Rabu, 10 Juni 2015

[Review buku] Manjali dan cakrabirawa

Judul: Manjali dan Cakrabirawa
Penulis: Ayu utami
Penerbit: KPG
Dimensi: x + 252, 13.5 x 20 cm, cetakan kedua september 2010
ISBN: 978 979 91 0260 7

"Jika kebetulan-kebetulan itu terlalu banyak dan cocok satu sama lain... Anda percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka?" (Jacques, hlm. 17)

"Misteri adalah sesuatu yang jawabannya tak akan pernah kau capai dalam hidup ini. Teka-teki adalah sesuatu yang jawabannya ada dalam hidup ini." (Yuda, hlm. 201)

"Manusia mungkin tidak punya kapasitas untuk mengampuni (barangkali hanya Tuhan yang bisa mengampuni), maka yang bisa kita lakukan adalah berdamai. Berdamai dengan sisi gelap yang tak bisa kita kuasai." (Parang jati, hlm. 207)

Tertulis di halaman belakang sampul novel ini, bahwa novel ini adalah roman misteri - seri bilangan fu. Tokoh utama dalam novel ini berpusat pada Marja, gadis kota yang ringan hati dan terbelah cintanya terhadap dua lelaki, Yuda dan Parang Jati. Jika Bilangan Fu lebih filosofis, seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Teka-teki itu berhubungan dengan sejarah dan budaya nusantara, sehingga novel ini ringan membawa pembacanya kembali mengenal khazanah tersebut. Seri bilangan fu selanjutnya akan terdiri roman misteri dan roman spiritualisme kritis.

Masih terkait dengan cerita di novel sebelumnya, yakni bilangan fu. Novel manjali dan cakrabirawa ini menjelaskan detail yang terjadi selama hampir dua pekan Yuda meninggalkan kekasihnya, Marja di Sewugunung bersama sahabatnya, Parang Jati. Bermula dari jelajah alam dan candi bersama, hingga menemani penggalian artefak candi Cwalanarang seorang peneliti dan arkeolog asal Prancis bernama Jacques, Marja menemukan sesuatu hal yang baru. Perlahan tapi pasti, ia menyadari bahwa dirinya jatuh cinta pada Parang Jati, padahal ia sudah berpacaran dengan Yuda. Serta beragam hal yang terjadi membuka mata dan hatinya menjadi lebih peka. Ia menemukan rahasia yang terkubur di balik hutan, kisah cinta yang sedih melibatkan cakrabirawa dan gerwani serta sejarah kelam negeri ini, juga beragam kisah hantu yang bahkan ia temui dan masih menjadi misteri hingga akhir. Puncaknya adalah, saat dirinya berhasil menjawab teka-teki yang berdampak pada manusia lainnya. Beragam kebetulan itu, membuat dirinya berpikir bahwa setiap yang terlibat memiliki arti.

Secara isi, novel ini benar-benar seperti bacaan ringan yang jauh sekali dari gaya awal ayu utami di novel sebelumnya yang kritis, bilangan fu. Tidak banyak hal istimewa yang saya dapatlan selain kisah calon arang dan kerajaan airlangga. Terlalu jauh rasanya bila dibandingkan dengan novel sebelumnya. Terlalu mudah ditebak, fokus lebih ke imajinasi liar Manjali yang menurut saya agak membosankan dan diulang-ulang. Saya tak tahu seri selanjutnya berjudul apa, dan akan dibuat seperti apa. Hanya saja, berharap tidak sedangkal ini. Atau, saya kehilangan objektifitas, karena novel sebelumnya, bilangan fu berhasil membuat saya terpukau dan berharap tinggi?

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#Day11 Komunikasi

Tidak ada hubungan yang buruk, yang ada hanyalah komunikasi yang kurang baik.

