Rabu, 21 Januari 2015
Selasa, 20 Januari 2015
Cinta datang terlambat
Tak kumengerti mengapa begini
Waktu dulu kutak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kaujauh dariku
Pergi tinggalkanku
"Bodoh!"
Lili memaki dirinya. Ia menatap ponselnya yang memampang fotonya berdua dengan Raja. Menyadari kebodohan atas ketakpekaan hatinya. Mengapa baru sekarang?
Ke mana saja ia selama ini?
Saat Raja pergi karena mutasi pekerjaan ke Pangkalan Bun, Lili baru sadar bahwa ia suka, tepatnya jatuh cinta pada Raja. Mungkin benar ungkapan bahwa butuh kehilangan untuk menyadari seberapa besar kita menyayangi seseorang. Dulu, saat Raja masih di Jakarta, setia menemaninya menghabiskan waktu, Lili tak pernah merindunya. Sebab hampir setiap hari, Raja selalu menyempatkan diri mengajaknya jalan dan mengantarnya pulang. Yaa... Raja adalah sahabat baiknya.
Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa kini cinta datang terlambat
Memang pernah Raja menanyakan kemungkinan untuk hubungan mereka, apakah bisa lebih dari sekadar sahabat. Tapi dulu, Lili selalu menampiknya. Bahwa persahabatan adalah hal terbaik yang bisa mereka miliki. Lili begitu naif dan tak menyetujui hubungan kekasih yang bermula dari persahabatan. Lili merasa yakin, bahwa ia mampu menyanggah ungkapan yang bilang bahwa tidak ada persahabatan yang awet antara lelaki dan wanita, karena semuanya akan berujung menjadi kekasih. Lili ingin membuktikan bahwa itu salah. Namun kini, Lili menyadari bahwa dialah yang salah. Dia mengingkari kata hatinya, bahwa sesungguhnya perlahan rasa cinta tumbuh di antara intensitas persahabatannya dengan Raja.
Lalu bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Haruskah Lili mengakui perasaannya pada Raja? Tapi Lili terlalu malu. Dia lebih memilih menutupinya dan terus memaki dirinya saat dia rindu pada Raja, sembari memandangi foto mereka berdua di ponselnya. Bagi Lili, cinta datang terlambat.
*cerita lirik cinta datang terlambat - maudy ayunda
Meta morfillah
Minggu, 18 Januari 2015
Cerita Farewell Kak Bedul (Bubarnya kerajaan R&D)
Minggu, 11 Januari 2015
[Review buku] Air mata kopi
Judul: Air mata kopi
Penulis: Gol A Gong
Penerbit: Gong Publishing
Identitas: ii + 79 hlm, cetakan pertama, oktober 2013
ISBN: 978 602 9117 25 7
Buku ini berisi 50 puisi, sebuah perayaan atas usia kelima puluh penulisnya. Ditulis berdasarkan tur di kota-kota pulau sumatera sejak 1 mei - 23 juni 2012.
Sejujurnya untuk mereview puisi, ini adalah kali pertama bagi saya. Agak bingung, apa yang harus direview. Sebab, puisi adalah kebebasan. Akhirnya, saya hanya menulis ulang tentang perasaan saya saat sedang membacanya. Dari lima puluh puisi di dalam buku ini, satu perasaan saya, yakni kesedihan. Saya merasakan penulisnya begitu perhatian dengan proses di balik tersedianya secangkir kopi. Tentang nasib para petani kopi, anak-anak petani kopi yang tidak berkesempatan sekolah.
Sehingga, kemelaratan tetap memeluk mereka. Terasa ada suara ketidakadilan yang ingin disampaikan penulis. Betapa paradoksnya kopi yang kini diolah sedemikian rupa hingga menjadi gaya hidup, dengan kesejahteraan petani kopi.
Bagi saya, yang kurang bisa menikmati kopi yang begitu mendebarkan jantung saya, puisi di dalam buku ini membantu saya membayangkan rasanya. Membuat saya tahu tempat-tempat asal kopi dan jenis-jenisnya.
"Kepada para pecinta kopi: air yang kauseduh dengan kopi itu adalah air mata para petani kopi."
Sabtu, 10 Januari 2015
Surat untuk kakak lelaki yang tak pernah kumiliki
Dear kak bedul,
Kita satu almamater, tapi baru dekat satu tahun terakhir di kantor. Aku ga kenal kamu di kampus, pun di kantor hanya sebatas "say hi". Tapi sejak kepergian ka lili dan ka oche, mau ga mau aku harus mulai mengenalmu. Sebab kita partner. Dan saat itu, kita hanya memiliki kita. Bagiku, itu sebuah tantangan besar. Sebab, aku pernah berjanji menjaga jarak dengan lelaki. Karena persahabatan antara lelaki dan wanita pada akhirnya akan kalah dengan pendamping. Dan aku memiliki trauma dengannya. Belajar dari kesalahan yang sama, aku membentengi diri dengan kegalakanku. Tapi, bodohnya... aku merasakan ketulusanmu, dan aku tahu bahwa kamu tak akan memanfaatkan situasi.
