Rabu, 21 Januari 2015

Mengapa resign?

Banyak yang bertanya, mengapa saya resign?
Banyak pula yang menilai bahwa keputusan saya (resign) adalah keputusan emosional, tak masuk akal, sebab saya memang belum memiliki pekerjaan pengganti.
Semua berpikir bahwa saya hanya ikut resign karena supervisor saya juga resign.
Saya tak peduli dengan semua anggapan itu. Terserah lah orang lain mau bilang apa. Tapi saya tahu keputusan terbaik untuk hati dan kehidupan saya. Mereka tak perlu tahu seberapa dalam luka yang saya dapat.

Saya menuliskan tulisan ini, semata karena saya ingin melepaskan segala beban di kepala saya yang membelukar tentang pekerjaan saat ini. Serta beragam pembelajaran yang saya dapatkan setelah beberapa waktu saya renungkan. Pelajaran berharga dari semua hal yang saya lalui adalah,

MEMILIH PEKERJAAN SAMA DENGAN MEMILIH JODOH. JIKA SALAH, KAMU TAK AKAN BAHAGIA BERLARUT-LARUT. JIKA BENAR, BUATLAH KOMITMEN DAN PERTAHANKAN MESKI KAMU HARUS BERDARAH-DARAH.

Ya, saya sudah lelah dengan mencari-cari pekerjaan, meninggalkan rekan kerja, apalagi ditinggalkan. Divisi saya adalah divisi yang paling tinggi turn overnya. Dalam dua tahun, saya mengalami lima kali kehilangan rekan satu divisi. Apakah mudah? Tentu tidak. Semua berpengaruh baik secara profesional mau pun personal. Untuk load pekerjaan, saya masih bisa handle. Tapi dampak psikis, emosional saya, tidak. Saya belum setangguh itu. Setiap kehilangan membuat saya semakin takut untuk membuka diri dan kata-kata saya semakin tajam. Dan menyedihkannya, di saat saya mencoba mempertahankan dan menguatkan diri saya, leader saya yang sudah saya anggap bapak saya di kantor menyangsikan. Beliau menggeneralisir bahwa untuk generasi Y (gen Y), seperti saya memang tidak akan bertahan lama. Beliau justru meramal bahwa saya juga tak lama lagi akan resign. Dia memperkirakan bahwa usia saya di kantor itu tak akan lebih dari tiga tahun seperti rekan-rekan saya sebelumnya. Mendengar penilaian dan kejujuran hatinya seperti ini, ternyata jauh lebih sakit dibandingkan luka yang saya terima karena tidak jadi menikah. Pelajaran berharga lainnya yang saya dapatkan adalah,

HATI-HATI MENILAI ORANG, JANGAN TERLALU MENGGENERALISIR. PENGAKUAN BAHWA KAMU DIRAGUKAN ATAU TAK MEYAKINKAN DAPAT MELEMAHKANMU SELEMAH-LEMAHNYA.

Analoginya, pekerjaan itu benar-benar seperti jodoh. Saya jatuh hati dengan kantor saya saat ini, meski awalnya tidak. Tapi setelah beberapa waktu, saya mencoba mencintai pekerjaannya (meski menurut leader saya, ini bukan passion saya. Tapi ketahuilah, passion saya pribadi adalah berbagi. Bukan ambisi mengejar jenjang karir atau pun gaji) dan orang-orang di dalamnya. Lalu, saya bertanya kemungkinan saya untuk ‘menikah’ dengan kantor saya. Saya ingin menghabiskan waktu saya hingga menua atau hingga tak lagi diizinkan oleh wali saya untuk bekerja, di kantor ini. Namun, kantor saya meragukan saya. Dia tak yakin pada saya. Saat saya meminta komitmen, dia malah berkata bahwa saya tak akan lama lagi juga akan meninggalkannya. Sebagai orang dengan logika normal, saya tak menggunakan perasaan saya saat mendengar pengakuannya. Saya hanya berpikir bahwa saya harus pergi meninggalkan dia secepatnya. Toh, bagi dia sama saja, kapan pun saya pergi, hasilnya ya tetap saya akan pergi. Untuk apa saya bertahan dan menunda-nunda? Meski hati saya sakit, kecewa, sedih, dan berat untuk meninggalkannya karena saya masih sayang, tetaplah tercetus sebuah surat pengunduran diri.

