Senin, 15 Mei 2017

[Review buku] Escape velocity

Judul: Escape velocity
Penulis: Mark walden
Penerbit: Mizan fantasi
Dimensi: 432 hlm, cetakan I Maret 2014
ISBN: 978 979 433 760 8

Dr. Nero diculik! Pelakunya adalah sebuah organisasi baru bernama HOPE yang mengklaim sebagai pembasmi teroris dunia. Tiga bulan HIVE lewati tanpa kepala sekolah, hingga Number One mengangkat seorang kepala sekolah baru. Sayangnya kepala sekolah baru itu adalah pengkhianat HIVE yang kejam.

Otto dan kawan-kawan bertekad membebaskan Dr. Nero meskipun tantangannya jauh lebih sulit. Mereka harus keluar dari HIVE dan menembus markas MI6 HOPE yang mustahil ditembus. Tapi puncak dari itu adalah kenyataan menyakitkan yang kelak akan Otto ketahui. Di sini, kita tidak pernah tahu mana jagoan dan mana penjahat!

Really great! Aku suka banget konflik di buku seri ketiga ini, twistnya tidak terduga dan makin kece membayangkan peralatan mutakhir serta sarang MI6 dan number one. Juga sedih untuk Otto dan HIVE mind.

Aku apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Orang yang kamu takuti tak akan pernah mendapat kesetiaanmu yang sejati." (H.267)

Meta morfillah

Minggu, 14 Mei 2017

[Review buku] Overlord protocol

Judul: Overlord protocol
Penulis: Mark walden
Penerbit: Mizan fantasi
Dimensi: 472 hlm, cetakan I Maret 2014
ISBN: 978 979 433 714 1

Tahun pertama Otto dan Wing di HIVE penuh petualangan. Namun kabar mengejutkan tentang kematian ayah Wing membuat keduanya diizinkan ke dunia luar untuk menghadiri pemakaman. Sayangnya, semua itu adalah jebakan.

Mereka mengalami pertarungan yang berat, hingga Wing pun mati. Pelakunya adalah Cyper, sosok misterius, dewan pimpinan di GLOVE yang membenci Nero dan HIVE. Tidak sampai di situ saja, Cyper bahkan menyabotase HIVE dari dalam dengan membuat orang dalam HIVE berkhianat.

Apa yang diincar Cyper adalah sebuah protokol yang dapat menguasai dunia dan bahkan membuat Number One bertekuk lutut padanya. Sebuah alat yang berbahaya bila jatuh ke tangan yang salah!

Wah, benar-benar seru baca rangkaian novel remaja ini! Sayangnya kata ponakanku, ternyata buku ini ada 8 seri, bukan 3. Dan saat mencari di book fair kemarin tidak dapat lanjutannya. Mohon info ya kalau ada yang tahu buku lanjutannya (4-8). Aku belum cek sih ke gramedia/toko buku.

Yang seru adalah membayangkan imajinasi peralatan, action, alur serta konflik cerita ini. Sekolah penjahat, tapi masih beretika dan bahkan membuat tokohnya terasa baik. Villain (tokoh antagonis yang membuat kita iba/jatuh hati padanya.

Aku apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Mangsa para penjahat justru penjahat lainnya."

"terlalu sering melihat perdebatan sepele berkembang menjadi pertumpahan darah yang berbahaya dan merugikan." (H.30)

"terkadang kamu akan merasa takutpada kebenaran, kadang lebih baik kamu tidak tahu." (H.94)

Meta morfillah

Sabtu, 13 Mei 2017

[Review buku] Sepotong senja untuk pacarku

Judul: Sepotong senja untuk pacarku
Penulis: Seno gumira ajidarma
Penerbit: Gramedia
Dimensi: xii + 208 hlm, cetakan ketiga januari 2017
ISBN: 978 602 03 1903 2

Enam belas cerita pendek yang dibagi menjadi 3 bagian: Trilogi Alina, Peselancar agung, dan Atas nama senja. Dalam Trilogi Alina, menceritakan kisah Sukab, Alina, dan Tukang Pos yang menjadi inti utama buku ini. "Sepotong senja untuk pacarku" adalah surat hati Sukab untuk Alina. "Jawaban Alina" adalah balasan surat Sukab dari Alina yang telat 10 tahun. "Tukang pos dalam amplop" adalah kisah orang ketiga, yakni tukang pos yang menyebabkan keterlambatan surat selama 10 tahun.

Sementara 10 cerpen di bagian kedua cukup rumit bagi saya. Sejujurnya saya agak mengernyit membaca "Jezebel" dan "Senja hitam putih". Sedangkan " Anak-anak senja" dan "Senja yang terakhir" seperti awal dari akhir, memutar kembali ke awal. Twist yang saya suka ada di cerpen "Mercusuar" dan "Peselancar agung". Sisanya lebih ke deskripsi dalam kisah "Ikan paus merah", "Kunang-kunang Mandarin", "Rumah panggung di tepi pantai" dan "Hujan, senja dan cinta".

