Selasa, 07 Maret 2017

Lubang

LUBANG

Bagi pengendara bermotor, perkara lubang di jalan itu masalah hidup dan mati. Kemarin saya mengalaminya, saat hendak menjemput teman. Di depan saya mobil yang akan belok ke kanan. Saya pun mengekor, sebab hendak belok pula.

Kecepatan sedang, tapi saya kaget. Sebab ada lubang besar, dalam di jalan beraspal. Tak terlihat karena tertutup mobil sebelumnya. Hampir saya oleng jatuh dan tertabrak belakang kalau saja keseimbangan saya tidak stabil. Jantung saya terasa hendak loncat, perut tersentak kaget.

Dalam hati saya berdoa semoga lubang itu tidak merenggut nyawa pengendara lain. Juga berharap semoga lubang itu segera ditambal.

Alhamdulillah pagi ini banyak lubang sepanjang perjalanan saya telah diaspal kembali. Sungguh tangkas dan peduli pemerintah atau warga kota ini. Tidak menunggu lama, mereka paham bahayanya terutama di kota hujan yang sering mengaburkan pandangan saat berkendara ini.

Bayangkan, lubang... sepele... tapi bisa menyeret ke kematian. Menjadi tanggung jawab berat bagi pemimpin yang berkuasa jika sampai jatuh korban. Bagaimana bila korban tersebut adalah tulang punggung sebuah keluarga? Ketidakpedulian atau sikap suka menunda bisa merenggut dunia seseorang, memorakmorandakan sebuah keluarga.

Menjadi pemimpin itu...
Sangat berat hisabnya. Sangat banyak kerjanya. Itulah mengapa saat memilih pemimpin kita harus melihat kredibilitas, amanahnya dia. Itulah mengapa saat menjadi yang dipimpin kita harus sami'na wa atho'na. Mendukung dan menjadi great followers to be a great leader.

Mudah bagi kita mengkritik pemimpin. Coba bayangkan, bagaimana bila kita yang ada di posisi tersebut? Doakanlah pemimpin kalian agar senantiasa adil. Doakanlah diri kita agar menjadi pemimpin yang benar, baik, dan adil. Sebab setiap kita adalah pemimpin bagi diri sendiri.

Berapa banyak 'lubangkah' dalam kepemimpinan kita yang masih perlu ditambal?

Astagfirullah...

Meta morfillah

Senin, 06 Maret 2017

Kata-kata

Kemarilah, duduk di dekatku. Akan kuceritakan kisah tentang sekeping hati yang bertanya-tanya. Seringkali sekeping hati ini dianggap tahu segalanya. Nyatanya ada pertanyaan yang ia sendiri belum tahu apa jawabannya. Hingga ia juga bertanya-tanya.

Sini... merapat padaku. Akan kuceritakan kisah seseorang yang membangun dunianya dengan dinding yang kokoh. Lalu hanya butuh sedikit sapa dan secercah harap, tembok itu meretak. Kehadiran seseorang meruntuhkan dunia yang awalnya damai.

Tetaplah di sampingku. Akan kuracik birunya langit, asinnya laut, hijaunya daun, jingganya senja, sepoinya angin, rintiknya hujan, apa pun yang kaumau. Lalu kuhidangkan dalam sebentuk aksara. Sebab duniaku adalah kata-kata.

Meta morfillah

Minggu, 05 Maret 2017

Mati

Entah ini kalian rasakan juga atau tidak, tapi aku memang merasa bahwa setiap 100 hari menjelang ramadhan banyak kerabat dekatku yang meninggal. Keluarga, sahabat, teman, tetangga, yang sangat kukenal pergi meninggalkan dunia ini.

Seakan menegaskan bahwa aku harus berdoa dengan khusyu' lagi untuk dipertemukan dengan bulan ramadhan dan bersyukur jika masih hidup hari ini. Mereka yang begitu berharap bertemu ramadhan banyak yang dipanggil sebelum keinginannya terpenuhi.

Maka mengingat mati adalah niscaya. Mempersiapkan bekal akhirat adalah ukuran kecerdasan seorang mukmin di kala orang lain hanya sibuk mencari harta dan menjelekkan sesama.

"Mukmin yang paling cerdik adalah mukmin yang paling banyak mengingat mati dan mempersiapkan mati." (H. R. Ibnu Majah)

"Relakah dirimu menyertai segolongan orang, mereka membawa bekal sementara tanganmu hampa." (Nasyid suara persaudaraan)

Tentunya aku tak rela... saat yang lain berlomba dalam kebaikan, mengapa aku malah sibuk mengejar duniawi, mencari aib orang lain? Sebab kematian tak bisa ditangguhkan dan diingkari. Mengapa tak sibuk memperbaiki diri sendiri?

