku bodoh. Mendoakannya tanpa dipinta. Siapa?

Jikalau memang harus kualami duka
Kuatkan hati ini menerimanya

Hanya sebentar. Lalu ia teringat bahwa orang tuanya tak pernag menginginkan dia menggugat Tuhannya. Penyangkalan berangsur menjelma penerimaan. Bagaimanapun, yang pergi tetap akan pergi. Kematian itu niscaya. Dan ia bukanlah orang pertama atau satu-satunya yang pernah mengalami ini. Ditinggalkan. Meski terpaksa... satu-satunya cara adalah menerima. Berdamai dengan dirinya sendiri.

*cerita lirik rapuh - agnes monica

Meta morfillah

Rabu, 11 Maret 2015

[Cerita Lirik] Ibu

Sebening tetesan embun pagi...
Secerah sinarnya mentari...
Bila ku tatap wajahmu oh ibu...
Ada kehangatan di dalam hatiku...


Boleh setuju, boleh tidak... bila saya membuat pernyataan bahwa obat dari segala obat adalah wajah ibu yang teduh, pelukan ibu yang hangat dan menenteramkan. Terlebih bagi mereka yang terpisah jarak dengan ibunya. Bahkan kehadiran ibu saja, bisa mengali-lipatkan kekuatan dan semangatmu. Menatap wajahnya, membuat hangat hati yang resah dan menghilangkan cemas yang merona.

Air wudhu' selalu membasahimu...
Ayat suci selalu dikumandangkan...
Suaramu penuh keluh dan kesah...
Berdoa untuk putra putrinya...


Satu hal yang paling kuingat tentang ibuku adalah saat ia beribadah pada Allah. Ibu senantiasa terbasuh wudhu, dan tak henti mengumandangkan ayat suciNya. Terlebih di waktu isya dan tahajjud malam. Saat terbangun dari tidurku, sering kudapati ia berdoa dengan suara penuh keluh dan kesah. Memohon mesra pada Rabb. Bahkan pernah kudengar ia menyebut nama lengkapku binti nama ayahku, mendoakan kelancaran urusanku tanpa kupinta. Doanya, adalah untaian kasih sayang yang mewujud keberuntungan bagiku. Semakin dewasa, semakin sering kukatakan ini padanya, saat mencium mesra tangannya yang bengkok dan penuh keriput
“Ma, doain yaa..”
Meski aku tahu ia akan senantiasa mendoakanku. Itu kulakukan semata untuk menegaskan penguatan dan menumbuhkan semangatku mendengar jawabannya “Iya, Mama doain. Semoga lancar urusannya.”

Oh ibuku...
Engkaulah wanita...
Yang kucinta selama hidupku...
Maafkan anakmu bila ada salah...
Pengorbananmu tanpa balas jasa...


Pernah suatu ketika, seorang kawan berkata padaku “Kelak, saat kau jadi ibu, kau akan jauh lebih mencintai ibumu. Setelah kautahu apa yang harus dilewati seorang ibu. Ibu yang mengurusmu dengan mengharapkan kehidupanmu, sementara kau mengurusnya dengan mengharapkan kematiannya.”
Mungkin memang benar. Tapi, tak perlu menunggu menjadi ibu... saat usia bertambah, aku semakin jauh mencintai ibuku. Membayangkan di usia sekian, ibu harus bekerja sekaligus menjadi istri dan ibu. Banyak peran yang ia jalani, dan tak satu pun dalam ingatanku yang muncul tentang ibu mengeluhkan pekerjaannya. Ibu selalu tampak tak ada beban. Sesekali ia terlihat sibuk terbenam dalam tumpukan kertas. Namun bila aku mengganggu dan menyita perhatiannya, ia tak menolakku dan tak mengeluh sedang ada kerjaan. Ia hanya mengalihkan perhatianku, tanpa membuatku merasa dinomorduakan. Akhir-akhir ini, aku semakin sering menangis. Menyadari bahwa waktuku dengan ibu semakin berkurang. Sebab bertambahnya usiaku menunjukkan berkurangnya jatah kebersamaanku dengan ibu. Sementara aku bertumbuh, ibuku bertambah lemah, renta, dan tua.

Ya Allah ampuni dosanya...
Sayangilah dia seperti menyayangiku...
Berilah dia kebahagiaan...
Di dunia juga diakhirat...


