Minggu, 11 Januari 2015

[Review buku] Air mata kopi

Judul: Air mata kopi
Penulis: Gol A Gong
Penerbit: Gong Publishing
Identitas: ii + 79 hlm, cetakan pertama, oktober 2013
ISBN: 978 602 9117 25 7

Buku ini berisi 50 puisi, sebuah perayaan atas usia kelima puluh penulisnya. Ditulis berdasarkan tur di kota-kota pulau sumatera sejak 1 mei - 23 juni 2012.

Sejujurnya untuk mereview puisi, ini adalah kali pertama bagi saya. Agak bingung, apa yang harus direview. Sebab, puisi adalah kebebasan. Akhirnya, saya hanya menulis ulang tentang perasaan saya saat sedang membacanya. Dari lima puluh puisi di dalam buku ini, satu perasaan saya, yakni kesedihan. Saya merasakan penulisnya begitu perhatian dengan proses di balik tersedianya secangkir kopi. Tentang nasib para petani kopi, anak-anak petani kopi yang tidak berkesempatan sekolah.

Sehingga, kemelaratan tetap memeluk mereka. Terasa ada suara ketidakadilan yang ingin disampaikan penulis. Betapa paradoksnya kopi yang kini diolah sedemikian rupa hingga menjadi gaya hidup, dengan kesejahteraan petani kopi.

Bagi saya, yang kurang bisa menikmati kopi yang begitu mendebarkan jantung saya, puisi di dalam buku ini membantu saya membayangkan rasanya. Membuat saya tahu tempat-tempat asal kopi dan jenis-jenisnya.

"Kepada para pecinta kopi: air yang kauseduh dengan kopi itu adalah air mata para petani kopi."

Sabtu, 10 Januari 2015

Surat untuk kakak lelaki yang tak pernah kumiliki

Dear kak bedul,

Kita satu almamater, tapi baru dekat satu tahun terakhir di kantor. Aku ga kenal kamu di kampus, pun di kantor hanya sebatas "say hi". Tapi sejak kepergian ka lili dan ka oche, mau ga mau aku harus mulai mengenalmu. Sebab kita partner. Dan saat itu, kita hanya memiliki kita. Bagiku, itu sebuah tantangan besar. Sebab, aku pernah berjanji menjaga jarak dengan lelaki. Karena persahabatan antara lelaki dan wanita pada akhirnya akan kalah dengan pendamping. Dan aku memiliki trauma dengannya. Belajar dari kesalahan yang sama, aku membentengi diri dengan kegalakanku. Tapi, bodohnya... aku merasakan ketulusanmu, dan aku tahu bahwa kamu tak akan memanfaatkan situasi.

Perlahan aku pelajari karaktermu, dan aku melihat banyak pengorbananmu. Meski kamu diam saja, aku tahu betapa repotnya dirimu menghadapi timmu. Kepemimpinanmu yang sering kutuntut lebih, bahkan mencoba memperbaiki habitmu yang melekat (datang siang, susah bangun pagi karena tidurnya pun tak tentu), kamu iyakan. Hingga aku merasa kesal sendiri melihatnya. Kamu terlalu baik. Dan terlalu mengorbankan hidupmu, kesehatanmu. Tapi, begitulah dirimu. Berapa kali kita perang dingin. Berapa kali kita ingin coba berlari, namun kembali berusaha berpijak di sini. Perlahan, aku mulai memahamimu dan menyayangimu sebagai kakak lelaki normal yang tak pernah kumiliki.

Kamu dengan kemurahan hatimu, mengabulkan apa yang kuminta. Meski mungkin saat berjalan bersamaku, itu adalah saat membosankan. Sebab, aku memang tak pandai membuka percakapan. Terlebih dengan lelaki. Tetap saja, aku harus menjaga diri, bukan? Tapi kamu tetap memperlakukanku dengan baik. Entah bagaimana masa lalumu, apa yang sedang kauhadapi sekarang, dan cerita lain di luar sana tentangmu. Yang kutahu, kamu adalah kakak lelaki terbaik, partner kerja terhebat yang pernah hadir di hidupku.

Perpisahan denganmu, merupakan hal yang berat dibanding kedua kakak sebelumnya. Mengapa? Sebab, segala tentangmu akan kurapikan dalam ingatan, lalu kupojokkan dan kemungkinan besar kubiarkan berdebu dan tak kulongok lagi. Kamu mencoba tetap menjaga silahturrahim dengan bertanya "Memang kamu ga mau nonton sama aku lagi, Met?"