Pernahkah kamu bertengkar dengan orangtuamu? Coba diingat lagi, apa sebabnya? Kamu bilang, orangtuamu tidak mengerti tentang dirimu. Pernahkah kautanyakan lagi, apa yang sesungguhnya orangtuamu pikirkan? Misal, kalian berdebat tentang kamu yang ingin kuliah di luar kota, tapi orangtua tidak mengizinkan sebab tidak ada satu pun kerabat di kota itu yang bisa dititipkan penjagaan atas dirimu. Lalu kalian sama-sama keras kepala. Masing-masing merasa pihaknyalah yang benar. Dalam situasi ketegangan seperti itu, harus ada salah satu yang mengalah untuk mendengarkan. Bukan berarti mengalah itu selalu kalah. Bukan. Tapi mengalah dalam suatu perbedaan pendapat adalah dengan berpikir tenang, mencoba menelaah dari sisi lawan bicara kita. Sebab, bila kita sama-sama ngotot, komunikasi sudahlah tidak sehat.

Tahu kan, apa saja pendukung suatu komunikasi berhasil? Dalam teori sederhananya, harus ada source (sumber), message (pesan), channel (saluran), dan receiver (penerima). Bila keduanya sama-sama ingin didengar, maka keduanya akan menjadi source. Nah, bagaimana bisa akan terjadi komunikasi yang baik, ketika tidak ada yang menjadi receiver?

Dalam semua hubungan... komunikasi berperan penting. Pesatnya teknologi komunikasi saat ini, ternyata bisa memperparah hubungan, bukannya menambah erat. Contoh, dengan asyiknya orang pada gadget masing-masing, lihatlah saat berkumpul. Komunikasi dengan orang sekitarnya menjadi kurang optimal. Kontak mata berkurang, sehingga lawan bicara merasa diabaikan. Lalu masing-masing asyik dengan gadgetnya. Mereka memilih berbicara dengan orang yang jauh jaraknya, yang bahkan tak kamu tahu apakah sedang benar tersenyum saat ia memberikan emoticon senyum. Tak kamu kenal dengan baik, dibandingkan yang ada di sampingmu saat ini. Ironis bukan. Teknologi yang seharusnya mendekatkan yang jauh, dan mengeratkan yang dekat, malah kehilangan kontrol. Mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Berapa banyak hubungan rusak, seperti orangtua dan anak, istri dan suami, teman? Well, this is smart phone era, so please be a smart user!

Ada juga kasus lalainya ibadah akibat asyiknya chatting. Ada lagi kasus rusaknya pertemanan karena komunikasi tertulis via whatsapp yang memang sensitif dan sebaiknya dibicarakan (komunikasi lisan), sebab tulisan tidak memiliki intonasi. Selalu ada perbedaan antara komunikasi lisan dan tulisan. Kamu tak bisa mendeteksi kebohongan dalam tulisan, tidak saat kamu mendengar suaranya.

Begitulah... bila salah satu hubunganmu ada yang sedang kurang baik, maka perbaikilah komunikasimu. Too much information is not good too... I think. You should have space to make your quality time: with your family, friends, and yourself, of course.

So please, don't be a dumb people. Technology is jusqt technology. It's a tools. It depends on you. You have that power: to destroy or to build?

Meta morfillah

#Day10 Memaafkan

Memaafkan bukan berarti kalah, lembek, menyerah, dan bodoh.
Memaafkan bukan untuk kepentingan mereka yang dimaafkan. Sebab dengan memaafkan, sesungguhnya kita memenangkan hati dan diri kita. Kita menguasai kembali kebahagiaan kita, dengan melepas energi negatif. Kita membiarkan diri kita tak dikuasai amarah dan sakit hati berkepanjangan yang menyibukkan diri kita dari upaya membahagiakan. Satu menit marah, enam puluh detik kita kehilangan momen bahagia.

Memaafkan adalah berdamai. Berdamai dengan dirimu sendiri. Berdamai dengan hal-hal yang tak bisa kaukendalikan. Berdamai dengan kesadaran bahwa tiada yang sempurna, sama sepertimu.

