Rabu, 20 Mei 2015

[Review buku] Kedai 1002 mimpi

Judul: Kedai 1002 mimpi
Penulis: Valiant Budi
Penerbit: Gagas Media
Dimensi: iv + 384 hlm, 13 x 20 cm, cetakan pertama 2014
ISBN: 978 979 780 711 5

Awalnya saya kira buku ini adalah fiksi, namun ternyata saya salah. Buku yang saya dapatkan dari hadiah sebuah perlombaan di grup komunitas ino ternyata adalah seri kedua. Seri pertama buku ini berjudul Kedai 1001 mimpi. Judul itu diambil dengan pertimbangan penulis bekerja di kedai kopi, di negeri 1001 malam (Arab), dan kisah perjalanannya terasa seperti mimpi. Meski covernya terlihat menarik, saya tak tergerak membaca buku ini di antara beragam pilihan buku yang belum saya baca. Mengapa? Karena sebelumnya saya pernah membaca karya penulis berjudul Bintang bunting, yang menurut saya kurang memuaskan. Sayangnya, saat saya ingin membandingkan gaya penulis di buku ini dan buku sebelumnya itu, buku bintang bunting kepunyaan saya dihilangkan oleh teman yang meminjam.

Well, di buku ini saya suka gaya bercerita Vabyo yang interaktif, menarik, dan cukup humoris. Beragam pengalamannya sebagai mantan TKI di Saudi Arabia yang sebenarnya miris dan menyedihkan malah saya nikmati dengan tersenyum. Tapi mungkin memang pengalaman buruk itu lebih membuat kita kreatif. Berkat pengalaman kerja yang tidak menyenangkan itu, vabyo justru melahirkan buku, menulis lirik lagu untuk boyband terkenal di Indonesia, serta membuka kedai kopi! Persis seperti pekerjaannya di Arab dahulu.   Meski beragam hal baik mulai datang dalam hidupnya setelah balik ke Indonesia, tepatnya bandung, ternyata Vabyo belum bisa bernafas lega.

Ada banyak komentar negatif, teror, mimpi buruk yang sering berulang hingga vabyo memutuskan mengonsumsi obat penenang. Bahkan teror itu tak sebatas di dunia maya, melainkan secara fisik pun sering ia alami. Seperti ban mobil yang sering dikempeskan, didorong saat sedang berjalan oleh pengendara motor yang merupakan hatersnya, hingga pengunjung kedai yang aneh dan mencari masalah. Tapi semua itu menjadi tak berarti saat ia mendapat kabar ayahnya sakit. Semua masalah yang menderanya, menjadi tidak berarti dibandingkan kekhawatiran terhadap keadaan orang yang dicintainya.

"Ayah bukan bapak terbaik di dunia, tapi aku juga bukan anak tersoleh yang bisa ayahku banggakan. Dan bisa jadi, justru karena itu kami dipasangkan." (Hlm. 270)

Semua hal melelahkan itu, ia obati dengan travelling sendirian ke luar negeri, sembari mempraktikkan self healing yang ia pelajari dark reza gunawan. Di akhir bukunya, vabyo menyertakan bonus tulisan dark blognya, bonus resep saudi champagne dan hummus versi anti drakula, bonus artikel ngendon di london (dan ini yang paling bikin saya iri dan mupeng pengen ke london), bonus surat cinta dark 2 penggemarnya, dan nukilan beserta review tentang buku pertama seri ini: kedai 1001 mimpi. Ada kutipan yang saya suka di nukilan tersebut,

"Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain." (Vabyo, hlm. 371)

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang, karena saya merasa seperti ada bagian yang terpotong di tengah cerita tentang pengalaman vabyo di saudi yang tiba-tiba berganti menjadi liburan di luar negeri.