Bagi yang tak paham, memang terkesan emosional sekali. Saya seperti tak memikirkan cash flow hidup saya, cicilan motor, listrik, air, pulsa, dan lain sebagainya. Otomatis saya jadi pengangguran. Sebab, saya memang belum mencari pekerjaan pengganti. Tapi bagi saya tidak. Saya sudah mengadukan kekecewaan hati saya pada Tuhan yang menciptakan saya. Saya mengadu tentang kemiskinan saya dalam segi materi duniawi pada Tuhan saya yang maha kaya. Saya hanya berpikir satu hal. Bahwa saya harus terus bergerak demi memberi makan tiga mulut esok hari. Dan dalam kebodohan saya di mata manusia lainnya, saya hanya percaya bahwa saya akan memberikan seluruh hal yang bisa saya berikan untuk kontribusi bagi kebaikan, lalu saya akan menerima hasilnya dengan baik pula. Mungkin secara finansial, saya jatuh. Tapi saya masih sehat, punya waktu, tenaga, gagasan, dan kemauan. Saya hanya percaya jika ingin mendapat banyak, saya harus memberi banyak. Hukum give and take. Semua dimulai dari memberi dahulu, baru mendapat. Bukan seperti selama ini, take and give. Saya sedang belajar mengeja keikhlasan, keyakinan, kreativitas dan kedermawanan tanpa pamrih. Mengingat kembali masa-masa saya pernah susah, setelah cukup merasakan agak enak. Yaa… hidup bagaikan roda, berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Hidup tak pernah menjanjikan kemudahan, tapi dia selalu menjanjikan kekayaan hati dari berbagai pembelajaran yang dapat dipetik, bila kita mau berpikir. Dan saya bersyukur untuk itu. Atas kekayaan hati dan rasa yang diberikan oleh kehidupan.

Meta morfillah

Selasa, 20 Januari 2015

Cinta datang terlambat

Tak kumengerti mengapa begini
Waktu dulu kutak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kaujauh dariku
Pergi tinggalkanku

"Bodoh!"
Lili memaki dirinya. Ia menatap ponselnya yang memampang fotonya berdua dengan Raja. Menyadari kebodohan atas ketakpekaan hatinya. Mengapa baru sekarang?
Ke mana saja ia selama ini?
Saat Raja pergi karena mutasi pekerjaan ke Pangkalan Bun, Lili baru sadar bahwa ia suka, tepatnya jatuh cinta pada Raja. Mungkin benar ungkapan bahwa butuh kehilangan untuk menyadari seberapa besar kita menyayangi seseorang. Dulu, saat Raja masih di Jakarta, setia menemaninya menghabiskan waktu, Lili tak pernah merindunya. Sebab hampir setiap hari, Raja selalu menyempatkan diri mengajaknya jalan dan mengantarnya pulang. Yaa... Raja adalah sahabat baiknya.

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa kini cinta datang terlambat

Memang pernah Raja menanyakan kemungkinan untuk hubungan mereka, apakah bisa lebih dari sekadar sahabat. Tapi dulu, Lili selalu menampiknya. Bahwa persahabatan adalah hal terbaik yang bisa mereka miliki. Lili begitu naif dan tak menyetujui hubungan kekasih yang bermula dari persahabatan. Lili merasa yakin, bahwa ia mampu menyanggah ungkapan yang bilang bahwa tidak ada persahabatan yang awet antara lelaki dan wanita, karena semuanya akan berujung menjadi kekasih. Lili ingin membuktikan bahwa itu salah. Namun kini, Lili menyadari bahwa dialah yang salah. Dia mengingkari kata hatinya, bahwa sesungguhnya perlahan rasa cinta tumbuh di antara intensitas persahabatannya dengan Raja.

