Sabtu, 11 Maret 2017

[Review buku] Are you afraid of the dark?

Judul: Are you afraid of the dark?
Penulis: Sidney sheldon
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 436 hlm, 18 cm, cetakan keenan Juli 2009
ISBN: 978 979 22 4726 8

Empat orang tewas dalam kecelakaan berbeda di New York, Denver, Paris, dan Berlin. Benang merah kecelakaan tersebut adalah keempatnya merupakan ilmuwan Kingsley International Group (KIG). Dua istri para korban, Diana Stevens dan Kelly Harris terancam bahaya.

Serangkaian kebetulan berujung kematian berkali menimpa mereka. Meski mereka tidak saling menyukai, mereka bekerjasama mengusut sendiri apa dan siapa yang mengincar mereka. Sebab polisi tak lagi bisa diharapkan. Ada kekuatan jauh lebih besar dan mengerikan yang ternyata berasal dari KIG sendiri.

Bisakah mereka melewati ancaman demi ancaman dan tetap hidup?

Seperti biasa, saya terpukau dengan jalan cerita penulis ini. Bahkan twistnya sangat menakjubkan. Isu menguasai cuaca, motif purba manusia yang mendasari semua pembunuhan dan akhir tragedi yang tak terduga. Konfliknya keren.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Sering sekali aku ingin mengatakan 'Aku cinta padamu' agar kau mengatakan 'Aku juga cinta padamu!' Tapi aku tidak ingin terkesan selalu membutuhkanmu. Aku memang bodoh. Kini aku sangat membutuhkanmu." (H.41)

"Keajaiban itu ada, tetapi kau sendiri yang harus menjadi penyihirnya. Kau harus membuat keajaiban itu terjadi." (H.73)

Meta morfillah

Kisah cinta paling hebat

Saya pernah punya imajinasi bagaimana bila suatu hari saya tergeletak di rumah sakit karena kecelakaan. Saya membayangkan kira-kira siapa saja yang akan segera merespon dan menjenguk saya. Kira-kira siapa yang peduli pada saya. Selain keluarga saya tentunya.

Saya sangat ingin tahu. Sebab dalam keadaan sulit dan sakitlah bisa diketahui siapa sebenar-benar teman, setulus-tulus cinta. Tanpa peduli waktu, jarak, dan menjadi prioritas. Terlebih siapa lelaki yang akan menawarkan diri bergantian menjaga saya. Pastilah he is the one.

Sebab dia rela datang demi saya, mengambilkan segelas air putih saat saya lemah tak berdaya. Merawat saya dalam keadaan terjelek saya. Lelaki itu... yang bersedia menerima dari kekurangan hingga kelebihan saya. Cinta lelaki biasa.

Ah, saya kira itu imajinasi terlalu sinetron untuk ada dalam nyata. Tapi hari ini, saya diperkenankan Allah melihat perwujudan imajinasi saya dalam kisah dua kawan saya di komunitas. Persis dalam bayangan saya.

Sang wanita, kecelakaan. Saya mengetahuinya dan menyebar info di grup. Tahu, siapa yang merespon? Seorang lelaki yang bahkan suaranya jarang saya dengar saat berkegiatan, tapi bertanggung jawab sebab saya lihat dia bekerja tuntas. Dia terlihat cukup panik dan meminta saya menjaga wanita tersebut.

Awalnya saya aneh dan ingin mengonfirmasi, seakan mereka intim padahal saya tak pernah melihat keintiman itu dalam tiap pertemuan. Tapi, mengonfirmasi saat itu kurang ahsan, tak tepat. Prioritas adalah mendoakan kawan saya di ICU.

Hari ini, saat saya jenguk, ternyata lelaki itu sudah dua minggu menjaga kawan saya. Terlihat betapa telaten dan sabarnya ia membantu kawan saya. Saya kira jika sekadar cinta dari paras dan hanya sekadar pacaran, tidak akan sesetia itu. Ada yang berbeda di mata mereka berdua.

Saya pun mengonfirmasi langsung ke sang lelaki. Ternyata mereka memang berniat menikah saat ini. Menunggu kawan saya sedikit pulih, sebab dia masih fisioterapi.

Kalian... semoga segera Allah halalkan. Kisah kalian saat ini semoga menjadi penguat di masa tua nanti. Syafakillah... barakallah...

