Rabu, 08 April 2015

Film Theory of Everything

Film yang mengisahkan hidup Stephen Hawking dari remaja hingga tua, berusia 72 tahun. Sisi romantis dan humanis begitu dalam saya temui. Dari film ini saya belajar memaknai lagi cinta dengan makna sederhana namun dalam. Cinta adalah komunikasi.

Ada suatu kalimat bijak berbunyi "Carilah pasangan yang asyik diajak ngobrol. Sebab saat tua nanti, saat kalian sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi, kalian hanya bisa menghabiskan waktu dengan mengobrol."

Seperti Jane saat mengenal Hawking dan berani mengambil keputusan menikahinya, meski Hawking divonis hanya mampu bertahan dua tahun. Jane sangat mengenali Hawking, dia mampu memahami apa yang ingin Hawking katakan. Di sanalah cinta menguat. Komunikasi mereka, saling mengerti. Lalu, cinta bisa berubah seperti hukum kekekalan energi. Cinta tidak hilang, melainkan berubah bentuk.

Saat Jane sadar, bahwa dia butuh lelaki normal yang mampu menemani dan membantunya menanggung beban hidup yang cukup menyesakkan. Namun dia tetap setia pada Hawking. Cintanya mulai berubah... pada Hawking, ia tak bisa kehilangan. Ia mencintainya. Meski ada cinta lain juga untuk Jonathan.

Lalu, saat kehadiran Elaine yang dengan cepat mampu memahami komunikasi Hawking yang begitu terbatas. Hawking tahu, bahwa cintanya pada Jane yang begitu besar harus sepadan dengan besarnya kekuatan untuk melepaskan Jane dari sisinya. Sebab, ada hal-hal yang tak mampu ia penuhi. Dan sudah ada Elaine yang mampu membantunya dalam berkomunikasi. Jane pada akhirnya menemukan kebahagiaan bersama Jonathan. Meski cintanya pada Stephen Hawking tetap ada, dan cinta itu berubah menjadi rasa sayang sebagai sahabat.

Jadi... siapakah yang mampu memahamimu dengan baik? Mampu kauajak berkomunikasi dengan asyik? Mungkin dialah cintamu...

Meta morfillah

Selasa, 07 April 2015

[Review buku] Garis batas

Judul: Garis Batas
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: xiv + 510 hlm, 13.5 x 20 cm, cetakan pertama April 2011
ISBN: 978 979 22 6884 3

Tajikistan yang terlihat modern dengan mobil, namun harga bensin selangit. Kirgiztan, negara pertama yang memproklamirkan kemerdekaan dari Moskow (jajahan Uni Soviet). Kazakhstan yang memindahkan ibu kotanya dari kota kosmopolitan Almaty ke padang gembala Astana. Uzbekistan dengan nilai mata uangnya yang begitu anjlok bahkan kurang dihargai oleh warga negaranya sendiri. Hingga Turkmenistan yang begitu makmur namun terisolasi dari dunia, seperti hidup di negara khayalan. Tak perlu bekerja, tak perlu gaji dan propaganda serta doktrin dari sang pemimpin Turkmenbashi yang membuat warganya puas dan bangga akan tanah airnya sendiri.

Melalui garis batas, agustinus mengajak pembaca memaknai kembali tentang nasionalisme. Dari perjalanannya di lima negeri Asia tengah yang berakhiran Stan, saya belajar beragam kultur, agama, demografis hingga sisi humanis tiap warga negara. Betapa ada banyak hal yang begitu saya syukuri terhadap tanah air Indonesia setelah menikmati perjalanan Agustinus di buku ini. Terkadang, boleh jadi kita menganggap negeri lain lebih indah dan seperti surga, tanpa menyadari bahwa surga bisa dibangun di tanah kita sendiri.

Betapa beruntungnya saya, menemukan buku ini di Gramedia Sale Botani Square Bogor seharga 15 ribu rupiah. Oh ya, agak mengharukan ketika saya membaca bagian penutup buku yang dituliskan oleh penulis, bahwa buku ini dipersembahkan untuk mamanya yang sakit kanker, tanpa sempat melihat terbitnya buku ini.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Minggu, 05 April 2015

[Review buku] Surga yang tak dirindukan

Judul: Surga yang tak dirindukan
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: AsmaNadia Publishing House
Dimensi: xii + 308 hlm, 20.5 cm, cetakan keempat Juni 2014
ISBN: 978 602 9055 21 4

"Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?"