Haha... aku cukup terharu. Tapi, kita sudah tidak bersama lagi. Dan tak ada alasan bagiku untuk mengganggumu lagi. Melalui surat ini, aku ucapkan banyak terima kasih untuk semua pembelajaran yang kamu berikan. Begitu banyak kejadian yang membuatku belajar dewasa, terutama dari sisi emosional. Aku juga minta maaf dari sekarang, bila nanti kita berpapasan, bertemu, mungkin hanya akan sebatas "say hi", lalu pergi menghindar, seakan kita tak pernah dekat. Jangan kaget. Perpisahan buatku tak mudah. Berapa banyak kehilangan yang kualami, membuatku agak sulit menerimanya dengan cepat dan lapang dada. Aku tak sehebat itu untuk berbesar hati. Nyatanya, masih ada anak kecil yang bersemayam dalam diriku.

Selamat berpisah, kak bedul.
Semoga kamu mengenangku dalam keadaan terbaik. Maafkan adikmu ini...

Meta morfillah

Jumat, 09 Januari 2015

Sebuah nama sebuah cerita: CHATELIA FEBRINA

Ndut. Baik. Tabah.

Itu tiga kata yang terlintas saat menyebut namanya. Saya baru dekat dengannya saat skripsi, itu pun mungkin tidak terlalu dekat sekali. Hanya sebatas sering bareng saat mengerjakan skripsi dan gila-gilaan dengan berfoto ria di perpustakaan jurusan. Saya mengenal dia lebih dekat setelah kami satu kantor. Di kantor, dia adalah salah satu teman dekat saya. Mungkin karena kami berasal dari jurusan yang sama di kampus. Teman senasib sepenanggungan sependeritaan.

Semakin saya mengenalnya, semakin saya temukan banyak nilai kebaikan pada dirinya. Meski dia suka ngeledek, becanda dengan ceplas ceplos, dan kadang agak emosional,  tapi saya merasakan itu semua tulus. Apa yang dia pikirkan, ya dia utarakan. Tapi, setelahnya dia tak menyimpan dendam. Dan seringkali yang dia katakan benar, meski pengemasannya agak ketus, hahaha. Tanpa sadar, dia selalu menyediakan waktunya bila saya membutuhkan. Mau mengantar ke mana-mana dengan si kumbangnya. Meski kurang enak badan, banyak kerjaan, tetap saja dia tipe yang royal dan loyal pada sahabatnya.

Hebatnya, dia mampu mewujudkan salah satu mimpi saya. Jalan-jalan keluar negeri. Dari mulai bikin passport, sampai akhirnya saya menjejak di negeri tetangga (Singapura dan Malaysia), semua berkat dia. Saya yang pengecut, kecerdasan spasial rendah (suka nyasar, lupa jalan, nama, muka, alamat, dll), serta agak perhitungan untuk fun, akhirnya berani. Semua itu berkat dukungan dia, baik dari moriil, waktu, tenaga, hingga finansial. Chatelia dan Reza. Berkali-kali, saat kami bersama, mereka berdua seringkali mengeluarkan uang untuk mentraktir. Hingga kadang saya tak enak sendiri. Saya tak suka dibayari terus, tapi mau bayarin mereka, setiap ga pas waktunya. Selalu saja pas saya sedang bokek… menyebalkan!
Lalu, setelah bulan Mei, sekembalinya dari Malaysia, dia sakit. Sakit yang lumayan parah, dan ternyata banyak sekali penyakit yang ia derita. Saya bilang ia seperti menabung penyakit. Namun, dia tetap saja bersikap biasa. Saya tahu, bahwa sebenarnya ia rapuh, namun ia tak mau menunjukkannya. Benar-benar tipikal wanita kuat.

Hampir setengah tahun ia rehat dari kantor, karena penyakitnya membuat ia kembali belajar seperti bayi. Saya mulai merasakan kehilangan dia. Teman makan, teman ngobrol, dan teman jalan saya. Terutama setiap saya pulang malam. Dahulu, ada dia yang minimal bersedia mengantarkan saya sampai terminal Blok M. Sejak dia sakit, saya sering berjalan sendirian. Kalau terpaksa pulang agak malam, saya sering bingung mau mengajak makan siapa, minta tolong antar sama siapa. Ya, kadang setelah kehilangan kita baru menyadari betapa banyak perhatian seseorang dan berharga kehadirannya. Saya kangeeeeeen sekali dengan dia. Sempat saya menangis sedih, saat ia berada dalam kondisi terburuknya. Saat itu ia mulai tak mengenali orang yang menjenguknya, sering menceracau tanpa disadari. Saya menangis begitu sedih. Saya sendiri heran. Belum pernah saya meneteskan air mata sebegitu sedihnya untuk seorang teman. Saat itulah saya menyadari, bahwa dia sudah menjadi teman spesial. Meski kami semakin jarang bertemu, ngobrol dan bahkan saya lebih banyak diam pasif saat bertemu dengannya, saya semakin sayang dia. Sakitnya dia, terasa sakit juga ke diri saya.