Meta morfillah

Selasa, 19 Mei 2015

[Review buku] Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur

Judul: Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur!
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: MELIBAS
Dimensi: 249 hlm, cetakan 2 november 2003
ISBN: 979 96336 14 9

"Dengan berat hati kukatakan: Aku tak punya alasan untuk mengabdi kepadaMu. Aku tidak punya alasan untuk sebuah penyerahan yang absurd." Nidah Kirani

Nidah Kirani, atau yang lebih dikenal dengan nana Kiran, awalnya adalah seorang muslimah yang taat. Berhijab dan berjubah besar, beribadah begitu khusyu', rajin salat, membaca Al Quran, berzikir dan berpuasa. Mendalami amalan sufi dan begitu ingin zuhud. Ia begitu ingin menjadi muslimah yang beragama secara kaffah.

Sayangnya, di tengah perjalanannya ia bertemu sesuatu yang salah. Ia yang lugu, terjerat masuk ke dalam jemaah sebuah organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam dengan mendirikan negara islam di indonesia. Bukannya mengantarkan ia berislam secara kaffah, organisasi itu justru merampas nalar kritis dan imannya. Mengenalkan ia pada rasa kecewa yang begitu dahsyat. Berkali ia menggugat para pimpinan organisasi itu, namun seperti ada hal yang ditutupi. Hingga puncaknya ia melarikan diri dengan teror bahwa jemaah yang keluar dari organisasi haruslah dibunuh. Dalam keadaan itu, ia mulai menggugat Tuhan. Mengapa saat ia begitu total ingin menyembahNya, Tuhan malah seperti tidak peduli dan lari dari tanggung jawab terhadap hidupnya.

Sayang seribu sayang, ia lari pada hal yang salah. Kekecewaan itu ia larikan dalam obat-obatan dan free sex. Ia mencari perhatian tuhan dengan menantangnya. Setiap kali usai bercinta dengan beragam lelaki, tanpa sedikit pun sesal, dia berkata pada Tuhan "Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihat aku, Tuhan, kan kutuntaskan pemberontakanku padaMu!" Dari petualangan seksnya, ia menganggap bahwa semua manusia bertopeng, dan khususnya lelaki baik dari aktivis kiri hingga kanan (islam) yang selama ini berteriak garang tentang moralitas, begitu dangkal dan tunduk dalam pelukannya. Ia menganggap pernikahan hanyalah pengungkungan. Beragam cobaan juga sempat membuat ia melakukan percobaan bunuh diri, sebagai tantangan pada tuhan bahwa ialah yang memutuskan hidup dan matinya sendiri. Dan saat ia memutuskan menjadi pelacur, tanpa disangka orang yang bersedia membuka jalan dan bertindak sebagai germonya adalah dosennya yang begitu berwibawa, anggota DPRD dari fraksi islam yang sudah tua dan menikah.

Dahsyat sekali pengalaman atau memoar luka muslimah bernama Nidah Kirani ini. Beragam isu seperti feminisme, filsafat, agama, hingga moralitas dipertanyakan. Satu hal yang saya petik, teruslah meminta keselamatan imanmu hingga akhir hayat. Sebab tak ada yang tahu hingga kapan kita akan beriman. Bila iman sudah tercabut, ke mana lagi hati bisa berlabuh dengan tenang?

Menurut penulis, ini adalah kisah nyata temannya yang dituturkan langsung. Melalui 13 pengakuan yang terangkum dalam 13 bab, saya salut sekali bahwa wanita ino berani mengungkapkan apa yang ia alami, pikirkan dan pertanggungjawabannya.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Senin, 18 Mei 2015

[Review buku] Man Shabara Zhafira

Judul: Man Shabara Zhafira
Penulis: Ahmad Rifa'i Rif'an
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Dimensi: xxiv + 283 hlm, cetakan I 2011
ISBN: 978 602 00 1619 1

Menasihati orang lain untuk sabar, tentu sangat mudah ketimbang mengalaminya sendiri. Tapi, nasihat apalagi yang lebih bijak selain nasihat untuk bersabar? Kesabaran adalah modal dasar pemenang. Sebagaimana sub judul dalam buku ini "Success in life with persistence".