Apa artinya rumah yang selama ini kerap dianggap sebagai surga, jika tak lagi menjadi pelabuhan yang ramah dan tak lagi dirindukan oleh pemiliknya? Begitulah suasana yang ditampilkan dalam novel ini. Isu poligami yang diangkat dari sisi agama dan kultural di Indonesia. Memotret tiap rasa dari semua sisi: sisi suami, sisi "korban"--dalam hal ini istri pertama-dan sisi perempuan pemilik istana kedua.

Melalui tokoh Arini, seorang istri yang soleha, cerdas, berkarir sebagai penulis, membaktikan diri pada suami. Sosok yang mendekati sempurna, dikaruniai tiga anak yang sehat, dan pernikahan yang harmonis selama sepuluh tahun. Tak pernah menyangka bahwa suaminya, Pras, akan menikah lagi. Alasan apa yang membuat Pras rela membangun istana kedua bersama Mei Rose, wanita peranakan Cina, mualaf dan memiliki satu anak, sementara kehidupan mereka berdua begitu sempurna bagai di negeri dongeng. Seharusnya segalanya berjalan indah, happily ever after.

Membacanya, mengingatkan saya pada kalimat "It's too good to be true, it means not true." Juga kalimat bijak lainnya "Sesuatu yang terlalu... seperti terlalu baik, menandakan bahwa itu tidak baik." Yaa... hidup yang terlalu sempurna seharusnya hanya ada di surga.

Menarik sekali, ketika saya membaca pengantar dari penulis dan ragam komentar dari pembaca buku di fanpage asma nadia mengenai tanggapan "Apa yang akan kamu lakukan jika ayah/suami/abang/anak lelakimu menikah lagi?"

Pro dan kontra nampak jelas di sana. Saya sendiri, tak dapat membayangkan apa keputusan yang akan saya ambil dalam posisi tokoh Arini. Ending yang dibuat oleh mbak Asma pun begitu menggantung. Membebaskan pembacanya menginterpretasikan sendiri, apakah tokoh utama pro atau kontra terhadap poligami.

Ah... isu ini begitu rumit. Sebab, kita berbicara dengan perasaan. Meski memaksa logika turut mewarnainya, akan tetap ada hati yang limbung, terluka, teriris perih bahkan kehilangan identitas.

Baiklah, saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel dengan bahasa yang ringan dicerna ini.

Meta morfillah

Sabtu, 04 April 2015

[Review buku] Menata spiritual muslimah

Judul: Menata spiritual muslimah
Penulis: Ninih Muthmainnah
Penerbit: Tasdiqiya Publisher
Dimensi: xi + 206 hlm, cetakan kedua Juli 2012
ISBN: 978 602 18495 0 7

Buku ini dihadiahkan oleh salah seorang teman lelaki di bulan Agustus 2012. Namun baru saya baca hari ini, karena baru saja dikembalikan oleh kerabat yang meminjamnya.

Buku ini begitu simpel, bahasanya mudah dicerna dan to the point. Memang judulnya diperuntukkan bagi muslimah, tapi lelaki pun bisa membacanya. Sebab  menurut saya ulasan dalam buku ini masih bersifat general.

Terbagi menjadi 5 bab, Teh Ninih mengawali dengan bab "Menguatkan keyakinan pada Allah SWT" dengan sub tentang tauhid, sabar dan shalat, lalu pendalaman terhadap wahyu pertama yakni Iqra'.  Berlanjut ke bab "Meraih ampunan Allah SWT" dengan sub tentang taubat, memohon keselamatan imam dan kesucian saat kita kembali fitri di hari raya. Bab ketiga "Menenteramkan jiwa dengan ibadah" dengan sub tentang ikhlas, bahaya riya terhadap amal dan berbagai amalan yang disukai Allah. Selanjutnya bab "Mengisi hidup dengan akhlak mulia" dengan sub tentang pemanfaatan waktu dan harta, silahturrahim, menjaga lisan, pandangan dan pendengaran serta menjadikan rasul sebagai teladan. Lalu bab terakhir, yang membuat buku ini dikhususkan untuk muslimah, bab "Mengoptimalkan fitrah wanita" dengan sub tentang karir, fitrah wanita, mendidik anak, keutamaan ibu dan belajar dari sosok mulia seperti Khadijah dan Aisyah.