Allah begitu sayang padanya. Saat dia sudah mulai membaik, Allah menguji lagi dirinya dengan mengambil orang yang disayanginya. Ayahnya meninggal. Saya tahu bagaimana rasanya sakit ditinggalkan yang tidak akan pernah bisa kembali bertemu lagi. Saya mengalaminya. Tapi, begitulah saya… tak pernah bisa menghibur dengan baik. Saya hanya bisa menitipkan doa diam-diam dan hadir saat ia butuh. Hanya itu. saya tak pandai mengucapkan sesuatu yang mampu membesarkan semangatnya. Saya hanya bisa meminta Allah untuk menguatkan dan membesarkan hatinya.
Aahh… begitu banyak emosi yang tercurah saat saya menuliskan tentang ini semua. Sekarang, dia sedang menantikan waktu dioperasi. Saya membayangkan bagaimana bila saya jadi dirinya. Apa yang sedang ia pikirkan, bayangkan, atau rasakan? Saya yakin, ada rasa takut. Tapi saya lebih yakin, ia tidak akan membaginya kepada siapa pun. Ia terlalu tangguh. Ia tak pernah mau menyusahkan orang lain dengan masalahnya. Aaah… chatel… semoga Allah memberikanmu kesembuhan dan tiada lagi penyakit setelahnya. Saya dan sahabat-sahabatmu yang lain menantikan kembalinya dirimu.

Terima kasih banyak, sudah menasehati dengan perbuatanmu, tanpa perlu kauucapkan.

Maafkan, bila saya belum bisa menjadi sahabat yang baik.

Love you,
Meta morfillah

Jumat, 02 Januari 2015

[Review buku] Dilan

Judul: Dilan - dia adalah dilanku tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Mizan
Dimensi: 332 hlm, 20.5 cm. Cetakan pertama, April 2014
ISBN: 978 602 7870 41 3

"Cinta itu indah. Jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan."

Petikan kalimat pembuka novel ini, sudah menyiratkan kekonyolan. Dan saat membacanya, kamu akan jauh lebih banyak menemukan beragam kekonyolan. Melalui tokoh Dilan, pembaca akan diajak ke setting tahun 1990 di Bandung. Menceritakan gaya pacaran remaja SMA pada tahun itu. Juga hal-hal yang menjadi isu saat itu seperti tawuran, geng motor, dan sebagainya. Tokoh Dilan yang begitu unik, lucu, pintar, puitis, cuek, namun care banget sama yang disayanginya menjadi magnet utama dalam buku ini. Justru Milea, sang pencerita dalam novel ini tidak terlalu menjadi center. Mungkin bila dijadikan film, scene dilan merayu milea lah yang selalu saya nantikan.

Membacanya begitu ringan, crunchy kayak ciki, hingga tiba-tiba tak sadar bahwa cerita sudah selesai. Kalimat-kalimatnya mengalir dan lucu. Bahkan saya merasa bahwa bila novel ini dibaca pria, mungkin mereka tiba-tiba akan jago menaklukkan wanita. Menjadi penggombal yang lucu... hahah
Contohnya saja, seperti perkataan Dilan berikut..

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja."

Secara tampilan, cover, font, lay out dan sebagainya, menurut saya sudah cukup bagus.

Secara isi pun bagus, bahkan masih menyimpan misteri yang membuat saya menantikan sekuel kelanjutan novel ini.

Saya beri rating 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Rabu, 31 Desember 2014

[Review buku] Hujan Matahari

Judul: Hujan Matahari
Penulis: Kurniawan Gunadi
Penerbit: Canting Press
Dimensi: xii + 206 hlm; 14 x 20 cm, cetakan kedua nov 2014
ISBN: 978 602 19048 1 7

Kumpulan cerita dan prosa ini cukup fenomenal. Awal saya tahu nama kurniawan gunadi, melalui soundcloud suaracerita. Seorang penyiar wanita bersuara empuk bernama dokter fina, dilatari backsound instrumental, membacakan beberapa prosa yang ada di buku ini. Saya jatuh hati pada suara dokter fina dan cerita-cerita itu. Lalu mulailah saya mencari tahu penulis cerita itu. Saya menemukannya di kurniawangunadi.tumblr.com.

