Kamis, 22 Januari 2015

[Cerita Lirik] Lapang Dada



Apa yang salah dengan lagu ini
Kenapa kembali kumengingatmu
Seperti aku bisa merasakan
Getaran jantung dan langkah kakimu

Padahal aku telah melipat segala hal tentangmu dan kuletakkan dalam sebuah kotak, yang kupojokkan di ruang hatiku. Bahkan sebuah lagu yang baru kudengar ini, terasa begitu salah. Salah karena memantik ingatanku tentangmu. Begitu mudahnya semua kenangan itu menguar dan memenuhi kepala hingga udara yang kuhirup. Seperti aku bisa merasakan getaran jantung hingga langkah kakimu lagi.

Di jalan yang setapak kecil ini
Seperti kumendengar kau bernyanyi
Kau harus bisa
Bisa berlapang dada
Kau harus bisa
Bisa ambil hikmahnya
Karena semua
Semua tak lagi sama
Walau kautahu dia pun merasakannya

Di sini aku seperti mendengar nyanyianmu yang menguatkanku. Persis seperti yang biasa kaulakukan dahulu, saat kuterpuruk. Menyuruhku berlapang dada dan mengambil hikmahnya. Menasihatiku tentang perubahan, bahwa semua tak akan lagi sama. Bahkan kamu suka menceritakan kegagalan perasaanmu. Tentang dia, yang sebenarnya juga merasakan apa yang kaurasakan. Namun, memang kalian tak berjodoh. Dahulu aku hanya terpaku mendengar kisahmu.

Ke mana ini akan membawaku
Aku takkan pernah tahu

Sejauh ini aku berjalan, aku tak tahu ke mana jalan ini akan membawaku. Aku tak pernah tahu. Yang kutahu, aku harus terus berjalan dan tak menengok ke belakang. Yaa, aku tak menengok. Tapi sekali ini saja, aku membiarkan diriku larut dalam kenangan tentangmu. Sebelum aku membuangnya jauh sekali. Mencoba tegar dan berlapang dada. Entah sampai kapan akan begini terus.

*Cerita Lirik Lapang Dada - Sheila on 7
Meta morfillah

Rabu, 21 Januari 2015

Mengapa resign?

Banyak yang bertanya, mengapa saya resign?
Banyak pula yang menilai bahwa keputusan saya (resign) adalah keputusan emosional, tak masuk akal, sebab saya memang belum memiliki pekerjaan pengganti.
Semua berpikir bahwa saya hanya ikut resign karena supervisor saya juga resign.
Saya tak peduli dengan semua anggapan itu. Terserah lah orang lain mau bilang apa. Tapi saya tahu keputusan terbaik untuk hati dan kehidupan saya. Mereka tak perlu tahu seberapa dalam luka yang saya dapat.

Saya menuliskan tulisan ini, semata karena saya ingin melepaskan segala beban di kepala saya yang membelukar tentang pekerjaan saat ini. Serta beragam pembelajaran yang saya dapatkan setelah beberapa waktu saya renungkan. Pelajaran berharga dari semua hal yang saya lalui adalah,

MEMILIH PEKERJAAN SAMA DENGAN MEMILIH JODOH. JIKA SALAH, KAMU TAK AKAN BAHAGIA BERLARUT-LARUT. JIKA BENAR, BUATLAH KOMITMEN DAN PERTAHANKAN MESKI KAMU HARUS BERDARAH-DARAH.

Ya, saya sudah lelah dengan mencari-cari pekerjaan, meninggalkan rekan kerja, apalagi ditinggalkan. Divisi saya adalah divisi yang paling tinggi turn overnya. Dalam dua tahun, saya mengalami lima kali kehilangan rekan satu divisi. Apakah mudah? Tentu tidak. Semua berpengaruh baik secara profesional mau pun personal. Untuk load pekerjaan, saya masih bisa handle. Tapi dampak psikis, emosional saya, tidak. Saya belum setangguh itu. Setiap kehilangan membuat saya semakin takut untuk membuka diri dan kata-kata saya semakin tajam. Dan menyedihkannya, di saat saya mencoba mempertahankan dan menguatkan diri saya, leader saya yang sudah saya anggap bapak saya di kantor menyangsikan. Beliau menggeneralisir bahwa untuk generasi Y (gen Y), seperti saya memang tidak akan bertahan lama. Beliau justru meramal bahwa saya juga tak lama lagi akan resign. Dia memperkirakan bahwa usia saya di kantor itu tak akan lebih dari tiga tahun seperti rekan-rekan saya sebelumnya. Mendengar penilaian dan kejujuran hatinya seperti ini, ternyata jauh lebih sakit dibandingkan luka yang saya terima karena tidak jadi menikah. Pelajaran berharga lainnya yang saya dapatkan adalah,