Lalu bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Haruskah Lili mengakui perasaannya pada Raja? Tapi Lili terlalu malu. Dia lebih memilih menutupinya dan terus memaki dirinya saat dia rindu pada Raja, sembari memandangi foto mereka berdua di ponselnya. Bagi Lili, cinta datang terlambat.

*cerita lirik cinta datang terlambat - maudy ayunda

Meta morfillah

Minggu, 18 Januari 2015

Cerita Farewell Kak Bedul (Bubarnya kerajaan R&D)

Hai Kak Bedul,

Jalan-jalan yuuuk…

Aku punya tempat asyik buat dikunjungi! Saat kamu membuka pintunya, kamu akan tertarik dan hidupmu akan jadi bagian darinya. Pun dia, akan jadi bagian dalam hidupmu. Bisa jadi porsi besar dalam hidupmu.

Mari… kita masuk ke dalamnya!

Akan kuceritakan sebuah dongeng…


Dulu, di tempat ini ada sebuah kerajaan bernama Research & Development. Kerajaan itu dipimpin oleh empat kakak beradik. Kakak pertama, wanita bernama Lili, memimpin bagian timur yang cerah tersirami cahaya matahari terbit. Kakak kedua, wanita bernama Oche, memimpin bagian barat yang sejuk bermandikan cahaya matahari terbenam. Kakak ketiga, satu-satunya lelaki bernama Bedul, memimpin bagian utara yang dingin dan penuh misteri. Terakhir, adik bungsu bernama Meta, memimpin bagian selatan yang walau pun ada kehidupan, tapi jarang yang mau mendatangi.



Kehidupan di kerajaan itu begitu aman, damai, dan tenteram. Meski ada beberapa masalah yang menghadang, kerajaan itu bisa melaluinya dengan baik karena banyak penasihat dan teman-teman kerajaan yang mendukungnya.




Hingga sebuah keputusan besar datang dari kakak pertama di bulan kesembilan tahun dua ribu tiga belas. Kakak pertama harus meninggalkan kerajaan, demi ekspansi ke timur dalam. Kemungkinan untuk kembali ke kerajaan begitu tipis. Ketiga saudaranya merasa sedih, namun tak kuasa menolak takdir. Sebelum pergi meninggalkan kerajaan, kakak pertama pun mengubah dirinya menjadi wanita dewasa yang utuh. Kakak pertama menggunakan hijab untuk melindunginya dari ancaman di luar kerajaan. 



Sebuah foto diabadikan bersama penasihat kesayangan mereka, bernama Mba Yani (tapi fotonya error di blog ini).


Kehidupan di kerajaan pun berlanjut, meski agak tergoncang karena tidak ada lagi yang memimpin bagian timur. Tiga saudara yang tersisa harus mulai memback-up apa yang ditinggalkan kakak pertama. Belum pulih luka mereka, sebuah ujian kembali hadir. Kakak kedua memutuskan meninggalkan kerajaan, dua bulan berselang dari kepergian kakak pertama. Lagi-lagi, ekspansi kerajaan menjadi alasannya. Dua saudara yang tersisa, hanya merayakan kepergiannya dalam diam. Mereka berdua sama-sama dingin dan tak tahu bagaimana menyikapi kepergian. Perlahan, aura kerajaan terpengaruh dinginnya aura pemimpin utara dan selatan. Raja Bunaiya melihat perlu ada pengganti untuk wilayah timur dan barat. Sehingga masuklah beberapa orang baru, yang tidak terlalu mampu memenangkan hati dua saudara yang tersisa. Raja Bunaiya pun mengajak dua saudara yang tersisa untuk rekreasi ke Pantai Anyer.











Rekreasi itu cukup menghibur dua bersaudara yang tersisa. Saat kembali ke rutinitas, mereka sudah mampu bersikap seperti biasa. Walau mungkin keduanya menyembunyikan rasa kehilangan, namun itu tak tampak, karena sikap dinginnya mereka.