Dan ternyata, cerita itu akan dibukukan. Saya penasaran ingin memiliki, namun cara pemasaran buku ini yang banyak syaratnya, harus PO, dan sebagainya membuat saya malas. Beruntunglah, saat cetakan kedua seorang kawan menghadiahkan saya buku ini sebagai hadiah milad. Yeey!

Dari segi tampilan:
Covernya sederhana, tapi cukup mewakili isinya. Ilustrasinya begitu simpel. Untuk layout dan hal teknis lainnya pun simpel.

Dari segi isi:
Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bab, yaitu gerimis, hujan, dan reda. Agak membingungkan untuk saya, atas dasar apa pembagian itu. Karena menurut saya, ceritanya hampir bernada sama di tiap bab. Tentang cinta. Tapi yang menarik adalah, cinta yang diulas di sini, selalu kembali pada hakikatnya. Mengingatkan tentang tuhan, dengan diksi yang indah namun tidak menggurui.

Dan penulisnya lelaki! Entah mengapa, saya merasa penulis ini jauh lebih memahami wanita dibandingkan wanita itu sendiri, haha...

Membaca buku ini, membuat saya tertawa, mengangguk-angguk, tersenyum, terkadang tersipumalu, merasa jlebb banget! Ini "gw banget". Bacaan yang ringan, namun sarat makna. Menyadarkan, bahwa ada banyak pengalaman yang ternyata bisa dialami semua orang. Saya tidak sendirian mengalaminya.

Kesederhanaan yang terasa mengetuk hati saya. Dari sekian banyak cerita, ada dua favorit saya, yaitu cerita berjudul "sepi" dan " benang layang-layang".

Ini cuplikan dari pembuka cerita "sepi":
Setiap manusia adalah kekosongan, mereka saling mengisi satu sama lain. Sekali pun seseorang terlihat ceria dan berparas cerah di kala bersama, tidak seorang pun tahu bagaimana dirinya saat sendiri, mengalami kesendirian.

Ini cuplikan dari cerita "benang layang-layang":
"Kau tahu putriku sayang, laki-laki adalah layang-layang dan perempuan benang. Tanpa perempuan, laki-laki tak akan jadi apa-apa. Di balik ketinggian atau kesuksesan laki-laki, ada kita. Putriku, jadilah benang yang berkualitas terbaik. Buatlah layang-layangmu kelak terbang setinggi-tingginya..."

Rating: 4,5 dari 5 bintang. 0,5 nya berkurang karena saya tak paham pembagian tiga bab itu.

Meta morfillah

Senin, 15 Juli 2013

Peng(aku)an


Ya allah…
Dalam ketahuanku aku semakin tidak tahu
Dalam keberanianku aku semakin ketakutan
Dalam tertawaku aku semakin ingin menangis
Dalam bahagiaku air mata semakin deras
Apalah yang kumiliki?
Apalah arti diri ini?
Apalah makna hidupku bagi semesta?
Seiring kekuatanku aku bertambah lemah
Seiring kemandirianku aku bertambah rapuh
Harapku begitu banyak padamu
Tanpa pernah kuhisab diriku
Bahwa lantunan doaku sangat jelek dan sebentar
Tanpa pernah usaha memperbaiki
Latihan lantunan doa..
Tanpa pernah mau mengubah
Kumohon pemahaman
Berkali kueja peristiwa
Berkali aku meresap makna
Meretas jejak
Tidaklah semudah membalik telapak
Oh ya Allah…
Bilamana suara langit kudengar?
Dunia ini terlalu hingar bingar.

C'est la vie

Setitik kelabu di awan mengabu
Sepotong aksara bermain makna
dicari di peti pikiran
ia tak kelihatan
aksara bermakna tanya
pintanya untuk ditelusuri
sebab musabab
harus terjawab
ontologi
epistemologi
aksiologi
kelamaan aku grogi
menjelma abstraksi pikiran
hanya mampu berikan masukan
lantas kapan aku yang mengerjakan?
Oh...ini bukan masalah kecepatan
percepatan
inilah kehidupan..
C'est la vie