Minggu, 23 April 2017

7 tahun BEM FIP

Long weekend banyak reuni. Minggu ini sama teman seperjuangan di BEM FIP. Minggu depan sama teman SMK TELKOM SPJ. Sayang, keduanya tak bisa kuhadiri sebab sudah ada agenda utama lebih dulu di tanggal yang sama.

Sudah berapa lama ya kali terakhir bertemu teman BEM? Bahkan banyak pernikahan dan kelahiran yang tak kuhadiri. Jauh sekali rasanya masa lalu itu.

Masa di mana jiwa muda--dan akan selalu muda, haha--mengeja TOTALITAS PENUH IKHLAS. Kalimat yang kita jadikan slogan. Dua kata: Totalitas dan Ikhlas, yang hingga kini masih kueja dan belum kukuasai. Dua kata yang pernah dipertanyakan senior kita, di mana letak totalitas kalau masih 4 L (Lo lagi Lo lagi) yang bekerja? Di mana letak ikhlas kalau masih ada keluh?

Woow... bersyukur bertemu dan menghabiskan masa muda dengan kalian. Dengan kesibukan organisasi yang hingga kini terbawa ke dalam hidup sehari-hari. Berjayalah di mana pun kiprah kalian kini.

Salam toge(ther), hehe

Meta morfillah

Sabtu, 22 April 2017

Selamat Hari Buku Internasional

Selamat Hari Buku Internasional!

Mengapa 23 April? Sebab banyak penulis terkenal yang meninggal di tanggal ini. Nah, siap-siap saja kalau kamu penulis terkenal hehe! #eeh #canda

Kalau bicara buku, semacam bicara kekasih bagi saya. Cinta yang tak pernah salah. Seburuk-buruknya buku, tetap memberi pembelajaran baik buat saya. Baik dari ide, gaya kepenulisan, alur, tata bahasa, dan kontroversinya. Penulis adalah pekerjaan paling seksi bagi saya.

Orang yang menulis dan berkarya ribuan buku itu seksi dengan kecerdasan dan keberaniannya memamerkan kebodohan, tanpa merasa dia yang paling benar. Sebab saat ilmu sudah disebar (explisit knowledge), tidak lagi sekadar di pemikiran (tacit knowldge), akan ada banyak masukan untuk menajamkan pemikiran kita.

Tidak semua akan setuju dan tidak setuju dengan apa yang kita tulis. Tentunya kita pun menulis bukan untuk menyenangkan semua orang.

Hari buku... bagi saya menyadarkan seberapa banyak buku di dunia ini yang telah saya baca? Bahwa terlalu banyak ilmu terserak yang masih belum kita bacai. So many books, so little time.

Hayo, melek literasi! Kurangi gadget, biasakan 1 jam membaca tiap hari. Seru  kayaknya kalau semua berhasil membuat 1 buah buku sebelum mati. Membaca jiwa kalian dari apa yang kalian tuliskan.

Meta morfillah

Jumat, 21 April 2017

Jangan berduka

JANGAN BERDUKA

Laa tahzan, innallaha ma ana.

Jangan berduka, sesungguhnya Allah bersamamu. Demikian lembut, Allah menghibur dan tak ingin hambaNya berduka. "Yaa...'ibaadii. Duhai, Hambaku..."

Laa tahzan, innallaha ma'ashshoobiriin.

Jangan berduka, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar. Allah lebih tahu tentang dirimu, apa-apa yang telah kaulalui. Allah tak ingin kamu berduka. Sebab kamu telah diciptakan sempurna dan ditinggikan dengan keimanan serta ketakwaanmu.

Meski dunia mengatakan nasibmu akan buruk, nilai dirimu tak termasuk standar manusia keren, Jangan berduka!

Percayalah, kamu begitu disayang Allah. Kasih sayang Allah jauh lebih hebat dari kasih sayang orangtuamu. Tinggal kamu yang harus sadar akan kasih sayangNya. Dimulai dari kesadaran akan kehadiranNya dalam tiap detik hidupmu. Lalu rasakan penjagaanNya.

Maka, jagalah Allah agar selalu di sisiMu. Apa pun yang kauinginkan, Allah sanggup kabulkan. Jangan berduka... minta padaNya.

Teruskan kinerja positifmu, tunjukkan bahwa kamu layak mendapatkan surga Firdaus. Sibukkan dirimu dalam hal-hal yang dicintai Allah, hingga larut dukamu dan bahagia saja yang kaudapati. Sebab bersama Allah, tiada cemas.

Meta morfillah

Rabu, 19 April 2017

Jangan lengah, ingat Allah!

JANGAN LENGAH, INGAT ALLAH!

Ingat kisah perang Uhud?
Kemenangan yang berbalik menjadi kekalahan telak karena euforia ketamakan dan ketidaktaatan terhadap instruksi pemimpin.

Perjuangan masih panjang. Jangan terlarut euforia semu. Jangan lengah. Jangan sombong. Kawal terus. Doakan terus.

Q. S. An-Naşr:1 dan 3 - Apabila TELAH DATANG PERTOLONGAN ALLAH DAN KEMENANGAN, maka BERTASBIHLAH dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Satu lagi, jangan menjelekkan lawan. Kalau kita mau unggul, bukannya menghapus garis panjang (hasil kerja) yang telah dibuat lawan. Melainkan buatlah garis yang jaauuuuuhhhh lebih panjang (hasil kerja) dari lawan kita. Sehingga saat dibandingkan kita akan tetap menang dengan elegan dan diakui tanpa perlu menyakiti harga diri.

