Jumat, 26 Mei 2017

#Day1 Sosok

SOSOK

Alhamdulillah, kembali dipertemukan pada bulan Ramadhan. Niat #Nulisrandom2017 selama ramadhan. Kali ini saya sedang terinspirasi sekali dengan Bunda Khadijah, r.a.

Tiap tahun memang bergelut dengan fundraising sebuah acara besar di suatu komunitas. Lebih seringnya menjadi mediator donatur dengan sasaran donasi. Di saat itulah hati sering tergelitik ingin menjadi orang kaya, sehingga bisa membantu donasi beratus juta. Tanpa perlu membuat relawan "meminta-minta donasi".

Tapi, benarkah akan seperti itu? Kadang kita semakin kikir saat memberikan harta yang menurut kita susah payah kita upayakan. Terlebih jika dalam tiap harta benda itu ada history berarti. Memberikannya pada orang lain menjadi teramat sulit.

Di sinilah saya terkesan pada sosok Bunda Khadijah r.a. yang hingga menjelang kematiannya pun beliau berupaya tetap bermanfaat bagi dakwah Islam. Hingga beliau berwasiat jika tidak ada lagi yang bisa dipakai, maka juallah tulang belulangnya demi biaya dakwah Rasul. Totalitas. Seorang MusliMilyarDermawan hingga akhir hayat, yang menurut kita cukup memprihatinkan. Tapi bagi yang bervisi surga itu adalah kekayaan.

Ya Allah, buatlah hatiku sebagaimana hatinya. Condong pada kebaikan dan menjadikan dunia di genggaman, bukan dalam hati. Sungguh, sosok teladan yang amat jauh namun terus memacu diri untuk mendekatinya. Berkahilah, ampunkanlah, dan izinkan aku berkumpul dengannya di surga kelak ya Rabb...

Meta morfillah

Kamis, 25 Mei 2017

[Review buku] Cause celeb

Judul: Cause celeb
Penulis: Helen Fielding
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 480 hlm, 18 cm, cetakan pertama Januari 2005
ISBN: 979 22 1200 0

Alasan menjadi relawan:
a. misionaris?
b. prajurit bayaran?
c. orang aneh?
d. patah hati?

Rosie Richardson merasa dirinya perpaduan antara c/d saat memutuskan menjadi relawan di Afrika. Bermula dari kesal terhadap pacaranya, Oliver yang merupakan selebriti, Rosie memilih pergi ke Afrika, tepatnya Nambula.

Dia tidak pernah menyangka bahwa ia akan betah dan semakin tenggelam dalam dunia kerelawanan. Empat tahun sudah dia lewati di Nambula, yang berkali dilanda bencana kelaparan, peperangan dan wabah penyakit.

Namun tahun ini, semua bencana itu begitu besar dan menghabiskan seluruh persediaan makanan, obat, dan juga tenaga. Mengetuk PBB dan beragam LSM lain tidak mendatangkan hasil. Hanya janji kosong. Tercetuslah sebuah ide brilian yang bisa Rosie lakukan demi jutaan nyawa yang sedang di ujung tanduk. Sayangnya hal itu mengharuskan dia kembali ke London dan berhubungan lagi dengan Oliver, segenap selebriti, dan dunia hedonis yang telah lama ia tinggalkan. Akankah rencananya berhasil?

Membaca ini, seakan saya diingatkan lagi niat dan motivasi saya bergerak sebagai relawan di tiap komunitas yang saya ikuti. Rosie menggambarkan sosok naif namun nyata dalam cerita ini. Meskipun lagi-lagi konten dewasa tetap menjadi bumbu utama, namun deskripsi Afrika, artis, dan bagaimana NGO serta PBB bergerak cukup terwakili.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Aku mulai merasa kesepian, lalu mengingatkan diriku sendiri bahwa banyak hal yang lebih buruk daripada sekadar sendirian." (H.92)

