Minggu, 19 Februari 2017

Tamy kelas 7 Al ghazali SMP SIIHA

Rabbi habli minashshaalihiin...

Diwhatsapp sama seorang murid ikhwan bermesin kecerdasan Intuiting Extrovert yang memiliki target menjual 20 barang secara online dalam sebulan.

Minggu lalu dia melapor baru berhasil menjual 4 barang. Lalu hari ini dia melaporkan berhasil menjual sebuah motor. Hanya satu. Tapi marginnya luar biasa.

Saya salut, sebab saya pernah mengobservasi banyak salesman dan supervisor di berbagai training untuk sebuah keterampilan menjual. Selling skills. Ada banyak keterampilan yang harus dipelajari untuk menghasilkan closing 1 unit motor.

Anak ini, setahu saya belum pernah mengikuti training sejenis. Dia masih kelas 7 SMP. Tapi memang jiwa pengusahanya cukup tinggi. Dan yang penting dia sadar akan potensinya. Dia memilih untuk menjadi KAPITALISATOR POTENSI yang BAIK dengan MK Ie STIFInnya.

Masyaa Allah, saya bahagia mendengarnya. Bahwa dia sudah berada pada jalur yang memang semestinya. Saya berdoa semoga kelak dia menjadi #MusliMiliarDermawan yang akan mendukung Islam. Akhlaknya islami.

Juga pada murid saya yang lain, semoga kalian cerdas sesuai fitrah kalian. Sesuai Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Mewarnai agama Islam dengan positif. Aaamiin

Congrats @fahrizatamy BARAKALLAH!

Meta morfillah

Sabtu, 18 Februari 2017

Dari Hujan...

Aku selalu bahagia saat hujan turun, karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri.

Dari hujan kita belajar persiapan, bahwa ada kalanya langit bermuram durja. Lantas menarilah bersama hujan dan buat langit tersenyum ceria kembali.

Dari hujan kita belajar memberi semua yang kita punya, bahwa langit begitu mencintai bumi. Dicurahkannya rintik air untuk mendamaikan gersangnya bumi, agar suhu kembali normal.

Dari hujan kita belajar bahwa hidup perlu jeda, berteduh sejenak dari ruwet aktivitas. Nikmati syahdunya harmoni tik tik tik hujan turun dan udara yang mendingin. Diam. Dengarkan. Rasakan. Berzikirlah atas karuniaNya.

Dari hujan aku belajar bahwa jatuh tak selamanya berakhir, bisa jadi itu adalah awal mula. Seperti jatuhnya titik hujan ke tanah, menjadi mula kehidupan bagi tanah yang mendamba air. Merekah, bersiap menerima benih apa pun untuk disuburkan dan dihebatkan.

Dan di antara rintik hujan... aku menyelipkan namamu. Sebab bersama hujan yang mempersembahkan dirinya bagi tanah, Allah membuka pintu langit untuk menerima banyak doa.

Adakah kiranya kaudengar lantunan namamu?

Itu dari bibirku.

Meta morfillah

Jumat, 17 Februari 2017

[Review buku] Bersamamu, di jalan dakwah berliku

Judul: Bersamamu, di jalan dakwah berliku (Berbaris dalam dakwah, berpeluk dalam ukhuwah)
Penulis: Salim A. Fillah & Felix Y. Siauw
Penerbit: Pro-U Media
Dimensi: 256 hlm, cetakan pertama 2016
ISBN: 978 602 7820 59 3

Duet ustad yang berbeda harakah. Satunya tarbiyah, satunya HTI. Di saat isu pergesekan antar harakah Islam memuncak, dua ustad ini bersatu membuka cakrawala. Bahwa kita jauh lebih banyak persamaannya dibanding perbedaan.

Bahwa dalam masalah furu', qiyash, ijtihad adalah wajar kita tak sependapat. Tapi dasar utama dan yang kita imani adalah sama. Ada banyak harakah yang sebenarnya bertujuan satu dan itu semua baik. Sayangnya, perbedaan terjadi dari sisi mana harakah tersebut melihat. Ada yang melihat dari ekonomi, politik, sistem, dll.

Buku ini juga pas dengan kontekstual saat saya membaca sekarang, terkait PILKADA DKI, #muslimvotemuslim.

Ah, berkali saya menangis membaca ikrar ustad salim dari Q. S. Yusuf: 108 yang dikupas per bab (dan menghabiskan 2/3 porsi buku) "Katakanlah, ini jalanku. Aku berdakwah menyeru manusia kepada Allah di atas bukti-bukti yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku, Maha suci Allah, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya."