Nyatanya, kepergian kedua saudaranya mempengaruhi dua saudara yang tersisa. Terutama pada si bungsu, pemimpin selatan. Suasana hatinya seringkali berubah cepat seperti cuaca. Dan itu berakibat pada hubungannya dengan kakak ketiga. Bungsu yang manja itu, tak leluasa mengganggu kakak lelaki satu-satunya. Ia sedih, kehilangan teman bicaranya. Sebab, tak semua hal bisa ia diskusikan pada kakak lelakinya tersebut. Ia mulai memendam masalah yang ia hadapi sendirian. Hubungan mereka pun sempat tak baik beberapa minggu. Saling asyik sendiri. Tapi, tak semua penghuni kerajaan tahu. Saat bersama, mereka terlihat baik-baik saja.




Hubungan mereka mulai baik kembali, setelah ada pertemuan khusus yang dirancang dengan mengundang kembali kakak pertama dan kedua. Bungsu mulai belajar melepaskan dan tak mengharapkan kembali kedua kakaknya tersebut. Ia berjanji dalam hati, bahwa akan mandiri, tidak manja, dan dapat diandalkan bagi kakak lelaki satu-satunya.




Beragam ujian mulai menguji kekompakan dua bersaudara yang tersisa. Satu per satu, mereka mampu lalui, meski ada beberapa hal yang tak terselesaikan dan mungkin memang tidak akan pernah selesai. Namun, selagi ada kakaknya, bungsu merasa semua bisa terlewati. Kadang, kehadiran atau sekadar ada, tanpa perlu melakukan apa-apa, adalah sebuah dukungan yang amat berarti dan besar untuk seseorang. Begitulah, kerajaan menghadapi hari-harinya.

Mereka menghibur diri dengan jalan-jalan…




 Melakukan hal konyol…




Sampai mengekspresikan kegilaan mereka yang mulai jenuh dan kesepian…

Saat kekompakan mulai terjalin, nyatanya Tuhan menakdirkan lain. Kakak ketiga pun harus pergi meninggalkan kerajaan, yang lagi-lagi alasannya demi ekspansi. Bungsu yang sudah mengalami dua kehilangan, kini tak bisa lagi tinggal diam. Saat kakak lelakinya pergi, ia pun memutuskan untuk pergi juga dari kerajaan.







Mungkin, kamu bertanya-tanya… lantas bagaimana akhir dongeng ini? Apakah akan berakhir bahagia, ataukah sengsara? Haha… sayangnya, aku pun tak tahu. Sebab, dongeng ini masih berjalan, dan dituliskan melalui jejak-jejak hari ini.

Dari rangkaian itu…

Aku hanya ingin mengucapkan, “Selamat menempuh hidup baru, Kak Bedul. Terima Kasih telah menjadi partner kerja yang baik, bersabar dan mengalah pada adik kecil yang manja, penuntut, dan banyak maunya ini.”

Sengaja tak kuisi semua halaman album ini, silakan dilanjutkan ceritanya… sekreatifmu.
So, I don’t wanna say “Good bye”…  I prefer to say, “See you again…”


Sincerely yours,
Meta morfillah

Minggu, 11 Januari 2015

[Review buku] Air mata kopi

Judul: Air mata kopi
Penulis: Gol A Gong
Penerbit: Gong Publishing
Identitas: ii + 79 hlm, cetakan pertama, oktober 2013
ISBN: 978 602 9117 25 7

Buku ini berisi 50 puisi, sebuah perayaan atas usia kelima puluh penulisnya. Ditulis berdasarkan tur di kota-kota pulau sumatera sejak 1 mei - 23 juni 2012.

Sejujurnya untuk mereview puisi, ini adalah kali pertama bagi saya. Agak bingung, apa yang harus direview. Sebab, puisi adalah kebebasan. Akhirnya, saya hanya menulis ulang tentang perasaan saya saat sedang membacanya. Dari lima puluh puisi di dalam buku ini, satu perasaan saya, yakni kesedihan. Saya merasakan penulisnya begitu perhatian dengan proses di balik tersedianya secangkir kopi. Tentang nasib para petani kopi, anak-anak petani kopi yang tidak berkesempatan sekolah.