Setidaknya, bila memang tidak bisa sepenuhnya memaafkan, terlebih melupakan, maka berdamailah. Seperti kutipan kata-kata Parang Jati dalam novel Manjali dan Cakrabirawa berikut.

"Manusia mungkin tidak punya kapasitas untuk mengampuni (barangkali hanya Tuhan yang bisa mengampuni), maka yang bisa kita lakukan adalah berdamai. Berdamai dengan sisi gelap yang tak bisa kita kuasai." (hlm. 207)

Meta morfillah

Selasa, 09 Juni 2015

#Day9 Tentang komunitas

Bukan dunianya yang sempit, tapi ukhuwah kita yang meluas. Agnes RT

"Grupnya banyak, tapi isinya sama aja. Orang yang itu-itu lagi."

"Udah ke beragam komunitas, tapi ketemunya dia lagi, dia lagi."

Semakin ke sini, semakin banyak yaa komentar senada seperti itu. Jauh-jauh ikut komunitas pendaki gunung, eh ketemu sama teman di komunitas pecinta buku dan komunitas gerakan cinta lingkungan. Tidak aneh. Sebab, semua orang akan berkumpul dengan yang sepaham.

Saya suka kutipan kalimat pembuka tulisan ini, yang saya dapat dari teman di salah satu komunitas. Ya, saya rasa bukan dunianya yang sempit, tapi ukhuwah kita yang meluas. Sadar tidak? Kita memperluas pergaulan, tapi ternyata orang yang kita temui, kebanyakan orang yang sama, yang kita kenal di komunitas lainnya. Tapi dari sanalah, kita menjadi tahu siapa saja yang aktif, konsisten, dan sesuai tujuan. Pertemuan dalam ragam komunitas itu menjadi semacam saringan. Lalu akhirnya kita tanpa sadar terbantu oleh saringan tersebut. Kita bisa mengenal pribadi dari ragam komunitas yang diikuti. Bisa menyelami karakter saat bersama dalam suatu event terlebih saat bermalam dan ada situasi kritis.

Setiap orang itu ibarat cermin. Cermin akan refleksi dirinya, ia akan berkumpul dengan jiwa-jiwa yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Mencintai hal yang sama. Begitulah jiwa-jiwa saling menemukan dan dipertemukan. Tujuan yang sama. Tak jarang, mereka menemukan teman seperjalanan dalam menuju tujuan itu. Cinta yang perlahan menjalar tumbuh dalam sebuah komunitas. Sangat wajar.

Tak wajar adalah bila, ada oknum yang melancarkan serangkaian modus dengan mengikuti beragam komunitas untuk menyebar jaringnya. Tak aneh pula, sebab saya beberapa kali menemui orang seperti ini. Sesungguhnya mereka tak tertarik dengan nilai-nilai komunitas tersebut, melainkan mereka hanya ingin memiliki banyak kenalan sehingga banyak pilihan untuk ditimbang mana yang akan ia jadikan pacar. Lalu rangkaian acara komunitas tersebut disettingnya menjadi acara yang panjang, hingga malam, lalu membuat lupa diri, dan membuat aksinya berjalan lancar. Berganti-ganti kekasih di tiap komunitas. Tiap ada orang baru, akan dia dekati. Bahkan ia akan mengikuti komunitas yang diikuti sang pujaan.

Maka, dari sekian banyak komunitas, tanda ukhuwah kita yang meluas, semoga kita tetap dapat menjaga diri. Jangan jadikan alasan menghabiskan waktu hingga terlena. Meski godaan bersama mereka yang sepaham begitu menggoda.