Kisah cinta sejati atau paling manis itu nyata dalam keseharian kita. Tidak perlu bermewah-mewah. Wujudkan saja kisah cinta terbaikmu dengan melibatkan Allah senantiasa. Aku pun yakin, kisah cintaku kelak akan hebat. Dan kuusahakan menjadi yang terhebat dengan ridhaNya!

Meta morfillah

Jumat, 10 Maret 2017

[Review] 1 perempuan 14 laki-laki

Judul: 1 perempuan 14 laki-laki
Penulis: Djenar maesa ayu dan 14 penulis lelaki lainnya
Penerbit: Gramedia
Dimensi: xiv + 124 hlm, cetakan pertama 14 Januari 2011
ISBN: 978 979 22 6608 5

14 cerpen ditulis 14 lelaki berkolaborasi dengan 1 perempuan, Djenar. Seperti yang sudah dikenal, tulisan djenar tak jauh dari 'sastra basah'. Isu perselingkuhan, free sex, dan LGBT.

"Kunang-kunang dalam bir" berkisah tentang lesbian dengan kenangannya. "Cat hitam berjari enam" berkisah tentang pelukis dan trauma masa kecil atas nama agama. "Menyeruput kopi di wajah tampan" berkisah tentang aktris yang menjadi gila.

"Ramaraib" berkisah tentang guru tari yang melecehkan murid lelakinya. "Kupunyakupu" berkisah tentang sepasang homo. "Kulkas.dari.langit" saya membaca berkali dan tidak paham maksud cerita ini. Absurd.

"Matahari di klab malam" berkisah tentang keinginan dasar lelaki memiliki wanitanya namun dia sendiri tak setia. "Rembulan ungu kuru setra" berkisah tentang perselingkuhan. "Napas dalam balon karet" berkisah tentang sepasang kekasih. "Bukumuka" berkisah tentang perselingkuhan yang berawal dari medsos dan berakhir dengan pilihan bunuh diri atau disodomi suami selingkuhan.

"Ra kuadrat" berkisah tentang penemuan diary suami yang ternyata tak mencintai istrinya. "Dijerat saklar" berkisah tentang pembunuhan, tapi saya juga kurang mengerti maksudnya. "Polos" berkisah tentang kilasan ingatan seseorang yang telah mati tertabrak kereta. "Balsem lavender" berkisah tentang pasangan tua yang konyol, dibodohi dengan fungsi lavender.

Secara umum, saya bosan dengan tema dan tak begitu menarik twist cerpennya. Hanya "bukumuka" yang lumayan twistnya. Beberapa cukup puitis kata-katanya tapi entah, mengapa menjadi sedemikian sulit dipahami. Tapi bahkan dari buku sejelek apa pun, kita bisa mengambil pelajaran.

Saya apresiasi 2 dari 5 bintang.

"Tidak ada satu pun teori yang akan menjadi berguna jika tidak dicoba atau dipraktikkan. 'Talk less, do more!', dan teori paling sederhana dalam menulis adalah dengan MENULIS." (H.xii)

Meta morfillah

Kamis, 09 Maret 2017

Tunas

Akan ada masanya kamu malu melihat foto-fotomu dahulu yang belum berhijab.

Akan ada masanya kamu tidak lagi ingin memamerkan kecantikanmu pada semua orang.

Akan ada masanya kamu merasa risih berselfie, berwefie, bahkan bertingkah konyol lalu dipamerkan di media sosialmu.

Akan ada masanya kamu ingin tampil syar'i dan sesempurnanya taat.

Keinginan itu bertunas dan kamu mulai mengurangi hal-hal yang memunculkan malumu.

"Al hayaa u minal iimaan."
Malu adalah sebagian dari iman.

Maka bagi mereka yang sedang bertunas besar rasa malu pada yang seharusnya memang malu. Jangan mencela. Bantu menjaga. Jangan menjerumuskan jika tak bisa mengerti.

Meta morfillah

Helm dan hati

Helm saya sudah jelek. Pake banget. Kaca/plastiknya sudah banyak baret, buram, dan penyangganya lepas. Sehingga suka naik turun dan itu mengganggu kenyamanan juga keamanan.