Sehingga, kemelaratan tetap memeluk mereka. Terasa ada suara ketidakadilan yang ingin disampaikan penulis. Betapa paradoksnya kopi yang kini diolah sedemikian rupa hingga menjadi gaya hidup, dengan kesejahteraan petani kopi.

Bagi saya, yang kurang bisa menikmati kopi yang begitu mendebarkan jantung saya, puisi di dalam buku ini membantu saya membayangkan rasanya. Membuat saya tahu tempat-tempat asal kopi dan jenis-jenisnya.

"Kepada para pecinta kopi: air yang kauseduh dengan kopi itu adalah air mata para petani kopi."

Sabtu, 10 Januari 2015

Surat untuk kakak lelaki yang tak pernah kumiliki

Dear kak bedul,

Kita satu almamater, tapi baru dekat satu tahun terakhir di kantor. Aku ga kenal kamu di kampus, pun di kantor hanya sebatas "say hi". Tapi sejak kepergian ka lili dan ka oche, mau ga mau aku harus mulai mengenalmu. Sebab kita partner. Dan saat itu, kita hanya memiliki kita. Bagiku, itu sebuah tantangan besar. Sebab, aku pernah berjanji menjaga jarak dengan lelaki. Karena persahabatan antara lelaki dan wanita pada akhirnya akan kalah dengan pendamping. Dan aku memiliki trauma dengannya. Belajar dari kesalahan yang sama, aku membentengi diri dengan kegalakanku. Tapi, bodohnya... aku merasakan ketulusanmu, dan aku tahu bahwa kamu tak akan memanfaatkan situasi.

Perlahan aku pelajari karaktermu, dan aku melihat banyak pengorbananmu. Meski kamu diam saja, aku tahu betapa repotnya dirimu menghadapi timmu. Kepemimpinanmu yang sering kutuntut lebih, bahkan mencoba memperbaiki habitmu yang melekat (datang siang, susah bangun pagi karena tidurnya pun tak tentu), kamu iyakan. Hingga aku merasa kesal sendiri melihatnya. Kamu terlalu baik. Dan terlalu mengorbankan hidupmu, kesehatanmu. Tapi, begitulah dirimu. Berapa kali kita perang dingin. Berapa kali kita ingin coba berlari, namun kembali berusaha berpijak di sini. Perlahan, aku mulai memahamimu dan menyayangimu sebagai kakak lelaki normal yang tak pernah kumiliki.

Kamu dengan kemurahan hatimu, mengabulkan apa yang kuminta. Meski mungkin saat berjalan bersamaku, itu adalah saat membosankan. Sebab, aku memang tak pandai membuka percakapan. Terlebih dengan lelaki. Tetap saja, aku harus menjaga diri, bukan? Tapi kamu tetap memperlakukanku dengan baik. Entah bagaimana masa lalumu, apa yang sedang kauhadapi sekarang, dan cerita lain di luar sana tentangmu. Yang kutahu, kamu adalah kakak lelaki terbaik, partner kerja terhebat yang pernah hadir di hidupku.

Perpisahan denganmu, merupakan hal yang berat dibanding kedua kakak sebelumnya. Mengapa? Sebab, segala tentangmu akan kurapikan dalam ingatan, lalu kupojokkan dan kemungkinan besar kubiarkan berdebu dan tak kulongok lagi. Kamu mencoba tetap menjaga silahturrahim dengan bertanya "Memang kamu ga mau nonton sama aku lagi, Met?"