Di bagian ketiga, terdapat 3 cerpen yang juga lebih ke deskripsi dan membingungkan juga bagi saya haha. Hanya "Perahu nelayan melintas cakrawala" yang saya pahami sedikit. "Senja di pulau tanpa nama" cukup membuat saya pusing dengan perpanjangan subyek/keterangan. Mengulang-ulang. "Senja di kaca spion" pun saya kurang paham.

SGA memang nomor satu dalam hal deskripsi senja. Sungguh, dia salah satu penulis yang membuat saya betah membaca deskripsi alam, terutama senja yang berulang. Biasanya saya sering melewatkan bagian deskripsi karena membuat ngantuk. Tapi jujur, memang bahasan isinya cukup berat dan rumit. Membuat saya menebak-nebak apa makna dan mau ke mana alurnya. Di buku ini disertakan pula surat asli Sukab berjumlah 2 lembar (4 halaman).

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Apakah tempat memandang yang sama akan menghasilkan penglihatan yang sama?" (H.87)

"Itulah senja, yang seperti cinta, tiada pernah tetap tinggal abadi, selalu berubah sebelum punah, meninggalkan segalanya dalam kegelapan dunia yang merana." (H.92)

"seperti kebahagiaan, yang lewat melintas dalam kenangan terbatas." (h.93)

"Aku tidak pernah membawa apa-apa, tapi selalu membawa cinta." (H.122)

"Memang tidak semua orang bisa menjadi penyair, tetapi setiap orang memiliki puisinya sendiri." (H.190)

Meta morfillah

Jumat, 12 Mei 2017

Surga sebelum surga

Telepon malam.

"Kamu kapan ke Jakarta?"

Telepon subuh.

"Hayo bangun, ke Jakarta."

Telepon pukul 09.00

"Sudah di mana? Sudah sarapan? Mama panggilin tukang urut buat kamu. Buruan ke Jakarta. Jangan bawa motor!"

Sesampainya di Jakarta.

Terhidang sarapan kesukaan: bihun, sate kikil, dan bakwan. Tahu aku rada mual, dihidangkan manisan mangga. Tak lupa mengingatkan menu makan siang kesukaan: kepala ikan bawal goreng. Disuruh menunggu tukang urut yang sudah buat janji pukul 13.00. Diwanti-wanti tak boleh beraktivitas hari ini.

Masya Allah... mama tersayang, tercinta, padahal di pembicaraan tha gak bilang apa-apa. Tapi beliau tahu apa kebutuhan tha, bagaimana kondisi tha. Selalu amazing sama perlakuan mama. Tidak harus punya keahlian untuk menyenangkan dan memuliakan, tetapi perhatian itu yang luar biasa.

Allah... makhlukMu yang kauberi rahim dan sifat rahiim (penyayang) ini saja sudah luar biasa, apalagi Engkau yang Maha Rahiim. Mama adalah surgaku sebelum surga.

Sayangi kami ya Allah...

Meta morfillah

Gue-elo NO! Aku-kamu YES!

GUE-ELO NO! AKU-KAMU YES!

"Bu, gara-gara Ibu sekarang aku ngomongnya jarang 'gue-elo'. Soalnya keingetan muluk di kelas Ibu suka negur 'Hei, bicaranya yang baik!"

"Iya, Bu. Jadi aneh sekarang kalau kasar bicaranya. Ngomongnya pakai 'aku, saya, atau nama sendiri"

"Hehe, bagus dong! Berarti kalian sudah mengamalkan hadits. Ibu juga dulu kayak kalian pas baru pindah. Susah dan lama mengganti kebiasaan bicara pakai 'gue-elo'. Tapi selalu diingatkan sama murid Ibu yang kelas 2 SD."

"Hadits yang mana, Bu?"

"Innallaha yubghidul fahisyal badzia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan kotor kata-katanya."

Dua anak lelaki Feeling ekstrovert itu mengangguk-angguk setuju.

Yaa, semenjak hijrah ke Bogor banyak hal kecil yang kupelajari namun berarti besar buatku. Salah satunya mengurangi berkata kasar, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menerapkan ini (tidak pakai gue-elo) mudah kalau di Bogor dan di media sosial. Tantangannya adalah ketika aku sedang berkumpul dengan teman dan keluarga di Jakarta.

Berkali istighfar dan menahan sabar mendengar pembicaraan dan membaca japrian mereka yang pakai gue-elo itu. Sebab terbiasa, hal itu menjadi kasar bagiku. Kalau sudah tak tahan biasanya aku bilang sambil senyum "Bisa gak, ngomongnya gak gue-elo, tapi aku-kamu?"

Lalu mereka biasanya heran, seakan aku minta dinikahi. Haha... soalnya bicara pakai aku-kamu itu terkesan romantis dan untuk hubungan yang lebih dalam. Tapi itulah dakwah dan ukhuwah. Tinggal sikap kita, ingin mewarnai atau terwarnai dengan kebaikan? Sejauh ini, alhamdulillah teman dan keluarga jadi tahu kalau bicara sama aku ya pakai 'aku, kamu, saya, atau nama panggilan'.