Meta morfillah

[Review buku] Bilangan fu

Judul: Bilangan Fu
Penulis: Ayu utami
Penerbit: KPG
Dimensi: x + 537 hlm, 13.5 x 20 cm, cetakan pertama Juni 2008
ISBN: 978 979 91 0122 8

GILA!!
Fyuuh.. itu kata yang terlintas saat menyelesaikan novel ini. Kebayang berapa lama nyiapin data, riset serta beragam dukungan dalam melahirkan novel ini. Beragam isu dari agama, feminisme, pewayangan, filsafat, dan lainnya sarat sekali di sini. Pertama saya membaca novel ini, saya merasa agak deja vu dengan dua penulis. Kesan surealis--meski tak sepenuhnya novel ini surealis--yang saya dapatkan di novel ini membuat saya teringat karya Eka Kurniawan di 'Cantik itu luka'. Sedangkan pembahasan agama, mengingatkan saya pada seri supernova karya Dewi lestari, hanya saja bahasa yang digunakan ayu utami lebih berat.

Melalui tiga tokoh utama dalam buku ini, saya mempelajari sedikit tentang babad tanah jawi, legenda dan kaitannya dengan alam, serta ilmu geologi. Adalah Yuda, yang memosisikan dirinya sebagai iblis, seorang pemanjat tebing yang skeptis dan senang sekali bertaruh, serta melecehkan nilai-nilai masyarakat. Lalu Marja, kekasih Yuda, manusia yang bertubuh kuda teji dan berjiwa matahari. Dan Parang Jati, si malaikat, seorang pemuda berjari dua belas yang terbiasa menanggung duka dunia. Kisah mereka berkelindan dan diawali dari sebuah kejadian aneh, yakni kebangkitan orang mati dari kubur hingga penyelamatan perbukitan gamping di selatan jawa.    

Di antara kisah tersebut, ada sebuah misteri tentang bilangan fu. Bilangan yang bila dikalikan satu hasilnya sama dengan satu dibagi bilangan tersebut, dan bilangan itu bukanlah satu. Dari bilangan fu tersebut, tokoh dalam cerita ini menapaktilasi sejarah bilangan yang purba, yang bila dirunut berdampak pada pemikiran manusia sejak zaman pitecantropus erectus. Juga berkelindan dengan legenda dan mitos setempat.

Satu hal yang saya suka ada di halaman 463, saat penulis membuat jarak dengan tokohnya. Ia membuat seakan-akan cerita ini nyata, ditulis oleh yuda dan beberapa catatan parang jati yang dikisahkan dan ditulis ulang oleh ayu utami. Seakan mereka semua hidup. Cara yang menarik untuk menghidupkan semua tokoh dalam tulisannya.

Secara isi, saya suka dengan ide yang diusung oleh sang penulis. Ia menyebutnya spiritualisme kritis, mengangkat wacana spiritual, keagamaan, kebatinan, maupun mistik ke dalam kerangka yang menghormatinya sekaligus bersikap kritis kepadanya, tanpa terjebak dakwah hitam dan putih. Terlepas dari kontroversi muatannya, saya kira membaca novel ini cukup dinikmati sebagai fiksi, bacaan ringan, dan kesungguhan yang diperlihatkan penulis dalam membangun kerangka pikirnya dengan riset. Saya apresiasi 4 dari 5 bintang. Tadinya mau saya beri nilai sempurna, tapi ada banyak kata yang baru saya temukan dan menambah kosakata saya, dan itu mengurangi kesenangan saya. Sebab membuat bingung, harus mencari tahu, dan ketika dipadankan, ternyata bahasanya masih 'terlalu tinggi' buat saya.. hahah... but so far, I really enjoy read this novel!

"Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebenaran harus kau pikul agar jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan.
Tapi kau juga tak boleh membuang kebenaran dari pundakmu seperti benda tak berharga. Sebab, jika demikian, maka engkaulah si congkak berhati degil itu.
Kau, sekali lagi, harus memikulnya, agar jangan ia menyentuh tanah dan menjelma kekuasaan.
Mengertikah kau? Kukira tidak. Aku tahu, butuh waktu bagimu untuk mengerti." (Hal. 408)

Meta morfillah

Minggu, 07 Juni 2015

#Day8 Don't expect!

Wanna be happy? Don't expect too much!

Siapa yang mematahkan hatimu? Dia yang kamu bilang PHP? Pemberi Harapan Palsu? Yakin?