Buku ini terdiri dari 6 bab yaitu dream, action, beautiful life, love, pray and wisdom. Di bab 1, penulis menjabarkan bagaimana memetakan impian hingga rinci dan terukur, disesuaikan kemampuan, dan dituliskan. Lalu di bab 2, penulis menjabarkan tentang memulai aksi dengan berani mencoba, disiplin, dan memperbaiki penampilan. Di bab 3, penulis menjabarkan tentang kebahagiaan dan bagaimana menikmati hidup agar menjadi bahagia. Di bab 4, penulis menjabarkan tentang energi cinta kepada sesama, bahwa hidup jangan hanya sekadar sukses untuk diri dan keluarga sendiri. Di bab 5, penulis menjabarkan tentang konsep doa dan ibadah yang harus dilakukan seiring ikhtiar yang sudah maksimal. Di bab ini, ada 2 puisi yang diselipkan penulis. Terakhir, penulis menjabarkan tentang kebijakan menerima segala keadaan dan situasi hidup kita saat ini, baik itu kehilangan, kesulitan, hingga kematian.

Konsep buku ini dalam tiap sub babnya dimulai dengan cerita, lalu dikaitkan dengan judul dan diakhiri dengan kesimpulan. Beragam contoh cerita ada yang dari buku bacaan, internet, cerita islami, hingga pengalaman yang dialami penulis sendiri. Beberapa cerita ada yang sudah sering saya baca di internet dan buku sejenis yang saya baca terlebih dahulu, bahkan ada yang saya arsipkan di blog saya sebagai motivasi. Yaa.. isi buku sejenis ini (motivasi, pengembangan diri) entah mengapa sebagian besar sudah tertebak, hampir sama, namun tetap laku di pasaran. Mungkin karena memang banyak orang berupaya mencari penguatan untuk mencapai kebahagiaan hidupnya melalui kata-kata positif.

Secara keseluruhan, saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Saya mengutip kutipan di halaman 64 buku ini, yang paling saya suka.

From book "Dare to try"

We were born to try,
Try to walk,
Try to talk,
Try to read,
Try to graduate from school,
Try to achieve great career,
Try to build a business,
Try to love someone,
Try to build a family,
Try to make a better life,
Try to survive.
We'll never stop trying, unless we have died.
All things that have happened to us are the result of our trial.

Meta morfillah

[Review buku] Jangan jadi muslimah nyebelin

Judul: Jangan jadi muslimah nyebelin
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House
Dimensi: 220 hlm, 20.5 cm, cetakan ketujuh februari 2007
ISBN: 979 3651 65 2

Muslimah nyebelin? Kayak gimana tuh? Atau bahkan kamu sering menemukannya, hanya saja mau menegur tapi enggan, gak enak?

Buku ini mengupas tentang beragam hal hingga sikap yang membuat seorang muslimah menjadi nyebelin. Mulai dari fisik, hal remeh yang mengganggu seperti keringat, bau mulut, kebersihan rambut dan tangan hingga aneka rasa bau lainnya. Juga secara penampilan seperti kebersihan wajah, yang seringkali kurang terawat sehingga membuat mata yang melihat jadi jengah, serta penampilan seperti pemilihan warna, ukuran baju, dan style yang berlebihan. Selain itu dari pemilihan kata-kata yang biasanya nyelekit sehingga merusak kegembiraan teman, mencela atau menghina, biang gosip, gak mau kalah, gak lihat sikon, hingga gak bisa menahan komentarnya untuk tidak berkomentar. Terakhir, juga yang paling utama adalah nyebelin secara perilaku. Contohnya suka ikut campur, lelet, jorok, tukang dandan, eksklusif, ratu ngeluh, cepat bilang gak bisa, kuper, gak pela, penggoda, mental gratisan, kaku, miss judge, dan perkataan gak sesuai perbuatan (pacaran).

