Jumat, 05 Juni 2015

#Day6 Pilihan

Suatu hari nanti, akan ada seseorang yang kamu persilakan masuk dan mendiami hatimu. Maka, orang seperti apakah yang akan kamu pilih?

Rupawan..?
Menyenangkan memiliki seseorang yang rupawan. Memandangnya terasa seperti memandang karya tuhan yang sempurna. Bisa jadi, Tuhan menciptakannya saat sedang berbahagia, itu lelucon umumnya. Membayangkan memiliki keturunan yang rupawan pula membuat kita bahagia dan bangga. Tapi bagiku itu belum cukup. Bukan itu yang kucari.

Keturunan ningrat atau bernama besar..?
Bangga sekali bisa bersanding dengan orang yang bobot, bebet, dan bibitnya ternama. Derajat kita akan terangkat, kecipratan nama besarnya. Pengaruhnya membuat kita merasa punya kekuatan dan nilai di masyarakat. Tapi bagiku itu belum berarti. Bukan itu yang kucari.

Berharta..?
Waah... enaknya bila bersanding dengan orang kaya. Tidak perlu pusing untuk memikirkan hari esok. Tinggal menikmati, apalagi kalau kayanya sampai tujuh turunan. Asal kamu bukan turunan kedelapan, insyaa allah terjamin hingga hari tua. Tapi bagiku itu belum menjamin. Bukan itu yang kucari.

Lalu apa...?
Aku mendahulukan ia yang bertakwa. Sebab, cinta karena rupawan, keturunan, dan harta akan hilang seiring sebabnya. Tidak dengan takwa. Saat wajahku menua, tidak lagi jelita, ia tetap akan setia. Saat tercorengnya nama baikku, dia akan tetap menjaga. Saat miskin dan papa, ia akan tetap bersama. Sebab ia takut pada tuhannya. Dengan takwa, bila ia mencintaiku maka ia memuliakanku, bila tidak maka ia tidak akan menghinakanku.
Cinta akan hilang dengan cepat. Maka saat cinta hilang, takwanya pada tuhan yang akan menjadikannya pribadi istimewa. Dia tidak akan risih mencebokiku saat aku sakit dan menua. Dia tidak akan malu memapahku bila aku lemah dan tak berdaya. Dia tidak akan marah dan merasa dirugikan saat aku tak lagi sehebat dulu.

Bebas saja kaupilih mau yang seperti apa. Tapi, cinta saja tidak cukup. Ia butuh dikekalkan dengan komitmen. Komitmen itu lahir dari takwa. Komitmen dia yang bersedia lahir batin, susah senang, sehat sakit, menerimaku dan berani bertanggung jawab di hadapan tuhannya. Perjanjian yang begitu berat, mitsaqan ghaliza, yang bahkan disetarakan dengan kokohnya gunung.

Jadi... orang seperti apakah yang akan kamu pilih untuk mendiami hatimu?

Meta morfillah

Kamis, 04 Juni 2015

#Day5 Bukan hal baru

Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Semua hanya pengulangan.

Derita kita, bukanlah hal baru.
Saat ayah saya meninggal, saya kira hidup saya tidak akan lebih baik atau menyenangkan lagi. Nyatanya, saya masih hidup hingga hari ini, dikenal dengan wajah yang selalu ceria, hingga saat wajah saya muram mereka bilang itu tidak cocok bagi saya. Padahal saya pernah begitu tidak bersemangat hidup dan sedih hingga berhari-hari seperti mayat hidup. Tapi, saya yakin hal seperti itu bukanlah hal baru. Ada banyak derita yang serupa, dialami jiwa-jiwa lain yang mungkin jauh lebih tangguh dari saya. Tak pernah mengabarkannya pada dunia.

Cinta kita, bukanlah hal baru.
Jatuh hati diam-diam, memendam rindu, patah hati dalam diam lalu pulih diam-diam. Takut membuka diri, pengingkaran, lalu perlahan menerima dan berhasil jatuh hati lagi. Segala romansa cinta itu juga bukanlah hal baru. Pernah ada yang mengalami seperti kita. Semua hanya pengulangan pada manusia yang berbeda. Sikap yang berbeda.

Kisah kita, bukanlah hal baru.
Jalan hidup kita, hingga jalinannya ke diri kita saat ini bukanlah hal baru. Banyak orang yang pernah mengalami atau memiliki kesamaan kisah yang berkelindan dengan kisah kita.