"Hal yang paling membuat kita ingin menangis adalah ketika ada orang begitu manis terhadap kita." (H.281)

"Peristiwa yang begitu nyata dan menyedihkan bagi kita, bisa menjadi hiburan bagi orang lain. Itu salah satu cara mudah membuat kita tampil menarik, tapi juga murahan." (H.356)

Meta morfillah

Rabu, 24 Mei 2017

[Review buku] Auguste Dupin

Judul: Auguste dupin
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerbit: Visimedia
Dimensi: x + 326 hlm, 130 x 200 mm, cetakan pertama desember 2012
ISBN: 979 065 142 2

Terdiri atas 5 kisah dengan 4 kisah tentang detektif dan 1 kisah tentang horor. Sayangnya, 3 kisah awal sudah saya baca dalam buku "The black cat" karya penulis yang sama. Dan 3 kisah itu yang dominan (Pembunuhan di rue morgue, misteri pembunuhan marie roget, dan kisah surat yang dicuri), 2 sisanya begitu cepat dilahap (kumbang emas, dan fakta-fakta dalam kasus M. Valdemar).

Tapi tetap kece sih, meski bahasanya agak ribet.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Sabtu, 20 Mei 2017

[Review buku] Ramalan kue pengantin

Judul: Ramalan kue pengantin
Penulis: Jennifer O'Connell
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 472 hlm, 18 cm, cetakan I februari 2007
ISBN: 978 979 22 2668 3

Dari sebuah pilihan kue pengantin, Laureen--pemilik butik kue paling top di Boston--mampi menebak masa depan hubungan pasangan tersebut. Saat ia melayani sahabatnya, Paige dan Steve bertengkar soal kue pengantin mereka, Laureen melihat masa depan mereka akan gagal.

Tak mau mengulangi kesalahan dahulu, saat ia diam saja melihat pilihan kue sahabatnya yang lain, Robin dan Mark, meskipun tahu bahwa hubungan keduanya akan gagal, kali ini Laureen memutuskan untuk memberitahu Paige. Ia tidak ingin melihat masa depan Paige hancur seperti Robin yang tak bisa move on setelah diceraikan Mark di tahun kedua pernikahan mereka.

Paige menerima saran Laureen, tapi hidupnya jadi menyedihkan. Laureen bertanya-tanya akan ramalannya sendiri, apakah keputusan memisahkan Paige dan Steve sudah tepat? Sementara dirinya sendiri tidak menemukan jawaban, antara memilih mantan pacarnya, Neil yang sama-sama menyukai kue pengantin pilihannya (menurut dirinya mereka berjodoh) ,atay Charlie, pacarnya yang sekarang yang menolak kue pengantin kesukaannya.

Huwoo, ternyata kue pengantin itu bisa dalam sekali maknanya ya dalam pernikahan orang luar sana. Kukira hanya sebagai pajangan saja atau sekadar pengenyang. Juga banyak isu yang diangkat dalam novel ini. Isu kaum feminis (Robin yang kecewa pada pria), LGBT (klien Laureen yang menikah sesama jenis), kemandirian wanita, kendali hubungan, persahabatan dan tentunya masalah move on.

Kuapresiasi 3 dari 5 bintang.

"Semua orang tahu bahwa hal terbaik datang kepada mereka yang menunggu." (H.42)

"Tidak semua bisa terjadi sesuai keinginan kita, dan itu tidak berarti kau harus menyalahkan seseorang karenanya dan memperpanjang penderitaan." (H.197)

"Kau akan menemukan apa yang kaucari begitu kau berhenti mencari. Selalu begitu, ya kan?" (H.292)

"Tidak ada yang bisa membuatmu menjadi korban kecuali kau membiarkannya." (H.374)

Meta morfillah

[Review buku] Matahari

Judul: Matahari
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 400 hlm, 20 cm, cetakan kelima Agustus 2016
ISBN: 978 602 03 3211 6

Buku ketiga dari serial "BUMI" ini membuat saya teringat novel serial terjemahan The tunnels. Saat menceritakan Klan Bintang yang hidup di pusat bumi. Oh ya, di buku sebelumnya kita hanya tahu ada 3 klan: bumi, bulan, dan matahari. Tapi ternyata, Ali menemukan rahasia lain tentang klan keempat, yakni klan bintang yang diyakini telah musnah.