Bukannya kamu sendiri yang patahin? Kan kamu yang berharap. Kamu yang punya ekspektasi. Padahal dia tidak bermaksud memberi harapan padamu. Dia baik padamu. Coba cek lagi, apakah dia baik juga ke semua orang, kalau iya yaa terbukti bahwa dia memang baik dan kamunya aja yang gede rasa. Atau bisa jadi dia baik sama kamu karena kamu tampak mengibakan di hadapannya. Dan masih banyak kemungkinan lainnya. Tapi semua itu tidak akan berkembang bila kamu tidak berharap. Berandai lalu memupuk rasa perlahan. Hingga saat kenyataan tak sesuai bayangan, kamu kecewa dan patah hati.

Maka semua tak akan terasa istimewa bila kamu tak memiliki ekspektasi terhadapnya. Bila saja, kamu mengabaikannya hingga dia memunculkan dirinya di halaman rumahmu, meminta dengan resmi pada orangtuamu. Mungkin itu meminimalisir patah hatimu.

Sudah diingatkan dalam kepercayaan yang saya yakini, bila kamu menyukai seseorang, maka cobalah hitung-hitung kejelekannya. Mengapa? Agar kamu jadi lebih objektif. Sebab saat jatuh hati, seringkali kita melihat dia dari segala hal yang baik dan abai pada ketidakbaikannya.

Begitu pun dalam tiap aspek. Dalam dinamika tim, pekerjaan, pimpinan, bawahan, dan lainnya... jangan berekspektasi terlalu tinggi. Mereka semua manusia, punya potensi mengecewakan. Semakin dekat dan intim, semakin besar dan dalam kekecewaan yang ditimbulkan.

Maka saat menerima pasangan, tidak hanya telanjang secara fisik, tapi juga telanjang secara batin yang harus diterima. Seberapa jujurkah kita hingga memperlihatkan sisi-sisi yang kita rahasiakan selama ini? Seberapa jauh kita berani membuka dan menelanjangi diri dan batin kita di hadapan yang kita cintai?

Meta morfillah

Sabtu, 06 Juni 2015

#Day7 Ujian

Bukan tidak ridha dengan ujian, cuma hendak mengadu padaMu...

Pada dasarnya manusia diciptakan bersifat pengeluh, pelupa, dan tergesa. Sedikit ditimpa kesusahan serasa selamanya gelap. Serasa bahagia tak pernah ia cecap. Seketika lupa kurnia Tuhannya yang selama ini ia dapatkan dengan mudah, bahkan tanpa diminta. Tapi Tuhan tahu, dan Dia menunggu. Menunggu kita kembali mengingatnya, dengan menyentil kesenangan kita.

Manusiawi bila kita mengeluh atas beban dan ujian yang membuat kita tertatih menjalani hidup. Merapuh dalam langkah, bahkan sering tak setia pada Tuhan. Meski cinta itu tetap ada dan tetap Tuhanlah yang bertahta. Tak mengapa, bila kita mengeluhkan itu semua kembali pada tuhan. Bukan tidak ridha dengan ujianNya, hanya hendak mengadu. Hanya hendak berbicara dan didengar. Terkadang tanpa berharap solusi, hanya sekadar meringankan sesak di dada. Lebih sering lagi, mengharap solusi pada Sang Maha Penyedia Jalan Keluar.

Berkali kita mengeja alif ba ta, untuk kembali mengingat tujuan kita di dunia. Sebab kemilau dunia seringkali menyilaukan mata. Hingga kita lupa esensi dan terpikat pesona yang abstrak. Dan tertakdirlah kita menjalani segala kehendak Tuhan. Mengimani bahwa segala langkah kaki kita berada dalam rencanaNya.

Tuhan tidak pernah bermain dadu dalam membuat jalinan cerita kita. Maka, percaya saja... bahwa Tuhan maha romantis. Sebagaimana tiap pekan ada akhirnya, seperti itulah ujian kita... juga akan berakhir. Tugas kita hanya menjalani, bukan berhasil.

Meta morfillah