Jadi, tidak usah berpikir terlalu jauh, ingin mencipta yang wah. Sebab semua hanya pengulangan.
Jangan berpikir terlalu istimewa dengan derita, cinta, dan kisah hidup kita, sebab semua hanya pengulangan.

Baiknya, dari pengulangan itu kita belajar... menghindari yang tak baik, sebab tidak semua harus kita alami, serta tak ada waktu untuk mencoba segala hal. Belajar memaksimalkan usaha sehingga memberi dampak besar. Berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya. Karena begitu banyak yang merasa semua hal yang terjadi pada dirinya adalah hal baru, hingga mereka mengabaikan petuah orang yang terdahulu mengalaminya.

Hati-hati tergelincir dengan pandangan 'baru' yang nyatanya kejadian sama, hanya terjadi pada orang yang berbeda dan sikap penerimaan yang berbeda.

Meta morfillah

Rabu, 03 Juni 2015

#Day4 Musafir

Little by little, one travels far.
J. R. Tolkien

Ya... perlahan kita semua berjalan. Tidak akan pernah diam di tempat. Bukankah sudah berkali dibilang, bahwa hidup ibarat mengendarai sepeda. Kita harus terus mengayuh agar tetap seimbang dan mencapai tujuan. Bila kita tidak bergerak, kemungkinan ada yang salah dengan diri kita.

Konsekuensi dari perjalanan itu, kita akan mengalami penambahan serta pengurangan. Penambahan teman-teman baru, pengurangan teman-teman lama. Tidak... bukan berarti kita semua lupa teman lama, melainkan kita akan terus melihat ke depan dan bersama dengan yang sevisi atau setujuan kita. Perlahan, kita akan memilih jalan yang berbeda. Yang biasanya saat mau jalan, tinggal ngomong langsung jalan, sekarang tidak. Sudah lama dibahas, pas hari H banyak yang mengundurkan diri karena beragam kepentingan. Semakin banyak wacana. Semakin banyak yang mulai menentukan prioritas, dan kita bukanlah lagi prioritasnya. Perlahan semua akan berpasangan dan bukannya lupa, tapi mereka sibuk mengayuh sepeda mereka ke tujuannya.

Bijaklah, bila kita mulai kehilangan beberapa teman main. Bahkan, mungkin saja kita yang meninggalkan mereka. Sebab, perlahan kita semua adalah musafir, yang sedang berjalan ke tujuannya masing-masing. Percayalah, tidak akan ada niat menghapus kenangan, mungkin terlupa iya.

Meta morfillah

#Day3 Tuhan tahu

Betapa bijaknya tuhan memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Sebab kita banyak hidup dari angan-angan. Saat menghadapi ujian, kita berangan bagaimana jika begini dan bukan begitu, bagaimana jika ini tak menimpaku, serta bagaimana jika lainnya. Kita lupa menikmati ujian tersebut dan memaknai hadiah apa yang ada di baliknya. Sebab, tak jarang tuhan mengirimkan hadiah istimewa melalui kurir buruk rupa. Seperti itulah masalah.

Aku sendiri, dulu sering menyalahkan tuhan, mengapa aku dibuatnya yatim di usia belia, mengapa aku diberikan uda (saudara laki-laki dalam bahasa minang) disabilitas, mengapa aku yang bungsu seharusnya manja malah berasa sulung, mengapa aku harus bertanggung jawab pada mama dan udaku serta mengapa lainnya. Perlahan saat semakin dewasa, aku memahami hadiah tuhan untukku. Ia ambil semua kemungkinan yang memungkinkanku jadi anak manja, malas, serta tak bertanggung jawab dengan mengambil fasilitas serta perantaranya. Menjadi yatim, membuatku lebih peka atas perasaan di balik senyum seseorang yang kehilangan, meski harta menyelimutinya. Memiliki uda disabilitas, membuatku tahu cara berkomunikasi dengan orang-orang luar biasa tersebut, serta menghargai begitu dalam bagi para pendampingnya. Menjadi bungsu rasa sulung, mengajarkanku untuk tetap membumi saat kaki ingin berlari dan melangit. Mendapat kehormatan dipercaya mama untuk menjaganya di hari tua, mengajarkanku tanggung jawab. Meski tidak semua langsung aku terima dengan baik. Tetap saja aku mengingkari awalnya, merasa lelah, tak seharusnya di posisi itu, tak jarang menyalahkan dan ingin meninggalkan semua itu, bertindak semauku. Tapi, semua itu menandakan bahwa manusia tetaplah manusia. Aku bersyukur pernah mengalami hal-hal yang tidak semua orang rasakan.