Di sela tangisanku, aku hanya bisa lirih memeluknya dalam doa. Memohon pada Rabb, agar ibuku disayangiNya sebagaimana ibu menyayangiku. Agar Rabb mengampuninya dan mengizinkan aku membahagiakan ibuku dengan usahaku sendiri. Mewujudkan kebahagiaannya di dunia dan akhirat, dengan beragam prestasi dan tetap menjaga akhlak. Berharap semoga di akhirat kami diperkenankan bersama kembali. Betapa kematian adalah niscaya, yang begitu menohok kesadaran tentang diri yang tak ada artinya.

*cerita lirik lagu Ibu - Sakha
Meta morfillah

Sabtu, 24 Januari 2015

[Cerita Lirik] Selamanya cinta

Dikala hati resah
Seribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalaulah ku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh

Friendzone. Ya, itu istilah baru yang kerap kudengar. Suatu hubungan pertemanan yang lebih dari sekadar teman, tapi tak serius seperti kekasih. Keduanya saling menyimpan rasa, namun berlindung di balik nama "teman". Kautahu, itu menyebalkan! Membesarkan sayap pengharapanmu akan suatu hubungan yang hanya ilusi. Dan aku sedang mengalaminya sekarang...

**

"Bisakah kaujelaskan padaku mengenai hubungan kita?"
Aku menguncimu dalam tatapanku. Ada sedikit kerut di bibir kanan atasmu, menandakan kau sedang merasa bingung atas pertanyaanku seakan berkata "Pertanyaan macam apa ini?". Aku menegaskan pertanyaanku dengan menatap tajam ke matamu dan menelengkan kepalaku ke kanan seakan berkata "Ayo jawab, aku serius!"

"Teman."

Jawaban salah.

"Tidak seperti ini kau memperlakukan teman."

"Sahabat," kau masih berusaha menjawab.

"Tidak ada sahabat yang rajin mengingatkan makan, memanggil sayang, mengucapkan 'aku sayang kamu' hampir tiap hari, memeluk, mengajak nonton, dan lebih sering menghabiskan waktu dengannya dibanding pacarnya sendiri."

Kita terdiam.

"Yang kutahu, aku nyaman denganmu. Tak bolehkah?"

"Nyaman seperti apa?"

"Entahlah, aku tak bisa menjelaskannya. Lagipula hal ini tak penting. Sudahlah, kita makan saja."

Kaumulai memakan pancake durian di hadapanmu.

"Ini penting buatku. Aku merasa ada yang salah dalam pertemanan kita. Aku butuh kepastian."

Kaudiam saja. Pembicaraan hari ini telah selesai. Selalu begitu. Mengikuti maumu.

Tapi tidak bagiku. Ada hal-hal yang tak akan pernah selesai. Ingin sekali kutahu apa yang sedang kaupikirkan. Ingin sekali kutahu, apa kautahu tentang rindu? Tentang rasa nyaman, aman dan pasti. Kurasa, kautak akan pernah tahu. Semua ini hanya tentang kesenanganmu.

Biar awan pun gelisah
Daun-daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku

Tapi, cinta memang membutakan dua insan yang sedang dimabuknya. Terutama aku. Aku masih saja percaya sebuah keajaiban bahwa kauakan mengerti. Paham. Suatu hari nanti. Dengan ilusi itu, aku merasa hariku akan selalu cerah, asalkan bersamamu. Di hatiku, hanya ada musim panas dan musim semi. Aku telah lupa rasa dinginnya musim dingin dan sedihnya musim gugur.

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya selamanya...
Tuhan jalinkanlah cinta
Bersama selamanya...

Kubiarkan hubungan kita sebagaimana biasanya, tanpa ada yang terungkapkan. Membodohi diriku, bahkan meminta pada tuhan untuk menjalinkan hatimu dan hatiku. Bodohnya aku, mengimanimu sebagai cintaku selamanya. Sementara, kauterus berlanjut dengan kekasihmu yang kaukeluhkan tapi tak kautinggalkan. Meski lebih banyak waktumu yang kauhabiskan denganku, yang hanya "teman"mu. Hingga sebuah kenyataan menyadarkanku, bahwa kita adalah ilusi. Hanya dengan sebuah kertas, undangan pernikahanmu. Undangan hujan yang kaukirimkan untukku. Hujan deras dari kedua bola mataku.