HATI-HATI MENILAI ORANG, JANGAN TERLALU MENGGENERALISIR. PENGAKUAN BAHWA KAMU DIRAGUKAN ATAU TAK MEYAKINKAN DAPAT MELEMAHKANMU SELEMAH-LEMAHNYA.

Analoginya, pekerjaan itu benar-benar seperti jodoh. Saya jatuh hati dengan kantor saya saat ini, meski awalnya tidak. Tapi setelah beberapa waktu, saya mencoba mencintai pekerjaannya (meski menurut leader saya, ini bukan passion saya. Tapi ketahuilah, passion saya pribadi adalah berbagi. Bukan ambisi mengejar jenjang karir atau pun gaji) dan orang-orang di dalamnya. Lalu, saya bertanya kemungkinan saya untuk ‘menikah’ dengan kantor saya. Saya ingin menghabiskan waktu saya hingga menua atau hingga tak lagi diizinkan oleh wali saya untuk bekerja, di kantor ini. Namun, kantor saya meragukan saya. Dia tak yakin pada saya. Saat saya meminta komitmen, dia malah berkata bahwa saya tak akan lama lagi juga akan meninggalkannya. Sebagai orang dengan logika normal, saya tak menggunakan perasaan saya saat mendengar pengakuannya. Saya hanya berpikir bahwa saya harus pergi meninggalkan dia secepatnya. Toh, bagi dia sama saja, kapan pun saya pergi, hasilnya ya tetap saya akan pergi. Untuk apa saya bertahan dan menunda-nunda? Meski hati saya sakit, kecewa, sedih, dan berat untuk meninggalkannya karena saya masih sayang, tetaplah tercetus sebuah surat pengunduran diri.

Bagi yang tak paham, memang terkesan emosional sekali. Saya seperti tak memikirkan cash flow hidup saya, cicilan motor, listrik, air, pulsa, dan lain sebagainya. Otomatis saya jadi pengangguran. Sebab, saya memang belum mencari pekerjaan pengganti. Tapi bagi saya tidak. Saya sudah mengadukan kekecewaan hati saya pada Tuhan yang menciptakan saya. Saya mengadu tentang kemiskinan saya dalam segi materi duniawi pada Tuhan saya yang maha kaya. Saya hanya berpikir satu hal. Bahwa saya harus terus bergerak demi memberi makan tiga mulut esok hari. Dan dalam kebodohan saya di mata manusia lainnya, saya hanya percaya bahwa saya akan memberikan seluruh hal yang bisa saya berikan untuk kontribusi bagi kebaikan, lalu saya akan menerima hasilnya dengan baik pula. Mungkin secara finansial, saya jatuh. Tapi saya masih sehat, punya waktu, tenaga, gagasan, dan kemauan. Saya hanya percaya jika ingin mendapat banyak, saya harus memberi banyak. Hukum give and take. Semua dimulai dari memberi dahulu, baru mendapat. Bukan seperti selama ini, take and give. Saya sedang belajar mengeja keikhlasan, keyakinan, kreativitas dan kedermawanan tanpa pamrih. Mengingat kembali masa-masa saya pernah susah, setelah cukup merasakan agak enak. Yaa… hidup bagaikan roda, berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Hidup tak pernah menjanjikan kemudahan, tapi dia selalu menjanjikan kekayaan hati dari berbagai pembelajaran yang dapat dipetik, bila kita mau berpikir. Dan saya bersyukur untuk itu. Atas kekayaan hati dan rasa yang diberikan oleh kehidupan.