Ah, berkali saya malu membaca pengakuan ustad felix tentang "Dakwahku (yang masih berbangga atas harakahnya); bersamamu (yang mencoba memahami harakah lain dan ternyata tujuan kita sama, hanya kurang silahturrahim); di jalan berliku (sementara banyak di luar Islam ingin memecah belah kita)."

Gaya buku ini dibuat dual cover bolak-balik. Seperti buku dwilogi padang bulan andrea hirata.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Seorang da'i agung ditanya, 'Apa rahasianya hingga banyak orang Allah karuniai hidayah melalui dirimu?'
Beliau menjawab, 'Kudakwahi mereka di siang hari, dan kudoakan mereka di malam hari." (SAF, h.49)

"Di dalam himpunan pendapat yang benar, masih ada mana-mana yang lebih tepat dan mana juga yang ternyata luput." (SAF, h.98)

"Nak, dakwah Nusantara sudah menjadi jatah Ayahanda. Di luar itu, tugasmu membentang sejauh kepulauan Jepang hingga Eropa, daratan Cina hingga benua Amerika. Sebab, sungguh Nabi SAW dijadikan Allah rahmat bagi semesta alam. Tapi dalam tapak jejaknya di atas bumi, beliau baru sejauh-jauh menyusuri Makkah-Madinah-Tabuk-Al quds. Maka kitalah yang bertugas menjadi dutanya pada alam semesta, menjadi sarana Allah untuk menghadirkan rahmatNya bagi umat manusia di mana pun berada." (SAF, h.183)

"Tidak semua perbedaan itu harus ada yang benat dan lainnya salah. Dalam ilmu agama, dua hal berbeda bisa jadi satu benar dan lainnya lebih benar, selama ia berlandaskan dalil islami. Karena itulah kita menerima perbedaan dalam fiqih." (FS, h.32)

"Dakwah itu banyak ragamnya dan pilihan itu harus dipertanggungjawabkan." (FS, h.45)

"Sungguh berdakwah tidaklah mudah. Lebih tidak mudah lagi berdakwah bersama jamaah. Dan akan tambah kesulitannya bila berdakwah dengan orang yang berlainan harakah. Namun, inilah jalan yang kita pilih, yaitu jihad di jalan Allah. Dan kita amat tahu bahwa akhir dari perjalanan ini adalah tempat yang paling indah!" (FS, h.61)

Meta morfillah

Kamis, 16 Februari 2017

17 Februari keenam belas

Dan kini... enam belas tahun setelah kepergianmu, baru aku mengerti bahwa kisahku bertumpu pada kisahmu.

Engkau pergi di usia sebelas tahun, seumuran dengan anak didikku saat ini.
Engkau adalah guru SD dan SMP, persis seperti diriku saat ini.

Tanpa kusadari, alur kisahku mengalir seperti kisahmu. Kisah keluarga besarmu. Kisah leluhur kita. Garis besar keluarga yang mendarah daging berbakti dalam dunia pendidikan.

Berawal dari "Ini Budi. Ini Ibu Budi."

Yaa... dunia keluargamu, Pak.

Dunia yang dulu tak pernah menjadi pilihanku. Namun kujalani dengan kesadaran penuh sekarang, bahwa mengajar sesungguhnya belajar.

And, I'm still your little daughter who always missed you.

Meta morfillah

In memorian
17022001-17022017

Rabu, 15 Februari 2017

Fokus berkembang

FOKUS BERKEMBANG

"Innallaha yubghidul fahisyal badzia.
Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan kotor kata-katanya." (H. R. Tirmidzi)

Kembali fokus pada peran kita. Salah satunya mempersiapkan generasi mendatang sebagai pemimpin terbaik. Mengajarkan adab lalu ilmu.

Pada hal kecil namun menanamkan karakter. Adab makan, adab bicara, adab bergaul, adab bertamu, dan lainnya.

Sadar bahwa bermula dari mulut dan jarimu yang quick response dalam keseharian atau media sosial menjadi bumerang. Menghidupkan lagi sifat wara' (kehati-hatian).

"Kenapa sih, Bu, kita enggak boleh ngomong 'gue-elo' atau asal nyeletuk?"

"Kenapa sih, Bu, dikit-dikit kita istighfar?"

"Kenapa, kenapa, dan kenapa???"