Haha... aku cukup terharu. Tapi, kita sudah tidak bersama lagi. Dan tak ada alasan bagiku untuk mengganggumu lagi. Melalui surat ini, aku ucapkan banyak terima kasih untuk semua pembelajaran yang kamu berikan. Begitu banyak kejadian yang membuatku belajar dewasa, terutama dari sisi emosional. Aku juga minta maaf dari sekarang, bila nanti kita berpapasan, bertemu, mungkin hanya akan sebatas "say hi", lalu pergi menghindar, seakan kita tak pernah dekat. Jangan kaget. Perpisahan buatku tak mudah. Berapa banyak kehilangan yang kualami, membuatku agak sulit menerimanya dengan cepat dan lapang dada. Aku tak sehebat itu untuk berbesar hati. Nyatanya, masih ada anak kecil yang bersemayam dalam diriku.

Selamat berpisah, kak bedul.
Semoga kamu mengenangku dalam keadaan terbaik. Maafkan adikmu ini...

Meta morfillah

Jumat, 09 Januari 2015

Sebuah nama sebuah cerita: CHATELIA FEBRINA

Ndut. Baik. Tabah.

Itu tiga kata yang terlintas saat menyebut namanya. Saya baru dekat dengannya saat skripsi, itu pun mungkin tidak terlalu dekat sekali. Hanya sebatas sering bareng saat mengerjakan skripsi dan gila-gilaan dengan berfoto ria di perpustakaan jurusan. Saya mengenal dia lebih dekat setelah kami satu kantor. Di kantor, dia adalah salah satu teman dekat saya. Mungkin karena kami berasal dari jurusan yang sama di kampus. Teman senasib sepenanggungan sependeritaan.

Semakin saya mengenalnya, semakin saya temukan banyak nilai kebaikan pada dirinya. Meski dia suka ngeledek, becanda dengan ceplas ceplos, dan kadang agak emosional,  tapi saya merasakan itu semua tulus. Apa yang dia pikirkan, ya dia utarakan. Tapi, setelahnya dia tak menyimpan dendam. Dan seringkali yang dia katakan benar, meski pengemasannya agak ketus, hahaha. Tanpa sadar, dia selalu menyediakan waktunya bila saya membutuhkan. Mau mengantar ke mana-mana dengan si kumbangnya. Meski kurang enak badan, banyak kerjaan, tetap saja dia tipe yang royal dan loyal pada sahabatnya.

Hebatnya, dia mampu mewujudkan salah satu mimpi saya. Jalan-jalan keluar negeri. Dari mulai bikin passport, sampai akhirnya saya menjejak di negeri tetangga (Singapura dan Malaysia), semua berkat dia. Saya yang pengecut, kecerdasan spasial rendah (suka nyasar, lupa jalan, nama, muka, alamat, dll), serta agak perhitungan untuk fun, akhirnya berani. Semua itu berkat dukungan dia, baik dari moriil, waktu, tenaga, hingga finansial. Chatelia dan Reza. Berkali-kali, saat kami bersama, mereka berdua seringkali mengeluarkan uang untuk mentraktir. Hingga kadang saya tak enak sendiri. Saya tak suka dibayari terus, tapi mau bayarin mereka, setiap ga pas waktunya. Selalu saja pas saya sedang bokek… menyebalkan!
Lalu, setelah bulan Mei, sekembalinya dari Malaysia, dia sakit. Sakit yang lumayan parah, dan ternyata banyak sekali penyakit yang ia derita. Saya bilang ia seperti menabung penyakit. Namun, dia tetap saja bersikap biasa. Saya tahu, bahwa sebenarnya ia rapuh, namun ia tak mau menunjukkannya. Benar-benar tipikal wanita kuat.

Hampir setengah tahun ia rehat dari kantor, karena penyakitnya membuat ia kembali belajar seperti bayi. Saya mulai merasakan kehilangan dia. Teman makan, teman ngobrol, dan teman jalan saya. Terutama setiap saya pulang malam. Dahulu, ada dia yang minimal bersedia mengantarkan saya sampai terminal Blok M. Sejak dia sakit, saya sering berjalan sendirian. Kalau terpaksa pulang agak malam, saya sering bingung mau mengajak makan siapa, minta tolong antar sama siapa. Ya, kadang setelah kehilangan kita baru menyadari betapa banyak perhatian seseorang dan berharga kehadirannya. Saya kangeeeeeen sekali dengan dia. Sempat saya menangis sedih, saat ia berada dalam kondisi terburuknya. Saat itu ia mulai tak mengenali orang yang menjenguknya, sering menceracau tanpa disadari. Saya menangis begitu sedih. Saya sendiri heran. Belum pernah saya meneteskan air mata sebegitu sedihnya untuk seorang teman. Saat itulah saya menyadari, bahwa dia sudah menjadi teman spesial. Meski kami semakin jarang bertemu, ngobrol dan bahkan saya lebih banyak diam pasif saat bertemu dengannya, saya semakin sayang dia. Sakitnya dia, terasa sakit juga ke diri saya.