Membaca buku ini, seperti mengajak saya berkaca lagi. Menimbang, menilai dan mencoba mencari tahu apakah di antara hal-hal tersebut saya pernah atau bahkan sering melakukannya. Mungkin buku ini bisa membuatmu marah, sekaligus tertawa. Tersindir, minimalnya lah. Sebab apa yang diungkapkan memang keseharian dan sering kita temukan dalam keseharian. Meski sebenarnya manusiawi, tapi ketika yang melakukannya adalah seorang muslimah, hal itu menjadi lain. Menjadi semacam tolok ukur bahwa jilbab atau bahkan agamanya kurang bagus, hanya karena kekhilafan pengikutnya.

Saya suka dengan ide cerita yang menyadarkan ini, benar-benar membuat kami para muslimah aware dan seperti mengikuti sebuah salon kepribadian. Gaya bahasanya pun ringan, santai, meski agak provokatif. Tak butuh waktu lama mencernanya. Cukup dua jam saja.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Minggu, 17 Mei 2015

[Review buku] My stupid boss

Judul: My stupid boss
Penulis: Chaos@work
Penerbit: Gradien Mediatama
Dimensi: 200 hlm, 13 x 19 cm, cetakan kesembilan 2010
ISBN: 978 602 8260 20 6

Pernah ngalamin bos yang suka kena amnesia attack dengan omongannya sendiri? Sedikit-sedikit ancamannya potong gaji? Sok berani dan ngomel-ngomel di belakang, tapi pas berhadapan langsung dengan klien langsung kuncup, bahkan tak jarang nyalahin staffnya?

Jadi karyawan, pasti selalu menarik ngomongin bos. Apalagi kalau bosnya benar-benar gokil kayak di buku ini. Rule 21 yakni pasal 1 'bos tidak pernah salah' dan pasal 2 'kalau bos salah, lihat kembali pasal 1' terasa sekali dalam karakter bos di buku ini.

Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang diawali di blognya, hingga lahir dan diterbitkan dalam format buku ini begitu kocak, konyol dan menghibur. Selain tingkah bos yang ajaib, saya juga belajar tentang sedikit bahasa dan budaya kerja dengan orang asing dan di negeri asing. Ya, penulisnya memang orang indonesia, tapi pengalaman bekerjanya ini adalah saat ia di Malaysia dengan bos yang sebenarnya orang indonesia juga. Membaca buku ini membuat saya berpikir dua hal seperti yang diharapkan penulisnya untuk pembacanya:

You: yo are not the poorest worker in the world.
Your boss: he is not the worst boss in the world.

Meski menurut pengakuan penulisnya ada beberapa nama dan tempat kejadian yang ia ubah untuk menjaga privasi, juga nama bos aslinya tak ia paparkan, tak membuat cerita ini menjadi aneh.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Jumat, 15 Mei 2015

[Review buku] Membaca watak wanita dari caranya dandan, bicara, parfum, dan buah kesukaannya

Judul: Membaca watak wanita dari caranya dandan, bicara, parfum, dan buah kesukaannya
Penulis: Imam Wahyu Winaris
Penerbit: Najah
Dimensi: 182 hlm, cetakan I november 2011
ISBN: 978 602 978 931 7

Tidak seperti tes-tes kepribadian yang butuh waktu lama, trik dalam buku ini memberikan pedoman super cepat tentang cara melihat seorang wanita, baik melalui cara berdandan, berjalan, berbicara, parfum yang digunakan, dan bentuk bibirnya. Meskipun analisisnya belum baku, namun cara tersebut lebih efektif karena dapat dilakukan langsung.