Sudah ada contoh terbaik, Rasulullah SAW. Maka dari hal kecil seperti perkataan, kita mulai contoh kesantunan tutur kata beliau. Meski zaman sekarang, kata-kata kasar mulai menyerap dalam keseharian, bahkan menjadi canda.

Maka, inilah PR kita, Nak. Bersama menjadi teladan kebaikan. Bukan berarti kita terbaik, memang. Tapi mencoba menyadarkan bahwa Islam itu indah, tanpa tertutupi kejelekan pribadi umatnya, adalah keharusan kita.

Berawal dari mengurangi kata-kata kasar baik dalam keseharian atau pun media sosial.

Aku pun masih belajar, Nak.

Meski terbaik kita belumlah luar biasa, setidaknya saat dihisab nanti, Allah tahu bahwa kita sudah berupaya meneladani sifat uswatun hasanah kita.

Seperti bunga, kita berupaya mengembangkan potensi-potensi terbaik kita, berkembang seindah-indahnya.

Meta morfillah

Senin, 13 Februari 2017

Ilmu dan adab

ILMU DAN ADAB

Hidup kita memang dipenuhi banyak kertas. Setiap penghargaan tertulis dalam sebuah kertas untuk mengukuhkan bahwa kita pernah berprestasi.

Tapi, prestasi sesungguhnya adalah apa yang sehari-hari kita lakukan. Apakah apa yang tertulis telah kita internalisasikan ke dalam diri? Bagaimana PERTANGGUNGJAWABAN terhadap ilmu yang telah dimiliki?

Maka, saat melihat lagi beragam sertifikat pencapaianmu, tanya lagi ke dalam dirimu... Sudahkah aku merepresentasikan ilmu yang kudapat dalam hari-hariku?

Sebab sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat.
Setinggi-tinggi derajat adalah yang bertakwa.
Ilmu didahului adab, adab didahului iman.

Beradablah jika kamu berilmu.
Hanya orang BIADAB yang tidak beradab.
Ilmuilah ilmu dengan adabnya.

Meta morfillah

Senin, 06 Februari 2017

[Mentoring] Makna tsiqah yang tereduksi

MAKNA TSIQAH YANG TEREDUKSI

Bu Efi
Ahad, 15 Januari 2017

Ingat kembali 10 rukun baiat:
1. Al fahm (pemahaman)
2. Al ikhlas (keikhlasan)
3. Al 'amal (amal)
4. Al jihad (jihad)
5. At tadhiyah (pengorbanan)
6. At tha'ah (ketaatan)
7. Ats tsabat (keteguhan)
8. At tajarud (dedikasi)
9. Al ukhuwah (persaudaraan)
10. Ats tsiqah (kepercayaan)

Saat tsiqah (rasa percaya) berkurang, perekat ketaatan pada pemimpin pun melemah dan akan mengakibatkan kehancuran jamaah. Para musuh Islam akan menyerang tsiqah para jundi (prajurit) dengan menebar keraguan, menjelekkan image kader/pemimpin/ulama.

Tsiqah adalah tenangnya hati seorang prajurit terhadap pimpinannya (setelah 9 rukun baiat sebelumnya terpenuhi).

Ada kalanya rasionalisasi keputusan tidak dipaparkan untuk alasan keamanan, etika, atau menjaga aib. Tidak semua hal harus diobral ke umum.

Juga kadangkala terkendala jarak dan waktu, sehingga tidak dijelaskan detil. Inilah mengapa rukun taat didahulukan sebelum tsiqah.

Sebab jamaah kita adalah jamaah manusia, bukan jamaah malaikat. Tambal sulam kekurangan pasti ada. Tapi manhaj, insya Allah tetap benar.

Jangan sibuk mempertanyakan kemunduran saat ini, seperti kaum Ali bin Abi Thalib. Mereka protes mengapa di zaman kepemimpinan Rasul, Abu Bakar, Umar bin khattab dan Utsman bin Affan keadaannya lebih baik daripada Ali. Dengarlah jawaban cerdas Ali, "Di zaman mereka dahulu, orang yang dipimpinnya adalah orang sepertiku. Sedangkan di zaman kepemimpinanku sekarang, orang yang kupimpin adalah orang sepertimu."

Jika binaan/muridmu kurang berkualitas, maka cek lagi dirimu sebagai murabbi/guru, apakah sudah menjadi teladan?

#catatansepemahamanpenulis

Meta morfillah