Tidak hanya itu saja, dengan kejeniusannya Ali berhasil membuat pesawat yang memiliki teknologi klan bulan dan klan matahari: bisa menghilang dan mengeluarkan petir. Dengan pesawat itu pula Ali berhasil menemukan lorong kuno yang menuju peradaban klan bintang ke pusat perut bumi.

Bertiga (Raib, Seli, dan Ali) melakukan petualangan dan menemukan fakta yang akan mempengaruhi nasib dunia dan antar klan 6 bulan ke depan. Selama perjalanan ada banyak kejutan menarik dan bertambahnya kekuatan mereka. Apakah fakta tersebut? Mampukah mereka mengatasi semua masalah?

Seriously, keren! Aku suka banget alur di buku ini. Dinamis, banyak twist dan konflik. Kalau difilmkan pasti keren. Banyak teknologi mutakhir yang dalam bayangan saya adalah campuran film matrix, hunger games, animorphs, dan fantasi lainnya.

Hanya saja, saat pertama sampai di lembah Faar, ada keanehan, janggal dalam logika berpikirku ketika tanpa dijelaskan mereka memahami bahasa yang berbeda, padahal di kelanjutannya mereka baru memahami bahasa klan bintang karena alat penerjemah. Selebihnya, aku tak sabar ingin membaca buku lanjutannya: BINTANG.

Aku apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Sesuatu akan bertahan lebih lama saat diwariskan lewat buku, dituliskan." (H.357)

"Meskipun kamu menertawakanku, tidak percaya, aku tetap melakukannya. Aku tahu persis, aku bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan orang lain." (H.362)

"Jangan cemaskan sesuatu yang belum terjadi. Kita selalu bisa mengubah jalan cerita dengan ketulusan." (H.389)

Meta morfillah

Bertambah gaji=bertambah tuntutan

BERTAMBAH GAJI = BERTAMBAH TUNTUTAN

"Meta sekarang susah diajak ketemuannya. Sibuk banget! Alasannya selalu gak jodoh. Klise!"

Entah sudah berapa banyak pertemuan, undangan, dan kematian yang tidak dapat saya hadiri. Semua terjadi sejak saya pindah ke Bogor dan melejit sejak saya menjadi wali kelas di SMP.

Sejujurnya sebagaimana Feeling yang orientasi pada kenyamanan dan hasil (STIFIn), saya sejak awal tahu bahwa kenaikan jabatan--gayamu, Met!--ini akan banyak mengurangi kesenangan saya. Sedari awal saya menyadari bahwa kenyamanan hubungan saya dengan beragam pihak akan terganggu, sebab harus mendahulukan tugas. Padahal saat kenyamanan Feeling terganggu, hasil kerjanya akan memburuk.

Dari awal pula saya mencoba nego agar tetap di level bawah, nyatanya takdir Allah mendahului dan memastikan saya belajar banyak lewat amanah baru di SMP. Yaa, saat dunia memberikanmu lemon yang masam, maka ubahlah menjadi jus lemon. Akhirnya itulah yang saya lakukan. Saya ciptakan suasana yang membuat saya nyaman, beragam sugesti positif hingga hasil kerja saya tidak terganggu oleh mood yang mudah swing.

Setelah tercipta kenyamanan itu, banyak orang luar menanggapi sepenglihatan mereka saja. Kerja saya itu enak banget, kayaknya enggak capek mikir, jalan-jalan terus, praktik terus, bahkan sampai sempat latihan nyetir mobil, kayaknya banyak waktu luangnya dan gak ribet lah urus anak, dan gajinya sudah pasti lebih besar.