Itu kalimat yang tercantum di belakang buku untuk menarik minat pembeli. Setelah membaca, saya setuju bahwa buku ini belum baku. Mengapa? Sebab yang saya dapatkan adalah seperti copasan blog-blog orang lain yang disatukan. Di bagian akhir pun daftar pustakanya 100% dari internet, sebagian besar pun blog orang lain dengan domain blogspot dan wordpress yang tidak begitu dikenal. Bagaimana mempertanggungjawabkan teorinya? Padahal di halaman pembuka, penulis menjelaskan empat kepribadian teori hipocrates yakni sanguinis, plegmatis, melankolis, dan koleris. Di halaman 20, kelebihan wanita sanguinis dengan kelebihan wanita melankolis di halaman 23. Besar kecurigaan saya, itu adalah copas yang terulang. Dikatakan wanita sanguinis dan melankolis bersifat " sensitif kepada orang lain, berteman dengan hati-hati, puas berada di belakang layar, menghindari perhatian, suka keteraturan, terjadwal, hati-hati, rapi dalam perencanaan, hemat, suka dengan fakta-fakta, data-data, serta angka-angka."

Sejauh yang saya ketahui itu adalah sifat yang identik dengan wanita melankolis, bukan sanguinis. Teori yang saya pernah baca di buku  kuliah dan saat menerima materi training, wanita sangunis justru mencari dan senang dengan perhatian. Sangat bertolak belakang dengan hal yang dinyatakan di buku ini.

Lalu di halaman 38 dan 39, mengenal karakter dari warna. Beda antara penyuka warna merah muda dengan merah jambu. Loh, bukannya merah muda = merah jambu??

Lalu di halaman 53, lucu sekali... mengenal wanita dari cara berpakaian. Penulis membaginya menjadi 27 jenis pakaian, dan tidak semuanya diberi contoh gambar. Sehingga ada mispersepsi di benak saya. Beberapa hal terasa pengulangan. Lalu mulai poin 8 di halaman 53, penulis menjudge gaya berpakaian ini adalah style wanita berzodiak anu. Saya kaget laah... kenapa tiba-tiba ada judgement seperti itu? Padahal di awal-awal tidak disebutkan kaitan astrologi dengan gaya berpakaian. Cukup banyak ketidakkonsistenan dalam buku ini.

Saya apresiasi 2 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Rabu, 13 Mei 2015

Ini pengalaman pertama berhijabku. Kalau kamu?

Kapan kamu mulai berhijab?
Mengapa kamu mau berhijab? Apa alasannya yang membuatmu yakin untuk berhijab?


Well, pertanyaan macam itu biasanya akan terus ada saat teman-teman mengetahui perubahan kita dari yang belum berhijab, menjadi berhijab. Setiap orang pun akan menceritakan beragam pengalaman pertamanya hingga memutuskan berhijab. Sebagian besar mungkin ada kemiripan cerita, sebagian ada yang begitu mudah dan sebagian pun ada yang begitu sulit. Saya pun masih penasaran dengan sebagian teman-teman yang memutuskan berhijab. Terlebih bila mereka dahulunya “The most wanted girl” di sekolahnya, atau begitu populer dan eksis. Dari keingintahuan itu, saya mendapatkan sebagian cerita. Berikut ceritanya:


Siti Pandan

Aku berhijab untuk pertama kalinya ketika memasuki tingkat dua. Itu pun sebenarnya juga karena terpaksa. Terpaksa karena sudah terlanjur berjanji dengan seorang teman.
Sebenarnya waktu berumur 9 tahun, aku sudah pernah berhijab. Tetapi mungkin kondisinya pada saat itu karena masih kecil dan belum mengerti apa-apa, jadi ketika berumur 12 tahun (atau lebih tepatnya lulus SD) aku melepas hijab, karena memang masih iri dengan teman-teman yang lain. Waktu jaman itu, kadang aku suka iri dengan teman-teman yang rambutnya bisa dikuncir, dikepang atau hanya sekedar diberi penghias jepitan.
Kembali ke jaman sekolah tingkat dua, aku berhijab pun juga awalnya karena pada saat itu ada seorang teman perempuan (seorang aktivis keputrian) yang tiba-tiba memberikan aku sebuah hijab (jilbab). Bukan hanya itu saja, ada juga seorang aktivis rohis (seorang lelaki atau ikhwan) yang tiba-tiba juga memberikan aku sebuah buku kecil yang judulnya “1001 alasan mengapa harus berjilbab”. Dari situ aku mulai berpikir, apa mereka sengaja melakukan ini semua? Mengapa bisa secara bersamaan mereka memberikan aku sebuah hadiah itu? Dan mungkin karena masih muda, emosi masih suka labil, timbul pro kontra dalam diri aku (antara ingin berhijab dan tidak berhijbab).
Sebelumnya aku pun meminta ijin dengan kedua orangtua ku, boleh atau tidak aku berhijab. Dan alhamdulillah, ijin dari bapak sudah kudapatkan tetapi ketika meminta ijin ke ibu, beliau membuatku agak sedikit ragu. Sekali lagi ibu meyakinkanku apakah aku sudah mantap dengan keputusanku saat itu, karena ibu tidak ingin aku seperti dulu yang sudah berhijab tetapi aku lepas lagi. Tetapi setelah aku berpikir dan yakin dengan keputusan kusaat itu, mulai lah aku berhijab.
Kondisi pada saat setelah berhijab membuatku menjadi nyaman karena pada saat itu sudah jarang lelaki (lebih sering kakak kelas yang lelaki) yang terlihat menggoda atau sekedar menyapa. Dan aku pun kemudian diberikan amanah dari sekolah untuk membantu teman-teman keputrian dalam hal kepengurusan musholla di sekolah.

Dari situlah awalnya aku belajar tentang islam. Aku jadi sering ikut liqo dan ta’lim. Dan bahkan pernah ikut demo membela Palestina sewaktu sedang gencar-gencar perang melawan Israel. Pokoknya aku belajar tentang banyak hal.
Tetapi setelah lulus sekolah dan memasuki dunia kerja, semua hal yang aku pelajari itu seakan hilang begitu saja. Aku mulai dekat dengan beberapa orang lelaki dan bahkan berpacaran dengan salah satu dari mereka. Dan aku pun jadi mulai sering gonta-ganti pacar. Putus dengan yang ini, jadian dengan yang itu. Tidak hanya itu saja, aku jadi lebih suka jalan ke mall atau bahkan sekedar nongkrong di kafe hingga larut malam dengan teman-teman. Padahal jika dipikir-pikir, tiada guna melakukan itu semua. 

Perlahan-lahan aku pun mulai memperbaiki cara berhijab dan berpakaianku. Dulu mungkin karena awalnya aku agak terpaksa memakai hijab tersebut, antara tidak tulus dan tidak ikhlas juga, jadi mungkin terkesan agak asal-asalan. Tetapi sekarang setelah mengerti dan memahaminya, insyaAllah semua bermulai dari hati dan semata-mata karena untuk Allah.
Tapi dari situ di mulailah beberapa ujian serta tantangannya. Orang-orang yang dulu pernah mencoba untuk mendekati dan bahkan sudah menjauh, tiba-tiba mulai berdatangan lagi dan meminta untuk menjalin hubungan seperti yang dulu. Atau bahkan yang sekedar ingin bermain-main dengan perasaan ini.
Dan sekali lagi, hampir saja hati ini sempat tergoyah dan jatuh untuk ke sekian kalinya, tetapi ternyata Allah masih sayang padaku. Satu persatu mereka mulai menjauh karena setelah tau apa alasanku untuk tidak mau berpacaran.


Shanti Nur Oktavia

21 Oktober 2008, yang bertepatan juga dengan ulang tahunku. Saat itu aku kelas dua SMA. Aku memutuskan memberi hadiah yang terbaik untuk diriku sendiri yaitu dengan berhijab.Hari itu pun bertepatan dengan adanya acara keluarga. Aku memberi tahu ke keluarga bahwa aku mau seterusnya berhijab.
memutuskan berhijab tentu ada pertentangan hati, ditambah di keluargaku belum ada satu pun yang berhijab. Mamaku pun belum. Akhirnya, aku pun tidak begitu peduli dengan keadaan seperti itu. Aku tetap meneguhkan hati untuk memakai hijab. Hijab yang pertama kupakai, yang penting menutupi dada, karena buat apa memakai hijab kalau misalnya enggak langsung sesuai syariatnya. Yaa… meski pun enggak lebar, yang penting menutup dada.