Kita juga sering berangan-angan atas hal yang belum hadir. Berangan tentang alangkah indahnya hidup ini bila ada dia yang menemani, misalnya. Padahal, belum tentu saat ini kita siap menerima hal itu. Bisa saja, bukannya membantu menyelesaikan atau meringankan beban hidup kita, orang yang kita harapkan itu malah jadi masalah tambahan bagi kita.

Begitulah... kita banyak hidup dengan berangan-angan. Betapa bijaknya tuhan, tak mengikuti keinginan kita yang besar kemungkinan hanya angan-angan kita sejenak yang rapuh seperti istana pasir digerus ombak laut. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, bahkan tanpa perlu kita pinta.

Meta morfillah

Selasa, 02 Juni 2015

Kokohnya keluarga dengan Al Qur'an [part Ust. Deden]

Kokohnya keluarga dengan Al Qur'an

Hari, tanggal: Selasa, 2 Juni 2015
Tempat: Masjid Istiqlal
Pembicara: Ustad Deden

Menghafal Al Qur'an bukan untuk diburu-buru atau ditunda-tunda, tapi untuk dinikmati. Seperti makan, nikmatnya ada pada saat makan, bukan akhir. Bila kenikmatan makan ada saat akhir, maka makan pakai lauk ayam atau nasi pakai garam saja akan sama nikmatnya, asal cepat. Begitu pun dengan menghafal al qur'an.

Mengapa orang tidak hafal qur'an? Jawabannya hanya satu. Karena ia tidak menghafal. Pun sebaliknya, orang hafal qur'an, ya karena ia menghafalnya. Jangan bangga kalau kita banyak menghafal lirik lagu, tapi tidak hafal qur'an.

Nikmat menghafal qur'an bukan dilihat dari jumlah ayat atau juz, melainkan jumlah waktunya. Jadi pertanyaannya bukan sudah berapa ayat atau juz yang dihafal? Melainkan, berapa lama/berapa jam menghafal dan berinteraksi dengan qur'an? Minimal sediakan waktu 1 jam untuk membaca atau menghafal Qur'an. Sebab, bukan kemampuan kita yang menjadikan kita penghafal Al Qur'an, melainkan Allah lah yang mengizinkan hal itu.

Jangan berdalih sibuk sehingga tidak ada waktu. Orang sibuk itu hanya ada 3 dalam Al Qur'an:
1. Orang sakit.
2. Pebisnis yang memikirkan banyak orang, selain diri sendiri dan keluarganya.
3. Orang yang sedang berperang di jalan Allah.

Bila kita bukan termasuk ketiga golongan tersebut, seharusnya kita bisa meluangkan waktu untuk Al Qur'an.

Meta morfillah
Catatan pribadi dengan redaksi penulis

Kokoh keluarga dengan al qur'an [part OSD]

Kokohnya keluarga dengan Al Qur'an

Hari, tanggal: Selasa, 2 Juni 2015
Tempat: Masjid Istiqlal
Pembicara: Oki Setiana Dewi

Sebelum membangun keluarga, ada 3 hal yang harus diperhatikan:

1. Cari/pilihlah pasangan yang baik
Jangan pilih wanita cantik yang tumbuh di lingkungan kurang baik. Carilah di lingkungan baik seperti masjid.
Tidak ada yang namanya pacaran syariah: Gak pegangan, tapi boncengan iya.
Sebab wanita ibarat ladang. Meski benih suami baik, jika ladangnya tidak, maka tidak optimallah pertumbuhan benihnya bahkan bisa jadi tidak tumbuh.
Islam menyuruh kita mencari pasangan dengan kriteria yang paling baik agamanya. Agama itu adalah akhlak. Maka lihatlah akhlaknya baik atau tidak. Cara termudah adalah lihat dari pergaulannya. Apakah ia terbaik tapi dalam pergaulan buruk atau penuh maksiat?