Di kala panas, saya suka silau melihat pantulan cahaya dari kacanya juga terhalang baret-baretnya. Di kala hujan, saya suka terhalang pandangan karena embun dan baret-baretnya. Pokoknya pandangan saya tidak jernih lah.

Sampai pernah saya beberapa kali hampir jatuh dan tertabrak karenanya. Bahaya. Tapi entahlah, saya terlalu malas mengeluarkan uang untuk membeli helm. Masih kalah prioritasnya sama beli buku, makanan atau jalan-jalan.

Tapi hari ini, saya bertekad membeli helm baru. Sebab saya berpikir bahwa nyawa saya adalah titipan yang harus dijaga. Maka saya harus melindunginya sebaik mungkin.

Pakai helm baru rasanya menyenangkan. Penglihatan begitu jelas, tidak lagi perlu diganjal kertas atau dipegangi oleh teman yang sedang membonceng kalau kacanya naik turun mengganggu penglihatan. Segalanya lebih jelas, indah, dan nyata.

Mungkin... hati kita serupa kaca helm. Seringkali ternoda oleh dosa dan hal negatif hingga membuat kita tak bisa lagi objektif dan melihat petunjukNya dengan jelas.

"Mintalah fatwa pada hatimu."

Nasihat itu menjadi tidak berfungsi, sebab kriteria hati yang dapat dimintai fatwa adalah hati yang bersih.

Lantas bagaimana agar hati kita selalu bersih?

Dengan sering berdzikir, merundukkan diri dalam-dalam pada keMahaBesaranNya.

Sebab hati yang rusak tidak bisa diganti sebagaimana helm. Tinggal dibuang lalu membeli baru. Adakah yang menjual sepotong hati yang baru?

Meta morfillah

Rabu, 08 Maret 2017

Belajar dari keong

Dunia yang semakin terhubung dengan internet. Kesibukan yang seakan tiada habisnya. Membuat kita lupa rasanya #bahagiaitusederhana

Meski yang kita tampilkan adalah kesuksesan, dari gaya hidup, pencapaian dan kehebatan lain. Tapi, benarkah kita bahagia dengan itu semua? Bersyukurlah bila memang apa yang kita tampilkan benar-benar kita maknai.

Kalau tidak?

Mungkin kita perlu belajar pada keong. Yaa... hewan lamban itu. Yang tak pernah memenangkan lomba lari.

Kita perlu melambatkan sejenak langkah kita untuk takjub menatap indahnya jalan yang kita lewati tiap hari, betapa berharganya nafas yang kita hirup dan embus sesuka hati, betapa bersyukurnya masih bisa beraktivitas.

Betapa banyak #bahagiaitusederhana yang kita luput menyadarinya. Sebab kita menjadi manusia sok sibuk. Padahal tak semua berita harus dikomentari. Tak semua urusan harus diurusi. Tak semua hal harus kita tanggapi.

Kita lupa... dan merasa harus sibuk. Seakan membuktikan bahwa kita eksis.

Lalu, di mana bahagia?

Ah, manusia... makhluk paradoks.
Pun diriku ini.

Met morfillah

Selasa, 07 Maret 2017

Menjadi orangtua

Beruntungnya bila orangtua kalian sudah sadar akan hal itu. Sebelum mereka meninggalkan kalian di dunia ini.

Beruntungnya saya yang mengerti arti ditinggal meninggal orangtua di usia 11 tahun. Sebelum saya menjadi terlalu manja dan tidak mandiri.

Beruntunglah kita dalam keadaan bagaimana pun, selama kita masih memiliki kepercayaan. Selama kita masih bertumpu pada sebuah harapan. Harapan akan surga di depan mata. Meski kini seakan terpenjara di dunia.

Orangtua... tidak pernah ada sekolahnya. Tidak pernah sama resepnya untuk setiap anak. Bahkan kembar sekalipun. Terima kasih ya orangtua, sudah mencoba memahami kami anakmu dengan segala macam tuntutannya.

Tak mudah menjadi sebenar-benar orangtua. Bukan sekadar produksi anak yang bermental tahu. Gampang remuk saat diberi tekanan/ujian. Tak mudah menghasilkan generasi rabbani.

Yaa Rabb... izinkan kami menjadi orangtua yang darinya terdidik generasi yang mampu mengejawantahkan kebangkitan Islam kelak. Aaamiiin.

Meta morfillah