Kadang malu juga kalau lagi jalan sama keluarga, cuma aku yang berhijab. Aku belum berhasil mengajak serta mama atau kedua kakakku untuk berhijab. Aku berharap lambat laun mereka mau menggunakan hijab juga.
Alhamdulillah… saat ini mama mau memakai hijab kalau keluar rumah yang jauh, tapi kalau di sekitar rumah mama masih belum rapi berhijab. Soon… semoga perlahan mau berhijab lebih rapi lagi.


Nah, itu cerita dari dua teman yang mau membagi kisahnya di blog ini.

Terus, kalau ceritamu mana, Met?

Baiklah, saya akan membagi cerita saya.

Kapan kamu mulai berhijab?
20 April 2006, saat kelas dua SMK menjelang kenaikan kelas. 


Mengapa kamu mau berhijab? Ap
a alasannya yang membuatmu yakin untuk berhijab?
Karena perintah Allah, sama aja kayak perintah salat, puasa ramadhan, dll.

Lengkapnya adalah…

Keinginan berhijab sudah ada sejak saya kelas 6 SD. Sebab saya aktif mengaji dan berprestasi.

Loh, gak ada hubungannya, Met!

Eh… ada… jangan salaaahh… soalnya karena saya aktif mengaji dan berprestasi itu, saya merasa hidup saya begitu sempurna. Saya ingin kenal sang pencipta saya. Maka tahulah saya bahwa Allah yang begitu sayang sama saya memerintahkan wanita untuk berhijab. Tapi, saat saya mengutarakan hal itu pada mama, beliau dengan tegas menolaknya. TIDAK!!
Wuidiiihh… saya mengkeret. Takut juga melihat ketegasan mama saya dan kecepatan menjawabnya. Namun setelah cooling down, ternyata alasan mama cukup rasional (Yaiyalah, mama saya kan waras, ya rasional lah!). Mama tidak mau saya memakai hijab lalu nanti bosan, lalu melepas lagi. Mama bilang, berhijablah kalau kamu sudah yakin untuk selamanya. Sebab itu perintah Allah yang tidak main-main. Saat itu di keluarga saya pun belum ada yang berhijab (Mama dan kakak perempuan saya. Kalau Bapak sama Uda saya yaaa memang enggak boleh berhijab hehe). Maka keinginan itu pun menguap dengan cepat seperti spirtus.

Lalu di tanggal 20 April 2006, tepatnya seusai salat subuh, tiba-tiba saya memutuskan ingin berhijab. Entahlah… tak ada alasan pastinya. Tiba-tiba saja saya begitu yakin ingin mengenakan hijab, seperti begitu yakinnya seorang anak kecil menginginkan es krim dan akan ngambek bila tak dituruti. Saat itu, saya bertugas mencuci baju sebelum berangkat sekolah. Nah, tempat nyuci bajunya itu bukan di dalam rumah atau di dalam kamar mandi, melainkan di teras rumah yang belum berpagar. Dan rumah saya terletak di pinggir jalan, sehingga terlihat jelaslah oleh orang yang berlalu-lalang jika saya sedang mencuci. Kendala pertama pun muncul, saya tidak memiliki baju berlengan panjang dan kerudung. Untungnya ada manset, maka saya pakailah manset itu, padahal lengan baju saya begitu pendek, jadi ada area yang belum tertutup manset dan memperlihatkan sedikit kulit serta ketiak saya. Lalu, saya ambil kerudung mama yang biasa dipakai buat acara melayat di rumah. Kerudungnya begitu pendek, macam ciput ninja kalau sekarang mah. Harganya lima ribu di Tanah Abang. Banyak banget itu di pasar Tasik tiap Senin Kamis. Eehh… kok saya malah promosi Tanah Abang!?