*cerita lirik selamanya cinta - d'cinnamons, dan inspirasi dari film 500 days of summer

Meta morfillah

Kamis, 22 Januari 2015

[Cerita Lirik] Lapang Dada



Apa yang salah dengan lagu ini
Kenapa kembali kumengingatmu
Seperti aku bisa merasakan
Getaran jantung dan langkah kakimu

Padahal aku telah melipat segala hal tentangmu dan kuletakkan dalam sebuah kotak, yang kupojokkan di ruang hatiku. Bahkan sebuah lagu yang baru kudengar ini, terasa begitu salah. Salah karena memantik ingatanku tentangmu. Begitu mudahnya semua kenangan itu menguar dan memenuhi kepala hingga udara yang kuhirup. Seperti aku bisa merasakan getaran jantung hingga langkah kakimu lagi.

Di jalan yang setapak kecil ini
Seperti kumendengar kau bernyanyi
Kau harus bisa
Bisa berlapang dada
Kau harus bisa
Bisa ambil hikmahnya
Karena semua
Semua tak lagi sama
Walau kautahu dia pun merasakannya

Di sini aku seperti mendengar nyanyianmu yang menguatkanku. Persis seperti yang biasa kaulakukan dahulu, saat kuterpuruk. Menyuruhku berlapang dada dan mengambil hikmahnya. Menasihatiku tentang perubahan, bahwa semua tak akan lagi sama. Bahkan kamu suka menceritakan kegagalan perasaanmu. Tentang dia, yang sebenarnya juga merasakan apa yang kaurasakan. Namun, memang kalian tak berjodoh. Dahulu aku hanya terpaku mendengar kisahmu.

Ke mana ini akan membawaku
Aku takkan pernah tahu

Sejauh ini aku berjalan, aku tak tahu ke mana jalan ini akan membawaku. Aku tak pernah tahu. Yang kutahu, aku harus terus berjalan dan tak menengok ke belakang. Yaa, aku tak menengok. Tapi sekali ini saja, aku membiarkan diriku larut dalam kenangan tentangmu. Sebelum aku membuangnya jauh sekali. Mencoba tegar dan berlapang dada. Entah sampai kapan akan begini terus.

*Cerita Lirik Lapang Dada - Sheila on 7
Meta morfillah

Selasa, 20 Januari 2015

Cinta datang terlambat

Tak kumengerti mengapa begini
Waktu dulu kutak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kaujauh dariku
Pergi tinggalkanku

"Bodoh!"
Lili memaki dirinya. Ia menatap ponselnya yang memampang fotonya berdua dengan Raja. Menyadari kebodohan atas ketakpekaan hatinya. Mengapa baru sekarang?
Ke mana saja ia selama ini?
Saat Raja pergi karena mutasi pekerjaan ke Pangkalan Bun, Lili baru sadar bahwa ia suka, tepatnya jatuh cinta pada Raja. Mungkin benar ungkapan bahwa butuh kehilangan untuk menyadari seberapa besar kita menyayangi seseorang. Dulu, saat Raja masih di Jakarta, setia menemaninya menghabiskan waktu, Lili tak pernah merindunya. Sebab hampir setiap hari, Raja selalu menyempatkan diri mengajaknya jalan dan mengantarnya pulang. Yaa... Raja adalah sahabat baiknya.

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa kini cinta datang terlambat

Memang pernah Raja menanyakan kemungkinan untuk hubungan mereka, apakah bisa lebih dari sekadar sahabat. Tapi dulu, Lili selalu menampiknya. Bahwa persahabatan adalah hal terbaik yang bisa mereka miliki. Lili begitu naif dan tak menyetujui hubungan kekasih yang bermula dari persahabatan. Lili merasa yakin, bahwa ia mampu menyanggah ungkapan yang bilang bahwa tidak ada persahabatan yang awet antara lelaki dan wanita, karena semuanya akan berujung menjadi kekasih. Lili ingin membuktikan bahwa itu salah. Namun kini, Lili menyadari bahwa dialah yang salah. Dia mengingkari kata hatinya, bahwa sesungguhnya perlahan rasa cinta tumbuh di antara intensitas persahabatannya dengan Raja.

Lalu bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Haruskah Lili mengakui perasaannya pada Raja? Tapi Lili terlalu malu. Dia lebih memilih menutupinya dan terus memaki dirinya saat dia rindu pada Raja, sembari memandangi foto mereka berdua di ponselnya. Bagi Lili, cinta datang terlambat.

*cerita lirik cinta datang terlambat - maudy ayunda

Meta morfillah