Meta morfillah

Selasa, 20 Januari 2015

Cinta datang terlambat

Tak kumengerti mengapa begini
Waktu dulu kutak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kaujauh dariku
Pergi tinggalkanku

"Bodoh!"
Lili memaki dirinya. Ia menatap ponselnya yang memampang fotonya berdua dengan Raja. Menyadari kebodohan atas ketakpekaan hatinya. Mengapa baru sekarang?
Ke mana saja ia selama ini?
Saat Raja pergi karena mutasi pekerjaan ke Pangkalan Bun, Lili baru sadar bahwa ia suka, tepatnya jatuh cinta pada Raja. Mungkin benar ungkapan bahwa butuh kehilangan untuk menyadari seberapa besar kita menyayangi seseorang. Dulu, saat Raja masih di Jakarta, setia menemaninya menghabiskan waktu, Lili tak pernah merindunya. Sebab hampir setiap hari, Raja selalu menyempatkan diri mengajaknya jalan dan mengantarnya pulang. Yaa... Raja adalah sahabat baiknya.

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa kini cinta datang terlambat

Memang pernah Raja menanyakan kemungkinan untuk hubungan mereka, apakah bisa lebih dari sekadar sahabat. Tapi dulu, Lili selalu menampiknya. Bahwa persahabatan adalah hal terbaik yang bisa mereka miliki. Lili begitu naif dan tak menyetujui hubungan kekasih yang bermula dari persahabatan. Lili merasa yakin, bahwa ia mampu menyanggah ungkapan yang bilang bahwa tidak ada persahabatan yang awet antara lelaki dan wanita, karena semuanya akan berujung menjadi kekasih. Lili ingin membuktikan bahwa itu salah. Namun kini, Lili menyadari bahwa dialah yang salah. Dia mengingkari kata hatinya, bahwa sesungguhnya perlahan rasa cinta tumbuh di antara intensitas persahabatannya dengan Raja.

Lalu bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Haruskah Lili mengakui perasaannya pada Raja? Tapi Lili terlalu malu. Dia lebih memilih menutupinya dan terus memaki dirinya saat dia rindu pada Raja, sembari memandangi foto mereka berdua di ponselnya. Bagi Lili, cinta datang terlambat.

*cerita lirik cinta datang terlambat - maudy ayunda

Meta morfillah

Minggu, 18 Januari 2015

Cerita Farewell Kak Bedul (Bubarnya kerajaan R&D)

Hai Kak Bedul,

Jalan-jalan yuuuk…

Aku punya tempat asyik buat dikunjungi! Saat kamu membuka pintunya, kamu akan tertarik dan hidupmu akan jadi bagian darinya. Pun dia, akan jadi bagian dalam hidupmu. Bisa jadi porsi besar dalam hidupmu.

Mari… kita masuk ke dalamnya!

Akan kuceritakan sebuah dongeng…


Dulu, di tempat ini ada sebuah kerajaan bernama Research & Development. Kerajaan itu dipimpin oleh empat kakak beradik. Kakak pertama, wanita bernama Lili, memimpin bagian timur yang cerah tersirami cahaya matahari terbit. Kakak kedua, wanita bernama Oche, memimpin bagian barat yang sejuk bermandikan cahaya matahari terbenam. Kakak ketiga, satu-satunya lelaki bernama Bedul, memimpin bagian utara yang dingin dan penuh misteri. Terakhir, adik bungsu bernama Meta, memimpin bagian selatan yang walau pun ada kehidupan, tapi jarang yang mau mendatangi.



Kehidupan di kerajaan itu begitu aman, damai, dan tenteram. Meski ada beberapa masalah yang menghadang, kerajaan itu bisa melaluinya dengan baik karena banyak penasihat dan teman-teman kerajaan yang mendukungnya.




Hingga sebuah keputusan besar datang dari kakak pertama di bulan kesembilan tahun dua ribu tiga belas. Kakak pertama harus meninggalkan kerajaan, demi ekspansi ke timur dalam. Kemungkinan untuk kembali ke kerajaan begitu tipis. Ketiga saudaranya merasa sedih, namun tak kuasa menolak takdir. Sebelum pergi meninggalkan kerajaan, kakak pertama pun mengubah dirinya menjadi wanita dewasa yang utuh. Kakak pertama menggunakan hijab untuk melindunginya dari ancaman di luar kerajaan. 



Sebuah foto diabadikan bersama penasihat kesayangan mereka, bernama Mba Yani (tapi fotonya error di blog ini).