Lalu pergilah saya mencuci baju keluar teras. Jalanan masih sepi, belum banyak orang yang bangun di subuh hari. Tak lama, mama saya keluar mau membuang sampah dapur. Beliau keheranan melihat ada orang berkerudung mencuci di depan rumahnya. Beliau pun meneriaki saya, “Hei, siapa itu?” Lalu saya menjawab, “Meta, Maa…” Mama saya diam. Sepertinya beliau shock beberapa detik. Lalu langsung memanggil saya masuk ke dalam rumah. Saya pun disidang. Setelah persidangan panas itu, akhirnya mama mengalah pada saya dengan sedikit mengancam “Awas yaa.. kalau di tengah jalan kamu buka kerudung!” Saya pun berjanji pasti, bilang tidak akan. Namun setelah itu, mama langsung kebingungan mengenai seragam sekolah yang akan saya kenakan di hari itu. Saya menenangkan mama, bilang padanya bahwa saya punya manset putih, saya hanya meminjam kerudung putih mama saja. Alhasil, rasanya hari itu hari terjelek saya ke sekolah. Seragam maksa banget, pakai manset, kerudung model ciput ninja pendek, rok pun minjam sama saudara. Tiba di sekolah, semua teman saya yang kebanyakan lelaki (saya perawan di sarang penyamun, SMK TELKOM SPJ) mengerubungi saya. Berasa lalat banget yaa… tapi saya cuek banget, tebar senyum dan merasa hari itu saya cantik banget. HAHAHAHAH! Lalu tak lama saya disidang lagi sama guru-guru. Keputusan akhir adalah, saya harus menjahit seragam ulang, kecuali seragam olahraga. Ya, di SMK TELKOM SPJ kami semua menjahit sendiri seragam. Saat kali pertama masuk, kami diukur dan dibuatkan seragam yang insyaa allah akan muat hingga 3 tahum ke depan, paling cuma kusam atau dekil doang.
Well.. itulah pengalaman pertama saya berhijab. Kautahu? Itu tidak ada apa-apanya dengan pengalaman setelah berhijab. Bahkan saya pernah bersitegang sama kakak perempuan saya dan meninggalkan rumah (kabur) karena prinsip berhijab saya belum dihargai dengan serius. Belum lagi beragam ujian dari sisi asrama eh asmara #aseek. Hingga saya membuat mama saya sakit, dan saya merasa sangat durhaka. 

Tapi, akan sangat panjang bila diceritakan di sini. Intinya… memulai sesuatu yang baik itu memang tidak mudah. Tapi selalu ada langkah pertama, bukan? Dan dengan berhijab, bukan berarti kamu menjadi bidadari atau malaikat seketika. Justru, dengannya kamu akan semakin banyak belajar dan banyak yang harus dipertanggungjawabkan. Juga, kamu harus siap kaya. Karena semenjak berhijab, saya menjadi eksklusif! Harus ke salon muslimah, kolam renang muslimah (walau kadang saya suka ke kolam renang umum hingga sekarang), beli peralatan muslimah… beuuhh ini semua membutuhkan biaya yang mahal. Jadi saya enggak setuju banget kalau dibilang, muslimah itu kuno, kampungan. Yee… mereka gak tahu aja, justru jadi muslimah itu eksklusif. Hanya untuk orang-orang keren, mampu dan mau hahaa…

Begitulah pengalaman pertama berhijab. Tulisan ini apresiasi untuk diri saya sendiri atas perayaan 9 tahun berhijab. Semoga Allah mengistiqamahkan hati kita yang sudah berhijab hingga maut menjemput. Dengan berhijab, kita belajar sepanjang hayat (longlife learning), karena akan ada banyak yang mengingatkan kita bila kita khilaf, bila pun tidak ada, kita tentunya akan malu pada hijab kita sendiri. Itulah mengapa Allah menjaga kita—wanita—dengan  berhijab, sebab ada risiko iman, moral, dll di dalamnya.


Meta morfillah