Yuk, pelan-pelan kembalikan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadinya romantis loh, kayak film jadul "Tenggelamnya kapal van der wijck" dll. Hehe

Meta morfillah

Kamis, 11 Mei 2017

Beda tapi membela

BEDA TAPI MEMBELA

Menjelang Ramadhan semakin banyak perbedaan/ikhtilaf tentang hal yang furu'/percabangan. Tentang ritual ibadah. Menyikapi ini, saya pribadi berpegangan pada Hadits kelima dalam Hadits arbain Imam An Nawawi

"Barangsiapa yang membuat-buat hal baru dalam urusan (ibadah) YANG TIDAK ADA DASAR HUKUMNYA maka ia tertolak." (H.R. Bukhari dan Muslim)

"Barangsiapa melakukan amalan YANG TIDAK DIDASARI PERINTAH KAMI, maka ia tertolak." (H.R. Muslim)

Selama yang menjalankan memiliki dalil yang mereka yakini pasti dan para ulama pun ada yang melakukan, saya akan diam. Sebab ilmu Allah memang luas, Al Quran tersurat dan tersirat, terlihat mudah tapi bisa dibedah berlapis-lapis. Pun sunnah Rasul, bahkan semasa Rasulullah SAW hidup sudah terjadi perbedaan tafsir. Manusiawi. Tapi Rasul tidak menyalahkan.

Pun para ulama mencontohkan keagungan akhlak di atas perbedaan meski sangat meruncing. Sebab kita bukanlah hakim, kita adalah dai. Bukan tugas kita mengharamkan dan menghakimi seseorang salah atau benar. Tugas kita menyeru pada jalan Allah.

Perbedaan itu pasti, tapi selama yang wajib (Rukun iman, rukun islam, ihsan) kita satu dan sama, yang lain dimaklumi asal ada dalil terpercaya. Akidah melahirkan ukhuwah, selebihnya hanya selera. Aneh jika semakin mengaji, kita semakin sinis terhadap perbedaan. Semakin garang pada yang beda harakah.

Hanya karena dia shalat pakai qunut, kita tidak, kita jauhi dia. Tahiyat telunjuknya goyang-goyang, kita tidak, kita musuhi dia. Padahal masih banyak yang belum shalat. Harusnya kita fokus menshalatkan yang hidup, bukan malah sibuk cari dalil untuk mengetahui siapa yang benar dan salah dalam hal ittiba' (mencontoh Rasul).

Harakah/kelompok bukan berpecah belah, itu fastabiqul khairaat. Cara kita yang berbeda untuk menuju satu muara. Allah dan Rasul. Surga yang didamba. Jangan sampai berpecah belah atas hal kecil dan menyakiti saudaranya. Muslim seharusnya menjadi seseorang yang membuat nyaman dan aman saudaranya. Bukan saling tuding dengan yang seagama dan malah ramah dengan yang berbeda agama. Aneh!

Percayalah, sebeda-bedanya kita, selama syahadat kita sama, kita akan saling membela di hari kiamat.

*pemikiran wanita yang perlu dihalalkan dan dibimbing #eeh

Meta morfillah

Rabu, 10 Mei 2017

Karena wanita ingin dimengerti

KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI

Karena wanita ingin dimengerti, bahkan oleh dirinya sendiri.

Jadi wanita itu, sungguh luar biasa. Ada hari-hari di mana wanita bahkan merasa ini bukanlah dirinya. Sains bilang sebab hormon yang tidak stabil, terutama saat haid yang dikenal PMS.

Yang biasanya ceria, tiba-tiba murung. Yang biasa murung, makin melankolia. Tanpa alasan suka menangis tiba-tiba. Yang biasanya kuat, tiba-tiba ingin dimanja. Yang biasanya manja, makin meraja.

Lalu aku terharu... agamaku begitu memahamiku sebagai wanita. Dimakluminya keanehan bulanan itu dengan menyebutnya penyakit. Diberikannya jeda leluasa untuk tidak beribadah sebab kepayahan yang melanda. Baru haid bulanan saja, rasanya seperti meregang nyawa. Sumilangan, darah rendah, pingsan, nafsu makan berkurang, daya tahan menurun, dan beragam keluhan lain. Bayangkan, bagaimana bila melahirkan.

Agamaku begitu memahamiku sebagai wanita. Diterangkannya asal penciptaan kami dari sebuah tulang rusuk yang tidak di atas untuk menjadi sombong, tidak di bawah untuk diinjak, melainkan dekat ke jantung untuk dicinta. Di samping. Mendampingi. Dijelaskannya sifat tulang rusuk yang bengkok dan tak bisa dipaksa patah. Yaa... seringkali kami ingkar dan lupa syukur atas kebaikan yang telah diberikan, hingga harus diingatkan. Namun bila kasar dan terlalu saklek, kami mudah patah dengan kata-kata.

Masyaa Allah... karena wanita ingin dimengerti. Islam begitu mengerti wanita. Maka, dalam Islam, bernafaskan Islam, memilih penggenap dan pemimpin yang memahami Islam menjadi kebutuhan, bukan lagi keinginan.

Jadi... pahamkah kau mengapa aku masih berpegang teguh pada agama ini?

Meta morfillah