Perlahan aku pelajari karaktermu, dan aku melihat banyak pengorbananmu. Meski kamu diam saja, aku tahu betapa repotnya dirimu menghadapi timmu. Kepemimpinanmu yang sering kutuntut lebih, bahkan mencoba memperbaiki habitmu yang melekat (datang siang, susah bangun pagi karena tidurnya pun tak tentu), kamu iyakan. Hingga aku merasa kesal sendiri melihatnya. Kamu terlalu baik. Dan terlalu mengorbankan hidupmu, kesehatanmu. Tapi, begitulah dirimu. Berapa kali kita perang dingin. Berapa kali kita ingin coba berlari, namun kembali berusaha berpijak di sini. Perlahan, aku mulai memahamimu dan menyayangimu sebagai kakak lelaki normal yang tak pernah kumiliki.
Kamu dengan kemurahan hatimu, mengabulkan apa yang kuminta. Meski mungkin saat berjalan bersamaku, itu adalah saat membosankan. Sebab, aku memang tak pandai membuka percakapan. Terlebih dengan lelaki. Tetap saja, aku harus menjaga diri, bukan? Tapi kamu tetap memperlakukanku dengan baik. Entah bagaimana masa lalumu, apa yang sedang kauhadapi sekarang, dan cerita lain di luar sana tentangmu. Yang kutahu, kamu adalah kakak lelaki terbaik, partner kerja terhebat yang pernah hadir di hidupku.
Perpisahan denganmu, merupakan hal yang berat dibanding kedua kakak sebelumnya. Mengapa? Sebab, segala tentangmu akan kurapikan dalam ingatan, lalu kupojokkan dan kemungkinan besar kubiarkan berdebu dan tak kulongok lagi. Kamu mencoba tetap menjaga silahturrahim dengan bertanya "Memang kamu ga mau nonton sama aku lagi, Met?"
Haha... aku cukup terharu. Tapi, kita sudah tidak bersama lagi. Dan tak ada alasan bagiku untuk mengganggumu lagi. Melalui surat ini, aku ucapkan banyak terima kasih untuk semua pembelajaran yang kamu berikan. Begitu banyak kejadian yang membuatku belajar dewasa, terutama dari sisi emosional. Aku juga minta maaf dari sekarang, bila nanti kita berpapasan, bertemu, mungkin hanya akan sebatas "say hi", lalu pergi menghindar, seakan kita tak pernah dekat. Jangan kaget. Perpisahan buatku tak mudah. Berapa banyak kehilangan yang kualami, membuatku agak sulit menerimanya dengan cepat dan lapang dada. Aku tak sehebat itu untuk berbesar hati. Nyatanya, masih ada anak kecil yang bersemayam dalam diriku.
Selamat berpisah, kak bedul.
Semoga kamu mengenangku dalam keadaan terbaik. Maafkan adikmu ini...
Meta morfillah
Jumat, 09 Januari 2015
Sebuah nama sebuah cerita: CHATELIA FEBRINA
Jumat, 02 Januari 2015
[Review buku] Dilan
Judul: Dilan - dia adalah dilanku tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Mizan
Dimensi: 332 hlm, 20.5 cm. Cetakan pertama, April 2014
ISBN: 978 602 7870 41 3
"Cinta itu indah. Jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan."
Petikan kalimat pembuka novel ini, sudah menyiratkan kekonyolan. Dan saat membacanya, kamu akan jauh lebih banyak menemukan beragam kekonyolan. Melalui tokoh Dilan, pembaca akan diajak ke setting tahun 1990 di Bandung. Menceritakan gaya pacaran remaja SMA pada tahun itu. Juga hal-hal yang menjadi isu saat itu seperti tawuran, geng motor, dan sebagainya. Tokoh Dilan yang begitu unik, lucu, pintar, puitis, cuek, namun care banget sama yang disayanginya menjadi magnet utama dalam buku ini. Justru Milea, sang pencerita dalam novel ini tidak terlalu menjadi center. Mungkin bila dijadikan film, scene dilan merayu milea lah yang selalu saya nantikan.
Membacanya begitu ringan, crunchy kayak ciki, hingga tiba-tiba tak sadar bahwa cerita sudah selesai. Kalimat-kalimatnya mengalir dan lucu. Bahkan saya merasa bahwa bila novel ini dibaca pria, mungkin mereka tiba-tiba akan jago menaklukkan wanita. Menjadi penggombal yang lucu... hahah
Contohnya saja, seperti perkataan Dilan berikut..
"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja."
Secara tampilan, cover, font, lay out dan sebagainya, menurut saya sudah cukup bagus.
Secara isi pun bagus, bahkan masih menyimpan misteri yang membuat saya menantikan sekuel kelanjutan novel ini.
Saya beri rating 4 dari 5 bintang.
Meta morfillah
