Meta morfillah

Sabtu, 04 Maret 2017

Akhir-awal

Weekend yang padat, penuh dengan aktivitas seputar keluarga, teman, dan kesayangan. Sebagaimana weekend yang sebentar lagi habis, akan menjadi mula weekdays.

Sebagaimana jomlo yang sebentar lagi menikah, akan menjadi mula suami atau istri.

Sebagaimana istri atau suami yang sebentar lagi memiliki anak, akan menjadi mula ibu atau bapak.

Sebagaimana pula kematian, akan menjadi mula kehidupan akhirat: siksa atau surga?

Yang bisa kita lakukan setiap mengakhiri sesuatu dan memulai hal baru adalah bersiap akan bekal. Sadarlah untuk berbekal.

Sudah sejauh mana bekal kita untuk menempuh fase kehidupan selanjutnya?

Meta morfillah

Keluarga

KELUARGA

"Dede kenapa, ooh... ya...ya... sama kakak saja ya."

Akhwat cilik dengan pipi pualam seperti bakpau itu menenangkan bayi lelaki yang ditinggal sebentar oleh ibunya. Sementara kakak lelakinya hanya melihat dari jauh. Tak berani dekat dengan dede bayi.

"De, hati-hati nanti dede bayinya nangis lagi. Dede sini saja sama kakak."

"Enggak apa-apa, kok. Dedenya mau main sama aku."

Saya tersenyum menyimak dialog anak kecil tersebut. Membayangkan miniatur keluarga masa depan. Di mana sudah fitrah akhwat itu berhati lembut dan memahami dunia bayi. Kerapuhannya justru kekuatannya pula.

Akhwat ketika dewasa semakin ingin dilindungi tapi juga hebat dalam melindungi. Terutama pada kecintaannya, anaknya misalnya. Bahkan akhwat menjelma sebagai pakar bahasa. Hanya ibu dan akhwat yang memiliki naluri keibuan yang paham bahasa bayi. Bahasa yang tak pernah ada kamusnya, ketentuannya, semiotika dan petunjuknya.

Sementara ikhwan sudah fitrahnya ingin melindungi meski kadang mencari perlindungan pula pada yang dicintainya. Secintanya seorang ayah kelak, jarang sekali ditunjukkan seheboh cinta ibu. Ayah hanya akan menatap kecintaannya dari jauh. Memberi ruang untuk tumbuh. Ayah lebih banyak diam namun perhatian. Begitulah bentuk kasih ayah, tak akan pernah sama dengan kasih ibu. Namun tetap hebat dan saling mengisi.

Seandainya... setiap kita sadar dengan fitrah diri kita. Bahwa tulang rusuk bukanlah tulang punggung. Bahwa mendidik anak bukanlah kewajiban ibu seorang. Bahwa vitamin A (Ayah) atau vitamin B (Bapak) sangatlah penting bagi jiwa seorang anak. Mungkin negara ini tidak akan carut marut, penuh polusi bukan solusi.

Sebab keluarga adalah miniatur sebuah negara.

Yaa Rabb... karuniakanlah kami keluarga yang shalih, yang Engkau ridhai untuk masuk surga sekeluarga. Aaamiiin

Meta morfillah

Kamis, 02 Maret 2017

Cara menanti terbaik

CARA MENANTI TERBAIK

"Met, cara kasih motivasi untuk pasangan yang belum punya anak setelah lama menikah bagaimana ya?"

Ada yang aneh dengan pertanyaan itu?
Jangan tertawa... meski saya belum menikah, banyak kawan bahkan yang jauh lebih senior bertanya masalah rumah tangga pada saya.

Pernah juga ada yang mau bercerai setelah puluhan tahun menikah dan memiliki 3 orang anak, lalu meminta pendapat saya. Apa yang saya lakukan? Berhari saya dengarkan curhatnya, hingga keputusan tersebut dilaksanakan. Saya hanya memberi tahu pandangan saya terhadap masalahnya, sebagai orang luar. Sekarang nampaknya beliau jauh lebih bahagia.