2. Prosesnya juga harus baik
Jangan kotori prosesnya. Semisal laki-laki dan perempuan berduaan. Tak peduli seberapa saleh atau panjang jilbabnya, rentan sekali setan menggoda jika sudah berduaan.
Ada sebuah kisah nyata. Seorang laki-laki saleh dan wanita saleha yang akan menikah. Mereka sedang mencari rumah untuk tempat tinggal mereka nanti. Sayangnya, tidak ada satu pun keluarga yang dapat menemani. Sehingga mereka berangkatlah hanya berdua, dengan mobil. Saat sampai di rumah yang dituju, sang wanita masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati banyak kecoa. Spontan, dia pun menjerit-jerit ketakutan. Sang lelaki yang khawatir, sigap masuk ke kamar mandi. Setelah mengusir kecoa, tinggallah mereka berdua di kamar mandi itu. Apa yang kemudian terjadi? Setan melihat peluang dan dia menggoda keduanya. Maka terjadilah zina. Sang lelaki bilang, "Tenanglah wahai calon istriku, sebentar lagi kita halal. Nanti kita taubat sama Allah." Beberapa hari menjelang pernikahan, sang lelaki mati karena kecelakaan sedangkan sang wanita tengah hamil. Naudzubillah.
Begitulah Allah melarang kita untuk mendekati zina. Sekadar mendekatinya saja dilarang, apalagi melakukannya. Karenanya, pada lelaki dan wanita, Allah menyuruh kita menahan pandangan dan menjaga kemaluan (Q. S. An nur ayat 30-31).
Juga sebagai orangtua, kita harus menjaga anak-anak kita. Jangan malah menjerumuskan seperti berkata "Malam minggu kok di rumah saja. Cari pacar, gih. Jangan kelamaan menjomblo." Lalu mengizinkan anaknya keluyuran sampai pukul 12 malam.
Dulu pada zaman Umar bin Khattab, ada sebuah kisah orangtua melaporkan anaknya yang durhaka pada Umar. Sebelum diadili, sang anak bertanya pada Umar "Adakah hak seorang anak dari orangtua?"
Umar menjawab, "Ada. Seorang anak berhak atas 3 hal. Pertama, orangtua wajib memberikan IBU yang baik. Kedua, memberikan NAMA yang baik. Ketiga, memberikan PENDIDIKAN (al quran) yang baik."
Anak tersebut menjawab, "Tidak kudapati ketiganya dari orangtuaku."
Maka Umar mengatakan, "Durhakalah orangtuamu."

3. Jadikanlah diri kita yang terbaik untuk pasangan kita kelak
Terutama seorang ibu. Sebab ia adalah madrasah pertama seorang anak. Maka, jadilah ibu yang baik, karena anak adalah peniru paling ulung, dan ia akan meniru orang terdekatnya, yakni ibu (orangtua).
Biasakan berkata baik, jangan suka memukul.
"Tidak akan disayangi Allah, orang yang tidak menyayangi."
Maka berdoalah yang baik untuk anak, sebab ada anak yang dilahirkan menjadi cobaan. Berikan contoh yang baik (uswatun hasanah).
Ajarkan tauhid sebagai dasar utama, dan kokohkan agar kelak ketika ia dilepas atau berjauhan dengan orangtuanya, ia akan tetap terjaga. Perintah ini ada dalam Q. S. Luqman ayat 12 dan Q. S. Al baqarah ayat 83. Terakhir, dan yang sering dilupakan oleh orang-orang, cara membuatnya (jima') pun harus sesuai aturan. Diawali dengan berwudhu, dan jangan lupa berdoa saat hendak jima', agar kelak anak yang dihasilkan dari jima' tersebut dilindungi dari setan.

Meta morfillah
Catatan pribadi, dengan redaksi penulis.

#Day2 Tidak cukup

Aku sering merasa tidak cukup baik untukmu.
Tidak cukup baik untuk disandingkan denganmu.
Tidak cukup baik untuk menjadi penenangmu.
Tidak cukup baik untuk menjadi ibu dari anak-anakmu.
Tidak cukup baik mengelola keuanganmu.
Tidak cukup baik memasakkan makanan yang menyehatkanmu.
Dan masih banyak ketidakcukupan lainnya.

Tapi... ada harapan untuk bersamamu.
Ada bayangan menghabiskan waktu bersamamu.
Ada keinginan menjadi tua, keriput, dan tetap menggenggam tanganmu.
Ada doa tentang kamu.

Lantas, bagaimana mempertemukan harapan dan kecemasanku?
Bagaimana menentukan bahwa ini adalah saat yang tepat, orang yang tepat, dan cara yang tepat?

Apakah selalu seperti ini saat mencintai seseorang? Kau selalu merasa tidak pernah cukup untuknya, meski kau begitu mendambanya?

Meta morfillah