Haha... saya ketawa keras kalau ada yang bilang begitu, reaksi saya cuma "Yaudah, sini kerja di SMP. Biar kalian rasakan sendiri sensasinya."

Dari dulu sampai sekarang, namanya sukses itu hanya terlihat enaknya. Siapa yang tahu prosesnya banyak mengorbankan hal-hal penting bagi yang mengalaminya. Dan dari dulu, di perusahaan atau tempat kerja mana pun, naiknya gaji itu sudah pasti naik pula amanah, tanggung jawab, dan tuntutan.

Jangan pernah berharap naiknya gaji bikin kamu bisa ongkang-ongkang kaki, makan gaji buta. Meski ada yang begitu, tapi yaa kalau memang sesuai job desc kerja harusnya gak ada. Itu mah menyalahgunakan wewenang dan jabatan namanya, udah pasti gak berkah hidupnya.

Lewat tulisan ini, saya cuma ingin berbagi dan reminder untuk mempertanyakan lagi kredibilitas dan kompetensi kita, apakah sudah sebanding dengan gaji yang kita terima? Kalau belum, perbaikilah. Kalau sudah, alhamdulillah. Kalau ternyata menurut kita kurang sesuai, mungkin Allah membalasnya dengan gaji yang lain: rezeki yang tidak disangka-sangka.

Pada akhirnya, tetaplah bersyukur. Saya juga mohon maaf pada teman-teman yang seringkali tak saya hadiri undangannya. Sungguh, menata waktu agar mencapai life balance masih menjadi PR untuk saya. Bukan saya sombong (T_____T)

Pengakuan saja: jarak, waktu, dan usia berdampak pada hubungan kita. Mohon doanya selalu yaa agar tetap sehat.

Meta morfillah

Kamis, 18 Mei 2017

Kepercayaan

KEPERCAYAAN

"Ka, banyak yang pesan, tapi aku gak punya uang untuk talangin. Boleh gak kalau dikirim dulu barangnya, nanti baru kutransfer cash?"

"Boleh ta. Kalau sama kamu mah aku percaya."

Hal senada dilakukan penjual online lain meski belum bertemu muka denganku. Berani sekali mereka mengambil risiko mengirimkan barang dalam jumlah cukup besar dan tidak ada DP. Tahu-tahu saja aku dijapri barang sudah dikirim dan kuterima bahkan belum kubayar.

"Masya Allah ka, kok kamu percaya sama aku? Kita ketemu juga belum. Gak takut kubawa kabur?"

"Hehe, enggaklah. Aku pegang kata-katamu dan sebelumnya aku cari tahu tentang kamu dari teman yang hubungkan kita. Semua bilang kamu komitmen dan amanah kok! Bisnis itu TRUST. Dan aku berani ambil risiko, karena aku YAKIN kamu bisa DIPERCAYA."

Terbayang dalam benakku, betapa Rasulullah SAW sungguhlah teladan. Pantas saja Rasul sukses berbisnis. Sebab kunci bisnis adalah TRUST/PERCAYA. Dan Rasul adalah orang paling dapat dipercaya hingga digelari Al Amin. Bahkan hingga berdakwah pun, orang kafir mendustakan agama/ajaran yang dibawa Rasul, bukan pribadi Rasul yang tetap diakui sebagai Al Amin.

Sebagai manusia, hubungan kita begitu rentan. Butuh dasar yang kuat untuk berpijak agar tak gamang. Kepercayaan adalah pijakannya. Hal yang penting. Bisa dianalogikan kepercayaan bagai keperawanan. Sekali rusak, tidak akan bisa kembali utuh seperti sediakala. Maka menjaganya perlu effort luar biasa. Saat kau merusak kepercayaan orang lain terhadapmu, maka bersiaplah kehilangan satu-satunya yang kaumiliki di dunia ini: Nama Baik!

Meta morfillah