Sebenarnya, saya belum punya pengalaman masalah kerumahtanggaan. Saya hanya mencoba mendengar saat mereka membutuhkan telinga. Kautahu, wanita itu hanya butuh didengar, saat dia curhat sebenarnya bukan solusi yang dicari. Tapi sekadar mengeluarkan uneg-uneg. Fitrahnya wanita harus banyak bicara sebab dalam sehari kemampuannya memang mengeluarkan 20.000 kata.

Berbeda dengan lelaki, hanya 2.000 kata. Makanya lelaki kalau banyak omong, tidak dieksekusi pemikirannya, patut dipertanyakan.

Well, balik lagi. Lucu ya, saya yang belum menikah apalagi punya anak ditanya hal macam itu. Tapi saya bisa jawab. Mengapa? Sebab saya membaca. Saya cari tahu sekitar permasalahan yang sering dicurhatkan pada saya. Saya berikan sedikit ilmu yang saya dapat dari bacaan, cerita orangtua, hasil kajian dan pengamatan sekitar.

Untuk semua yang sedang di ruang tunggu, menunggu jodoh, anak, pekerjaan, kelulusan, dll, bersabarlah dan bersyukur. Ada banyak nikmat yang telah didapat, mengapa menunggu sebentar saja sudah menuntut? Mungkin Allah sedang mempersiapkanmu untuk menyambut hadiahnya. Agar saat kamu memilikinya, kamu perlakukan dengan baik sebab kamu tahu rasanya menanti lama.

Kalau pun memang tidak diberi Allah, mengapa harus fokus pada yang belum dimiliki? Rasa-rasanya ada banyak kebahagiaan lain yang bisa kita syukuri. Bila masih su'udzan dengan ketentuan Allah, coba ubah pola pikir seperti ini "Mungkin kalau keinginan saya ini dikabulkan, saya belum siap. Malah akan menyusahkan. Tidak bisa begini begitu."

Hasilnya, insya Allah kamu akan lebih banyak memahami kekurangan dan tahu diri harus belajar apa lagi. Sungguh, diri kita ini begitu banyak kekurangannya. Belajar sepanjang hayat pun, masih belum cukup untuk memahami ilmuNya.

Yuk, jangan berhenti belajar, menjadi baik!

Meta morfillah

Embun penyejuk hati

Tadi di pelatihan, pemateri menyuruh kami menulis sebanyak-banyaknya alasan mengapa saya ada di sini, hari ini, sebagai guru. Teman saya pun berlomba banyak-banyakan. Tapi saya dengan yakin hanya ada satu alasan mengapa saya menjadi guru di sini, sekarang.

Pematerinya pun heran, melihat saya sudah selesai dalam beberapa detik. Saat ditanya siapa yang terbanyak, rata-rata 5-13 alasan. Lalu diberi hadiah. Saat ditanya yang tersedikit, jawabannya saya. Hanya satu alasan. Dikasih hadiah juga.

Mau tahu, apa alasan saya?

RIDHA MAMA.

Dari semua alasan mengapa saya pindah domisili ke Bogor, belajar mencintai kota hujan yang sering membuat saya kedinginan dan masuk angin, bahkan melebur menjadi warganya dengan bekerja di sini dan mengurangi frekuensi ke Jakarta adalah ridha mama.

Kalau saja Mama masih meridhai saya di perusahaan lama, tidak akan saya ada di sini. Menjadi guru itu, meski sekolahnya keren luar biasa, tetap tidak akan membuat kaya seperti kayanya pengusaha. Jalur pendidikan itu bukan bisnis. Salah besar kalau menjadi guru mengharapkan kekayaan materi.

Justru saya sadar bahwa jadi guru itu siap miskin materi, siap lelah ngurusin anak orang, siap capek dikomplen orangtua, siap menjadi superman sebab harus sempurna untuk digugu dan ditiru. Makanya saya tidak memilih profesi guru sebagai pilihan pertama.

Tapi, mama meridhai saya di sana. Sejauh apa pun saya berlari, mengelak dari takdir, nyatanya doa mama saya jauh lebih didengar Allah. Bermula dari berat hati menjadi jatuh hati. Hati-hati. Ucapan orangtua terutama ibu adalah doa yang mustajab, tak ada hijab, langsung didengarkan Allah.

Maka ridha mama adalah keutamaan saya melangkah selama saya masih belum menikah. Lain halnya jika saya telah menikah, saya akan menuruti yang diridhai suami saya.

Saat saya ceritakan kejadian hari ini, raut muka mama sukar ditebak. Beliau hanya diam. Hanya saja saya melihat beliau memperlama doa setelah shalatnya dan bergetar pundaknya. Ah, Mama...

Meta morfillah