Jumat, 31 Maret 2017

Yakin

YAKIN

Seorang ulama berdoa seperti ini, "Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki bugosh (anak bayi burung gagak)."
.
Tahukah kalian bagaimana rupa bayi burung gagak yang baru lahir?
.
Warnanya putih, belum berbulu hitam sebagaimana ibunya. Maka saat melihat anaknya yang berbeda warna itu, sunnatullah bahwa ibu gagak akan meninggalkan bayinya sendirian. Dia merasa itu bukan anaknya, dan dia akan pergi ke pohon lain dan mengamati dari jauh. Hingga berbulan lamanya.

Sementara sang bayi yang begitu lemah tidak berdaya melakukan apa pun. Jangankan terbang, berdiri saja ia oleng. Lantas bagaimana cara Allah memberikannya rezeki(makan)?
.
Maha besar Allah, diciptakannya suatu lendir dari tubuh sang bayi yang baunya menguar dan memancing serangga mendekat. Serangga itulah yang menjadi makanan sang bayi, hingga perlahan tubuhnya kuat, bulu hitamnya tumbuh, lendir itu akan menghilang. Sebab ibu gagak akan kembali ke sarang jika ia melihat anak gagak sudah mirip dirinya.

Maka... mengapa kita masih ragu, galau dan tidak yakin pada Allah? Sedangkan Allah sudah berjanji akan memberi rezeki dan memelihara hambaNya yang beriman dalam Al Quran surat Hud [11]: 6.
.
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)."
.
Dan rezeki tidak hanya berupa makanan, uang, atau materi. Termasuk juga pekerjaan dan jodoh. Tenang saja, selama kita taat, jomlo bukan masalah. Ikhtiar terus untuk menikah, tapi tetap yakin bahwa "wa maa 'indallahi khair" (apa yang ada di sisi Allah itulah yang terbaik).
.
Hari sabtu malam minggu, jangan sedih ya wahai muslimah yang belum menikah. Engkau adalah bunga cantik yang mekar hanya sekali. Terus berdoa dan yakin sama Allah.

Love you because Allah,
.
#inspire from kajian @pemudahijrah #hananattaki

Meta morfillah

Harapan pagi

HARAPAN PAGI

Amalan terpenting adalah amalan hati sebelum amalan fisik.

Duhai yaa Rabb, lindungilah kami dari sikap sombong dalam menaatiMu, merasa paling berkorban dalam jamaahMu, ringan menyakiti mereka yang sedang berproses hijrah dengan lisan dan jemari yang mengetik di media sosial.

Duhai yaa Rabb, buatlah akhlak kami seindah akhlak utusanMu, jangan buat kami berhenti mencinta dan belajar dari para nabiMu, agar diri kami tidak menghalangi indahnya agamaMu. Jangan sampai terkatakan pada kami "Islam itu indah, hanya tertutupi keindahannya sebab perilaku umatnya."

Duhai yaa Rabb, sesungguhnya hati ini milikMu, cenderungkanlah ia pada hal yang baik, orang yang shalih, amal yang benar, niat yang lurus. Jauhkan ego pribadi dan keinginan diakui baik riya' maupun sum'ah.

Sungguh yaa Rabb, sesungguhnya kami amatlah bodoh dan zalim terhadap diri kami. Padahal tak pernah sedikit pun Engkau inginkan keburukan pada kami. Takdir buruk bukanlah menurut Engkau, melainkan menurut kami, hambaMu yang terbatas ilmu dan penglihatannya hingga sulit mengurai makna kebaikan di balik 'keburukan'.

Jagalah hati dan diri kami yaa Rabb, agar  setia pada taliMu.

Aamiin allahumma aamiin

Meta morfillah

Kamis, 30 Maret 2017

Ruang tunggu

RUANG TUNGGU

Entah yang mentah. Kapan tiba giliranku dijemput? Sementara ruang tunggu ini perlahan kosong. Satu per satu telah pergi. Jejak mereka kian memudar seiring waktu yang berputar.

Memang, beberapa ada yang silih berganti menggantikan. Namun, sekejap saja datang dan pergi. Sementara aku masih tetap di sini. Di ruang tunggu. Menunggu kedatanganmu.

Kurasakan perlahan, usia panjang menjelma kutukan. Saat kawan seperjalanan telah tiada, sementara kau terus ada menyaksikan perguliran matahari dan bulan. Nama-nama dan kota-kota tinggallah kenangan, yang bahkan sulit untuk kaukenang.

Ruang tunggu ini... adalah dunia. Sementara.
Kamu yang kunanti... adalah henti. Detak yang kehabisan detik.

Selama di ruang tunggu, adakah kamu mendewasa?

Meta morfillah

Tokoh antagonis

TOKOH ANTAGONIS

Tidak berarti jahat. Hanya berlawanan dengan protagonis. Banyak yang tak mau memerankannya, sebab biasanya akan dibenci. Biasanya pula bukanlah tokoh utama.

Namun ada kalanya kita harus menjadi antagonis dalam sebuah peran. Sebab bila semua protagonis, tidak akan ada konflik dan pembelajaran. Tidak ada yang berani atau vokal atau lantang menyuarakan aspirasi.

Sebatas peran saja, menjadi antagonis untuk menegakkan kebenaran. Mengatakan yang benar sekalipun itu pahit. Dan aku lebih menyukai orang yang antagonis, kritis, tapi tetap walk the talk dan menjaga adab, sebagai teman yang menyadarkan jika kita salah. Bukan sebaliknya, selalu mengiyakan meski kita salah.

*pose ala drama korea, muka jutek princess

Meta morfillah

Kamis, 23 Maret 2017

ASET, MODAL, atau BEBAN?