Allah begitu sayang padanya. Saat dia sudah mulai membaik, Allah menguji lagi dirinya dengan mengambil orang yang disayanginya. Ayahnya meninggal. Saya tahu bagaimana rasanya sakit ditinggalkan yang tidak akan pernah bisa kembali bertemu lagi. Saya mengalaminya. Tapi, begitulah saya… tak pernah bisa menghibur dengan baik. Saya hanya bisa menitipkan doa diam-diam dan hadir saat ia butuh. Hanya itu. saya tak pandai mengucapkan sesuatu yang mampu membesarkan semangatnya. Saya hanya bisa meminta Allah untuk menguatkan dan membesarkan hatinya.
Aahh… begitu banyak emosi yang tercurah saat saya menuliskan tentang ini semua. Sekarang, dia sedang menantikan waktu dioperasi. Saya membayangkan bagaimana bila saya jadi dirinya. Apa yang sedang ia pikirkan, bayangkan, atau rasakan? Saya yakin, ada rasa takut. Tapi saya lebih yakin, ia tidak akan membaginya kepada siapa pun. Ia terlalu tangguh. Ia tak pernah mau menyusahkan orang lain dengan masalahnya. Aaah… chatel… semoga Allah memberikanmu kesembuhan dan tiada lagi penyakit setelahnya. Saya dan sahabat-sahabatmu yang lain menantikan kembalinya dirimu.

Terima kasih banyak, sudah menasehati dengan perbuatanmu, tanpa perlu kauucapkan.

Maafkan, bila saya belum bisa menjadi sahabat yang baik.

Love you,
Meta morfillah

Jumat, 02 Januari 2015

[Review buku] Dilan

Judul: Dilan - dia adalah dilanku tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Mizan
Dimensi: 332 hlm, 20.5 cm. Cetakan pertama, April 2014
ISBN: 978 602 7870 41 3

"Cinta itu indah. Jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan."

Petikan kalimat pembuka novel ini, sudah menyiratkan kekonyolan. Dan saat membacanya, kamu akan jauh lebih banyak menemukan beragam kekonyolan. Melalui tokoh Dilan, pembaca akan diajak ke setting tahun 1990 di Bandung. Menceritakan gaya pacaran remaja SMA pada tahun itu. Juga hal-hal yang menjadi isu saat itu seperti tawuran, geng motor, dan sebagainya. Tokoh Dilan yang begitu unik, lucu, pintar, puitis, cuek, namun care banget sama yang disayanginya menjadi magnet utama dalam buku ini. Justru Milea, sang pencerita dalam novel ini tidak terlalu menjadi center. Mungkin bila dijadikan film, scene dilan merayu milea lah yang selalu saya nantikan.

Membacanya begitu ringan, crunchy kayak ciki, hingga tiba-tiba tak sadar bahwa cerita sudah selesai. Kalimat-kalimatnya mengalir dan lucu. Bahkan saya merasa bahwa bila novel ini dibaca pria, mungkin mereka tiba-tiba akan jago menaklukkan wanita. Menjadi penggombal yang lucu... hahah
Contohnya saja, seperti perkataan Dilan berikut..

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja."

Secara tampilan, cover, font, lay out dan sebagainya, menurut saya sudah cukup bagus.

Secara isi pun bagus, bahkan masih menyimpan misteri yang membuat saya menantikan sekuel kelanjutan novel ini.

Saya beri rating 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah