Jumat, 20 Februari 2015

Balok waktu

Jatah waktu hidup kita di dunia, seperti tumpukan balok di foto ini. Berkurang tiap harinya... semakin menipis dan sedikit yang tersisa. Seberapa kuat pun ingin kutahan helai nafas yang berembus... tetap tak mampu memperpanjang masa hidupku yang tergariskan. Dan syukurlah, jatah hidup itu rahasia. Sehingga, tiap harinya aku menebak kapan detik terakhir jantungku berdetak. Seraya memberikan waktuku yang berharga pada mereka yang kusayang.

Selagi masih ada waktu.

Itulah yang membenak, jika aku menghabiskan waktu untuk mengunjungi yang kusayangi.

Selagi masih bisa.

Itulah yang menyeruak di batin, jika aku memberikan telinga untuk mendengar.

Selagi masih hidup.

Itulah yang mewarnai rasa di tiap hariku. Mengeluh, murung, tak apa... tapi tak berkepanjangan. Seperti syair sebuah lagu, murung itu sungguh indah.. melambatkan butir darah. Sesekali, kita perlu.. tak memaksa menjadi orang yang selalu bahagia dan berparas cerah.

Tiap kita, memiliki cara berbeda dalam menyikapi jatah waktu yang menipis. Ada yang merelakan jatah waktunya untuk dinikmati dalam kesendirian. Ada yang menyibukkan diri dalam pekerjaan, menguras habis perhatian dan pikiran. Ada yang berusaha membahagiakan kesayangannya.

Lalu, cara mana yang kamu mau?

Semoga tiap kita sadar akan bekal yang harus disiapkan, sementara waktu semakin tipis. Sebab kita semua menunggu. Menunggu kapan kita pulang.

Meta morfillah

Kamis, 19 Februari 2015

17 februari keempat belas

17 februari keempat belas

Kautahu, aku tak pernah mengingat hari lahirmu. Sebab bagiku, hari lahirmu tak terlalu istimewa. Aku tak mengenalmu sedari bayi. Aku tak seperti ayah ibumu yang begitu mengharapkan kelahiranmu. Tapi, aku selalu mengingat hari wafatmu. Sebab, sepeninggalmu, duniaku berubah.

Mungkin, memang benar bahwa tak penting awal mula, melainkan fokuslah pada akhir. Sehingga kau berproses lebih baik saat menuju akhirmu. Sebab, kau dinilai di akhir hidupmu.

Empat belas tahun sudah, aku merayakan hari wafatmu. Sesibuk apa pun, sebahagia apa pun, saat sadar bahwa aku berada di tanggal 17 februari, suasana hatiku langsung sendu. Terutama bila sedang sendiri. Sering aku merayakan hari wafatmu dengan hujan dari bola mataku. Setegarnya aku, se-maksa-banget pun aku, tetap saja... aku kangen.

Bukan... bukan tak ridha atas kehendakNya.
Bukan... bukan tak ikhlas atas kepergianmu.

Ini semata, kelemahan diriku.

Selalu bertanya, apakah kaubahagia memilikiku sebagai putrimu?
Apakah kaubangga?
Apakah kau...
Apakah kau...

Lalu, masih dengan cara yang sama... aku selalu menuliskan apa yang kurasakan di tanggal 17 februari.

Sayangnya, saat ini aku terlambat dua hari untuk menuliskan. Sebab, anakmu sekarang banyak menanggung beban.

Sayangi dia, Tuhan....
Bapak nomor satu di dunia.

Meta morfillah

Minggu, 15 Februari 2015

[Review buku] Spring sonata

Judul: Spring sonata
Penulis: Minn
Penerbit: Ping!!!
Dimensi: 267 hlm. Cetakan pertama, maret 2014
ISBN: 978 602 7968 52 3

"Orang yang jatuh cinta diam-diam akan selamanya jatuh cinta sendirian." (Hlm. 220)

Dari tumpukan buku yang belum saya baca, saya mengambil asal buku ini. Mengapa? Sebab saya tertaril melihat covernya yang manis. Nuansa pink dan biru, sederhana mencerminkan sisi romantis kewanitaan penulisnya--sepertinya. Juga di tiap awal bab, dan beberapa halaman di tengah bab, kertasnya berwarna pink yang diberi sedikit desain, sehingga cukup menarik dan tak membosankan dari segi tampilan.

Tapi dari segi isi, saya kurang menikmati. Ceritanya menurut saya terlalu mudah ditebak dan antiklimaks. Walau mengambil latar di kota Praha serta diwarnai alunan nada-nada Beethoven--yang kurang saya pahami--menurut saya ceritanya terlalu biasa.

Berawal dari Rheina Hutabarat, gadis Indonesia yang ceria dan mengaku sebagai beethoven addict, datang ke Praha untuk kuliah. Selama belum menemukan apartemen yang layak, rheina menumpang di rumah Matthew. Matthew Dvorak adalah pemuda sinis berdarah Ceko yang membenci ayahnya dan orang-orang Asia. Kalau saja bukan karena ayahnya, Hans, mengancam akan menyita kunci mobil dan kunci kamarnya, Matt akan menjadi orang pertama yang mengusir rheina. Mengapa? Sebab, rheina adalah orang Indonesia dan rheina adalah anak dari wanita yang dicintai ayahnya di masa lalu. Di mata matthew, ibunya rheina adalah penyebab ibunya sakit dan meninggal, karena tahu ayahnya tak mencintai ibunya. Dan begitulah... pertengkaran, cinta dan persahabatan pun mewarnai kehidupan dua remaja tersebut.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Apa yang tampak, belum tentu...

Cantik, bukan?
Sederhana, putih, terlihat sejuk dan lembut, menenangkan karena keluasannya.

Tapi... apa pernah kautahu rasa sebenarnya?
Betapa dingin, keras, dan sepinya.
Seringkali, yang terlihat belum tentu yang memberikan makna sebenarnya. Kita harus mencandrainya dengan seluruh indrawi yang kita miliki, untuk tahu yang sebenarnya.

Mungkin, seperti inilah hati manusia.

Apa yang tampak, belum tentu mencerminkan kenyataan sebenarnya. Manusia... senang sekali membuat segalanya rumit. Senang sekali memiliki paradoks dalam hidupnya. Sama halnya denganku.

Apakah kamu juga mengalami hal yang sama?

Meta morfillah

[Review buku] The man who love books too much

Judul: The man who loved books too much (Kisah nyata tentang seorang pencuri, detektif, dan obsesi pada dunia kesusasteraan)
Penulis: Allison Hoover Bartlett
Penerbit: Pustaka Alvabet
Dimensi: 300 hlm, 13 x 20 cm. Cetakan 1, April 2010
ISBN: 978 979 3064 81 9

Apa yang sanggup kaulakukan demi cintamu pada buku?
Bagi John Charles Gilkey, jawabannya: masuk penjara.

Itu adalah blurb di bagian cover belakang buku ini. Saya membeli buku ini karena judul dan kalimat tersebut, yang membangkitkan rasa penasaran saya. Saya kira awalnya, adalah novel. Ternyata ini narasi kisah nyata tentang seorang John Gilkey yang ingin memiliki perpustakaan kaya dengan cara paling buruk, yakni mencuri. Obsesi seorang kolektor yang salah, karena ia menipu dengan taktik kartu kredit.  Juga obsesi Ken Sanders, seseorang yang menyebut dirinya "bibliodick" (penjual buku yang merangkap sebagai detektif) dan sangat ingin menangkap si pencuri. Seumur hidupnya, ia membaktikan diri untuk menangkap Gilkey, si pencuri yang mengacaukan perdagangannya. Penulis sendiri adalah seorang jurnalis, yang mengurai cerita mereka secara langsung, mengikuti kedua orang tersebut bergantian selama sepuluh tahun.
  
Dalam narasi Bartlett ini, dijelaskan dengan detail mengenai intrik sastra serta deskripsi mengenai manuskrip-manuskrip, kilasan-kilasan menarik berbagai buku langka di dunia, pikiran kriminal, serta batasan-batasan keterlibatan jurnalistik. Membacanya membuat wawasan saya bertambah dan jatuh cinta lagi dan lagi pada buku fisik--sempat diulas juga tentang e book. Buku ini menunjukkan peran besar buku dalam kehidupan kita, penghormatan yang menjadikan buku itu tetap dipertahankan dan keinginan yang membuat sebagian orang mempertaruhkan apa saja demi memiliki buku yang mereka sukai.

Namun, bahasa narasi yang terlalu lugas, membuat saya terkadang agak jenuh, sehingga saya selingi dengan bacaan lain.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Jumat, 13 Februari 2015

[Review buku] Alles liebe

Judul: Alles Liebe (Bertahan dan berjuanglah untukku)
Penulis: Farrahnanda
Penerbit: de TEENS
Dimensi: 228 hlm, cetakan pertama, november 2013
ISBN: 978 602 7695 25 2

Dari awal tahu bahwa buku ini adalah buku remaja, saya sudah merasa agak berat. Mengapa? Karena harus menyamakan frekuensi kembali. Membaca dengan sudut pandang remaja, dan berusaha menikmatinya sebagai remaja. Awalnya, agak sulit, tapi didorong rasa penasaran karena penulisnya adalah teman yang juga lulusan kampus fiksi, tetap saya paksakan. Daaaaan.... hampir setahun hanya menjadi niat. Hingga sempat ingin saya berikan ke teman saya yang meminta buku ini, tanpa saya baca dahulu. Tapi, malam ini saya benar-benar iseng. Ingin baca buku yang gak perlu mikir. Di lemari buku, hanya ini yang lumayan 'ringan'.

Mulai membaca pukul 20.00 dan selesai pukul 21.00. Di awal, ada beberapa bagian detail yang saya skip karena memang belum dapat 'feel'nya. Lalu menjelang pertengahan, baru mulai menarik. Tokoh Sartika, seorang gadis SMA yang nakal, anak panti, hobi merokok, terancam dikeluarkan dari sekolah karena nilai-nilainya yang merosot tajam, padahal awalnya dia masuk sepuluh besar. Tiba-tiba mendapat bantuan dari sekretaris OSIS bernama Ferro. Anak lelaki yang berwajah malaikat, baik, pintar, penurut, dan ramah. Ferro sampai berani mempertaruhkan jabatannya sebagai sekretaris OSIS di hadapan kepala sekolah, bila ia tidak berhasil membuat Sartika berubah dalam waktu enam bulan.

Konflik khas remaja. Tokoh anak lelaki populer bersandingkan anak perempuan biasa. Haha... saat membacanya, entah mengapa saya merasa penulisnya agak berkiblat ke drama korea. Tapi untuk karakter Sartika, yang kebanyakan sinis dan sarkas, saya merasa dialognya banyak yang bergaya film-film holywood.

But, so far saya menikmati pertengahannya. Hanya saja, saat endingnya... saya merasa antiklimaks. Sartika menjadi melankolis lagi, yang karakternya seperti blur. Voice dalam tokoh 'aku' serta sudut pandang yang kebanyakan dari Sartika pun agak membingungkan. Terkesan begitu cerdas untuk anak SMA seperti dia.

Oh ya, saya masih penasaran sama arti lagu Jerman yang biasa disenandungkan Ferro. Nanti saya mau googling... hahah

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Kamis, 12 Februari 2015

Perubahan dan Keluar dari zona nyaman



Meninggalkan zona nyaman itu berat. Berat sekali.

Setelah mengajukan resign di kantor lama, hanya seminggu saya dapat menikmati jadi pengangguran. Senin malam, senior saya menghubungi dan menawarkan pekerjaan sebagai Instructional Designer di kantornya. Bidang pekerjaannya, walau masih terkait apa yang saya pelajari dan kerjakan selama ini, namun agak berbeda media. Selama ini saya agak lemah di bidang media, dari kuliah saya menyadari itu, sehingga tak memilihnya. Saya sudah menjelaskan hal itu pada kakak kelas saya, dan dia tetap menyuruh saya datang ke kantornya. Malam itu, ramai wasap saya. Tiga senior dan seorang teman menyuruh saya mencoba datang dan melamar ke kantor itu. Seperti biasa, saya tak pernah menolak kesempatan. Toh, saya pikir aka nada banyak waktu dalam mempertimbangkan saya diterima atau tidak. Saya pun tak memiliki ekspektasi akan diterima.

Selasa siang, saya diinterview oleh kakak kelas dan HR perusahaan itu. Setelah wawancara pun, saya main ke kantor lama. Setidaknya seminggu sekali saya menyempatkan diri ke sana, karena meski saya sudah tak bekerja di sana, mereka tetaplah keluarga yang saya sayangi. Cinta tapi tak jodoh, haha… kayak lagu T2. Rabu pagi, saya membuat NPWP—hal yang tak sempat saya lakukan saat bekerja dahulu—lalu pulang ke Bogor bersama mama dan uda saya. Sorenya, saya mendapat telepon bahwa saya diterima dan disuruh mulai bekerja besok, hari kamis. Saat itu, saya agak sedih. Mengapa? Karena niat saya sebulan menganggur dan membantu chef alladzu—usaha brownies bersama teman-teman komunitas Pencinta Anak Yatim—harus terhenti. Tapi tak lama, saya mengucap hamdalah dan innalillah… pekerjaan baru adalah amanah baru. Berat rasanya, terutama saya memang tak terlalu menguasai bidang pekerjaan baru saya. Tapi, saya ingat lagi dua pekerjaan saya sebelumnya… keduanya dimulai dengan cara yang sama. Saya tak pernah melamar atau pun berniat melamar di sana. Sama sekali tak ada ekspektasi apa-apa terhadap perusahaan sebelumnya. Tapi mereka yang memilih saya, dan saya bertahan dua tahun di kedua tempat. Keduanya meninggalkan kenangan manis. Murid-murid saya yang kebanyakan berkebutuhan khusus, serta sahabat-sahabat yang setia menemani dan tak putus hubungan hingga kini. Keduanya pun member pembelajaran yang berbeda namun membuat saya utuh seperti pribadi saya saat ini.

Di perusahaan yang baru ini, ternyata saya akan menjadi satu-satunya instructional designer. Menggantikan kakak kelas saya yang akan resign bulan ini karena sakit. Transfer knowledge seadanya. Bahkan dalam seminggu hari kerja, saya hanya datang ke kantor satu kali. Sebab, saya sendiri kurang paham bagaimana ritme kerja dan apa tanggung jawab saya. Selama ini, saya menunggu perintah dari senior saya. Tak boleh jauh dari handphone, sebab sewaktu-waktu ada koordinasi dan saya harus siap mobile.

Kautahu, pekerjaannya lebih seperti marketing dan project manager. Selain saya berpikir sebagai instructional designer, saya juga harus memastikan project berjalan sesuai timeline, memastikan kualitas hasil pekerjaan, dan juga mempresentasikan dari awal project hingga akhir ke klien. Ibaratnya saya garda depan. Setelah mendapat gambaran itu, hati saya berkali-kali tak tenang. Saya agak keberatan untuk menjadi front office. Tapi, kembali dalam pergulatan batin saya, saya berpikir “Apa lagi scenario yang Allah ingin berikan pada saya?”

Jujur saja, saya merasa bahwa hidup saya dan pekerjaan saya selama ini, bagaikan tingkatan pembelajaran yang harus saya selesaikan. Dan semuanya saya selesaikan dalam kurun yang sama. Dua tahun. Lalu lanjut ke tahap selanjutnya, dengan kemudahan yang saya dapat, untuk membuktikan apakah pembelajaran selanjutnya saya akan lulus atau tidak. Saat mengajar di homeschooling, saya belajar kesabaran menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak normal yang memiliki segudang masalah hingga putus sekolah. Saat bekerja di perusahaan sebelumnya, saya belajar menekan ego, bekerja secara tim dan kepemimpinan. Saat ini, saya merasa goal saya adalah menuntaskan pelajaran komunikasi, bagaimana menghadapi beragam karakter klien yang harus saya pilah-pilih, tidak sekadar menjadi “yes-man”.

Satu hal yang paling berasa, adalah perubahan itu sendiri. Betapa pergulatan pikiran dan konflik batin saya kerap muncul. Tak jarang membandingkan dengan kantor lama, betapa “surgawi” kantor lama saya. Semua kenyamanan ada di sana, sangat-sangat nyaman hingga menumpulkan. Lantas saya teringat tulisan pak rhenald kasali,

“Manusia belajar sepanjang masa melewati ujian demi ujian. Dan itu meletihkan, bahkan kadang menakutkan, melewati proses kesalahan dan kegagalan, menemui jalan buntu dan aneka krisis, kurang tidur. Kadang kita menemukan guru yang baik dan pandai, tapi kadang bertemu guru yang menjerumuskan dan menyesatkan. Tetapi mereka semua memberikan pembelajaran. Hidup itu memang terdiri dari proses keluar-masuk. Kalau sudah nyaman, ingatlah jalan ini akan crowded. Jadi, apakah Anda termasuk orang yang mengalami gejala kesulitan “keluar-masuk” zona nyaman?”

Yaa… perubahan itu menyakitkan. Belajar lagi dari nol. Keluar dari zona nyaman. Persis seperti batu berlian yang dibentuk, dan akan semakin mahal bila ia memiliki banyak sudut cahaya, banyak pembentukan.
Semua perubahan ini, insyaa allah telah dan akan saya lewati kembali dengan baik, selama ada dukungan dari keluarga. Terutama mama. Doanya yang memeluk dari jauh begitu kuat dan menenteramkan, meski raga tak bersua. Setiap kali orang bilang saya beruntung, atau saya merasa sangat beruntung, saya percaya bahwa itu adalah doa mama saya yang dikabulkan.

*Saya menuliskan semua yang saya rasakan, bukan sekadar curhat… tapi agar saya ingat bahwa “saya pernah merasa begitu bodoh, buntu, tak berguna dan merasa masalah yang saya hadapi rumit dan tak selesai-selesai” saat ini. Untuk kemudian saya tertawakan di beberapa waktu ke depan, saat saya sudah berhasil menyelesaikannya, atau menyadari bahwa masalah saya tidak ada apa-apanya.*


Meta morfillah