Meta morfillah

Selasa, 18 April 2017

Mari nyalakan lilin!

Sistem kerajaan di Arab dan demokrasi di Indonesia jauh dari ideal yang kita citakan. Amat jauh dari khilafah yang kita rindukan. Tapi dari 'alim agung bernama Raja' ibn Haiwah, kita belajar agar tak pernah kehilangan harapan untuk menghadirkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan dalam sistem dan keadaan yang bagaimana pun rusaknya.

Demi Allah, seburuk-buruk pencuri adalah pencuri harapan.

Rasul bersabda, "Siapa yang mengatakan manusia telah hancur, maka dialah orang yang paling hancur." (H. R. Bukhari dan Muslim)

Kita belajar dari Raja' untuk mengamalkan kaidah ushul: Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh. Apa-apa yang tidak bisa kita raih sepenuhnya, jangan kita tinggalkan sepenuhnya.

Raja' tidak mengutuk sistem, melainkan berikhtiar. Dia dekati sang raja, Sulaiman ibn Abdul Malik dan mencari peluang menghadirkan kebajikan dalam tiap kebijakan yang akan ditetapkan.

Akhirnya, dia hadirkan Umar ibn Abdul Aziz kepada umat. Meski hanya 2 tahun masa kekuasaannya, menjadi buah bibir termanis sepanjang masa. Hingga tiada rakyat yang bersedia menerima sedekah dan serigala pun enggan memangsa domba. Meski setelah Umar wafat, kembali kekuasaan diturun temurunkan.

Maka, mari kita nyalakan lilin bagi Jakarta. Lakukan sesuatu. Pilih sosok yang kita harapkan lebih banyak manfaat daripada mudharat. Semoga Allah hadirkan sosok Umar ibn Abdul Aziz bagi Jakarta dan Indonesia. Dengan ikhtiar terbaik kita.

JANGAN GOLPUT! JANGAN HANYA MENGUTUK SISTEM TANPA MAU BERKONTRIBUSI!

#inspire from book - Salim A. Fillah
Meta morfillah

Antara cinta dan ridha Mama

ANTARA CINTA DAN RIDHA MAMA*

Mama adalah satu-satunya curahan cintaku setelah Bapak meninggal. Pintu surga paling tengahku. Pemulus ridha Allah kepadaku. Sebab ridha orangtua adalah ridha Allah dan murka orangtua adalah murka Allah. Begitu sabda Nabiku.

Pintanya agar tidak berjauhan dan berkenan mengurusnya di masa senja adalah titah untukku. Lalu bila datang cinta mengetuk hati namun berseberangan pinta dengan pinta mama, manakah yang harus kupilih?

Banyak omongan menyuruhku cenderung memperjuangkan cinta, terlebih dengan usia yang kian merangkak naik. Kusadari pula semakin kecil dan lemah sisa kekuatan diri. Mama pun mendukung dan berkata mampu berpisah bila aku memilih cinta itu. Semua bisa dikomunikasikan dan diatur.

Tapi... bagiku, yang pernah berada sembilan bulan dalam rahimnya. Satu tarikan nafas. Terbaca jelas kebohongan seorang ibu. Matanya begitu jernih menampakkan harapan yang lantang, pintanya agar aku yang mengurus dirinya di kala senja. Bagaimanalah aku bisa setega itu memilih bahagia di atas ketidakbahagiaannya? Sementara kesimpulan sebagai jalan tengah sulit ditemukan.

Ya... ia akan bahagia sesaat, saat aku menggenapkan cinta. Tapi, setelahnya aku bukanlah lagi haknya. Seorang istri adalah tawanan suaminya. Ridhanya bukan lagi utama bagi putrinya.

Jadi, saat ada pilihan antara cinta dan ridha mama... biarkan aku memilih mama, yaa... cinta yang sudah teruji dan pasti sejati untukku. Cinta yang takkan membuatku kecewa, merana, dan terluka. Cinta yang sempurna untukku yang tak sempurna.

Hingga kelak Allah ridhai satu makhlukNya yang sungguh-sungguh paham agama dan paham betapa besar keinginan baktiku padanya tanpa harus meninggalkan baktiku pada mama.

*Mengutip judul novel karya Asma Nadia

Meta morfillah

Allah yang menangkan!

ALLAH YANG MENANGKAN!

Ikhtiar kita sudah diusahakan terbaik memang. Tapi hasil adalah hak Allah. Menang atau kalah bukanlah akhir. Bagian kita adalah menikmati proses.

Meski terbaik kita belum tentu luar biasa, tapi kalau Allah mau kita menang, dunia bisa apa? Pun sebaliknya.

Menang bukan berarti seketika mulia, melainkan akan ada banyak ujian dan tantangan baru untuk membuktikan dan menjaga prestasi. Kalah pun bukan berarti hina, melainkan masih ada waktu untuk kita bebenah dan memperbaiki diri.

Jangan kecewa... tidak akan pernah proses mengkhianati hasil. Bila belum sekarang, insya allah nanti akan kita petik buah yang jauh lebih manis selama proses terjaga.

Tugas kita berikhtiar, Allah yang menangkan! Libatkan Allah dalam hal apa pun. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Past, present, future.

Meta morfillah