Kehidupan di kerajaan pun berlanjut, meski agak tergoncang karena tidak ada lagi yang memimpin bagian timur. Tiga saudara yang tersisa harus mulai memback-up apa yang ditinggalkan kakak pertama. Belum pulih luka mereka, sebuah ujian kembali hadir. Kakak kedua memutuskan meninggalkan kerajaan, dua bulan berselang dari kepergian kakak pertama. Lagi-lagi, ekspansi kerajaan menjadi alasannya. Dua saudara yang tersisa, hanya merayakan kepergiannya dalam diam. Mereka berdua sama-sama dingin dan tak tahu bagaimana menyikapi kepergian. Perlahan, aura kerajaan terpengaruh dinginnya aura pemimpin utara dan selatan. Raja Bunaiya melihat perlu ada pengganti untuk wilayah timur dan barat. Sehingga masuklah beberapa orang baru, yang tidak terlalu mampu memenangkan hati dua saudara yang tersisa. Raja Bunaiya pun mengajak dua saudara yang tersisa untuk rekreasi ke Pantai Anyer.











Rekreasi itu cukup menghibur dua bersaudara yang tersisa. Saat kembali ke rutinitas, mereka sudah mampu bersikap seperti biasa. Walau mungkin keduanya menyembunyikan rasa kehilangan, namun itu tak tampak, karena sikap dinginnya mereka.

Nyatanya, kepergian kedua saudaranya mempengaruhi dua saudara yang tersisa. Terutama pada si bungsu, pemimpin selatan. Suasana hatinya seringkali berubah cepat seperti cuaca. Dan itu berakibat pada hubungannya dengan kakak ketiga. Bungsu yang manja itu, tak leluasa mengganggu kakak lelaki satu-satunya. Ia sedih, kehilangan teman bicaranya. Sebab, tak semua hal bisa ia diskusikan pada kakak lelakinya tersebut. Ia mulai memendam masalah yang ia hadapi sendirian. Hubungan mereka pun sempat tak baik beberapa minggu. Saling asyik sendiri. Tapi, tak semua penghuni kerajaan tahu. Saat bersama, mereka terlihat baik-baik saja.




Hubungan mereka mulai baik kembali, setelah ada pertemuan khusus yang dirancang dengan mengundang kembali kakak pertama dan kedua. Bungsu mulai belajar melepaskan dan tak mengharapkan kembali kedua kakaknya tersebut. Ia berjanji dalam hati, bahwa akan mandiri, tidak manja, dan dapat diandalkan bagi kakak lelaki satu-satunya.




Beragam ujian mulai menguji kekompakan dua bersaudara yang tersisa. Satu per satu, mereka mampu lalui, meski ada beberapa hal yang tak terselesaikan dan mungkin memang tidak akan pernah selesai. Namun, selagi ada kakaknya, bungsu merasa semua bisa terlewati. Kadang, kehadiran atau sekadar ada, tanpa perlu melakukan apa-apa, adalah sebuah dukungan yang amat berarti dan besar untuk seseorang. Begitulah, kerajaan menghadapi hari-harinya.

Mereka menghibur diri dengan jalan-jalan…




 Melakukan hal konyol…




Sampai mengekspresikan kegilaan mereka yang mulai jenuh dan kesepian…

Saat kekompakan mulai terjalin, nyatanya Tuhan menakdirkan lain. Kakak ketiga pun harus pergi meninggalkan kerajaan, yang lagi-lagi alasannya demi ekspansi. Bungsu yang sudah mengalami dua kehilangan, kini tak bisa lagi tinggal diam. Saat kakak lelakinya pergi, ia pun memutuskan untuk pergi juga dari kerajaan.







Mungkin, kamu bertanya-tanya… lantas bagaimana akhir dongeng ini? Apakah akan berakhir bahagia, ataukah sengsara? Haha… sayangnya, aku pun tak tahu. Sebab, dongeng ini masih berjalan, dan dituliskan melalui jejak-jejak hari ini.

Dari rangkaian itu…

Aku hanya ingin mengucapkan, “Selamat menempuh hidup baru, Kak Bedul. Terima Kasih telah menjadi partner kerja yang baik, bersabar dan mengalah pada adik kecil yang manja, penuntut, dan banyak maunya ini.”

Sengaja tak kuisi semua halaman album ini, silakan dilanjutkan ceritanya… sekreatifmu.
So, I don’t wanna say “Good bye”…  I prefer to say, “See you again…”


Sincerely yours,
Meta morfillah