ASET, MODAL, atau BEBAN?

Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat.

Itu hadits yang sering saya dengar dan salah satu motivasi saya berkontribusi serta berprestasi dalam tiap kesempatan.

Kalau dalam sebuah perusahaan, orang yang paling bermanfaat itu disebut ASET. Aset bagi perusahaan sebab bila tidak ada dia, perusahaan akan kacau. Semacam pemegang jabatan kunci. Biasanya punya pengaruh hebat, juga performance kinerja yang hebat. Meski kadang posisi atau jabatan tidak tinggi.

Kalau sebatas umum, ada atau tiada tak terlalu berpengaruh, namanya MODAL. Kehadiran dia bagi perusahaan tidak terlalu berpengaruh. Ada ya bagus, tak ada juga tak apa-apa. Mudah terganti dan banyak yang mengantre bisa menggantikan. Sebab kualifikasinya tidak spesifik/khusus/ahli.

Dan seburuknya manusia yang merugikan atau tidak bermanfaat disebut BEBAN. Keberadaannya sesuai namanya, hanya menjadi beban bagi perusahaan. Baiknya mah dibina agar setidaknya menjadi modal. Atau kalau orangnya ngeyel, biasanya perusahaan akan mudah untuk membina...sakan alias dipecat. Tak berharga. Kemampuan tak bisa, kemauan pun tak ada, sikap tak layak. Apalagi yang bisa dibanggakan?

Nah, coba kita hisab... hitung-hitungan sama diri sendiri sebelum dihisab malaikat. Selama kita berada di sebuah tempat, memegang amanah, dll, apakah kita menjadi ASET, MODAL, atau BEBAN?

Astagfirullah...

*kira-kira nih orang yang difoto aset, modal, atau beban ya? Cantik sih iyaa... #laludidoakanjadisaleha

Meta morfillah

Pelangi ukhuwah

I see your true colors
That's why I love you
So don't be afraid to let them show
Your true colors, true colors
Are beautiful like a rainbow

Kautahu apa warna yang paling indah?
Warna yang tercelup oleh warna Ilahi... sibghatallah.
Mewarnai dan terwarnai dalam tali Allah.

Ada yang berapi-api, merah membara, garang... seperti Umar bin khattab.
Ada yang tenang, menenangkan, biru yang luas... seperti Abu Bakar.
Ada yang pemalu, mendamaikan, hijau nan menyegarkan... seperti Utsman bin Affan.
Ada yang kalem cerdas, jeli melihat urusan, hitam yang tegas... seperti Ali bin Abi Thalib.

Ada sahabiyah yang suka terbahak, ada yang lembut, ada yang ringan bersedekah dengan harta, ada yang ringan menolong dengan tenaga, dan lainnya.

Semua warna itu punya kelebihan dan kekurangan. Terlalu dominan menyakitkan mata. Terlalu lembut seperti mengabur. Namun menjadi indah bila dipadupadankan. Dalam rangka melindungi. Bagai sebuah pakaian.

Seperti itulah aku melihat manusia di dunia. Semua berwarna dan memberi warna pada duniaku. Ada yang melindungi, menghangatkan, membuat nyaman, namun ada juga yang kasar, menyakitkan, membuat hati merasa tak aman.

Maka dalam memilih "pakaian dan warnanya"... adalah yang terkait denganNya. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Past, present and future... always with Allah.

Berbahagialah dalam lingkaran warnaNya... sebagaimana pelangi bersatu memberi keindahan pada bumi. Selepas badai seamuk apa pun, hujan sederas bagaimana pun. Pelangi hadir melengkung sebagaimana senyummu untuk saudaramu.

Meta morfillah

Selasa, 21 Maret 2017

Perubahan itu berproses, lembut dan bersabarlah!

PERUBAHAN ITU BERPROSES, LEMBUT DAN BERSABARLAH!

"Kak, kukira kamu itu kanebo kering, loh! Soalnya jilbab lebar, belum kenal diam saja, mengamati jeli. Tapi setelah kenal ternyata asyik banget!"

Pernah dibilang kanebo kering juga? Maksudnya kaku. Kalau tidak sejalan dengan paham dia, biasanya cemberut. Merasa bukan teman. Jatuhnya eksklusif.

Yaa... kadang kita, utamanya saya, juga sering terjebak dengan hal itu. Merasa risih bila tidak berkumpul dengan kawan yang sudah terjaga. Sedikit-sedikit bawa dosa, haram, dll. Astagfirullah...

Kita lupa bahwa perubahan itu butuh proses. Dakwah itu asalnya lembut dan memenangkan hati. Bahkan kita, utamanya saya, lupa bagaimana dahulu berproses hijrah. Bahwa kita berubah karena teguran yang baik, teladan yang konsisten, dan apresiasi sahabat yang setia. Hingga kita sampai seperti sekarang.

Kadang kita mengalami pubertas spiritual (mengutip kata-kata ustad hanan attaki). Maksudnya kita semangat/ghirah tinggi mempelajari ilmu agama, tapi lupa meneladani akhlak pembawanya, Rasulullah SAW. Bukankah aneh, bila semakin sering mengkaji sunnah, tapi semakin sulit tersenyum? Padahal senyum itu sunnah Rasul yang tak lepas dari wajahnya.

Ya, pubertas spiritual. Menjadikan kita bertindak sebagai hakim yang menghakimi mereka yang belum atau sedang berhijrah. Kita lupa bahwa percepatan belajar tiap manusia berbeda. Kita suka mengukur kemampuan seseorang dengan baju kita sendiri. Memaksakan meski tak muat.

Astagfirullah...

Meta morfillah