Buku ini cocok untuk mengingatkan kembali diri kita akan hakikat muslimah sebenarnya. Bisa dibaca di sela waktu sibuk atau pun saat santai, sebab bahasanya begitu halus dan mudah dicerna. Tak membuat kening berkerut-kerut.

Saya memberikan 3 dari 5 bintang

Jumat, 03 April 2015

[Review buku] The God Of Small Things

Judul: The God Of Small Things (Yang Maha Kecil)
Penulis: Arundhati Roy
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Dimensi: xxxii + 420, 13.5 x 18.5 cm, cetakan kelima Mei 2009
ISBN: 978 979 461 402 0

Berlatar belakang sebuah desa di india, novel ini mengangkat banyak isu seperti gender, seksualitas, SARA, sejarah dan budaya pengklasifikasian kelas/strata di India. Secara cerita, novel ini mengalir tanpa ada twist, sebab semuanya telah ditampilkan di awal. Namun, semakin membaca kelanjutannya, kita akan dibawa maju mundur. Yaa... novel ini memiliki alur maju mundur yang membuat pembacanya harus konsen agar tak kehilangan pegangan, sedang ada di fase manakah saat membacanya. Semua cerita dipusatkan pada kedatangan hingga kematian Sophie Mol, anak Paman Chackoo yang berasal dari London. Satu hari yang mengubah segalanya.

Melalui sudut pandang Rahel kecil dan Rahel dewasa, serta sudut pandang ketiga, novel ini memusatkan cerita pada sebuah keluarga terhormat di Ayemenem. Mamachi, nenek Rahel yang terbiasa disakiti oleh suaminya, Papachi. Chackoo, paman Rahel yang merupakan lulusan Oxford, menyuarakan kesetaraan namun meniduri para pekerja wanitanya. Baby Kochamma, bibi Rahel yang mengalami kandasnya cinta pertama sehingga mengubah agamanya. Ammu, ibunda Rahel yang jatuh cinta pada Velutha dari kasta rendahan, The Untochable. Serta Rahel dan Estha, saudara kembarnya yang pernah mengalami pelecehan seksual di gedung bioskop.

Menurut saya, novel ini begitu berat. Sarat akan banyaknya pengungkapan akan keadaan India di masa itu. Pantas saja, bila di negaranya sendiri, novel ini begitu dihujat dan dilarang terbit. Namun, sebuah karya yang bagus tetaplah bersinar. Novel debut pertama Arundhati Roy ini memenangkan sebuah penghargaan literasi bergengsi.

Secara isi, gaya bahasa, saya agak menemukan kesulitan dalam menangkap makna-makna kalimat atau frase yang dihidangkan. Mungkin, karena memang ada beberapa kata yang sulit dicari padanannya dalam bahasa kita, sehingga agak menghilangkan estetikanya.

Secara tampilan, selayaknya buku sastra lainnya. Novel tebal ini, kurang cantik dikemas. Font yang digunakan begitu rapat, penuh, dan membuat ngantuk. Entahlah, saya masih saja mengharapkan novel-novel sastra dikemas dengan gaya kekinian, yang membuat orang tertarik membacanya. Tidak seperti buku teks yang langsung menjemukan dan harus mengumpulkan niat lebih untuk membacanya... hahaha.

Secara keseluruhan, saya memberi 4,5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Kamis, 02 April 2015

[Review buku] Kota-kota imajiner

Judul: Kota-kota imajiner
Penulis: Italo Calvino
Penerbit: Fresh Book
Dimensi: v + 185 hlm, cetakan I April 2006
ISBN: 979 98459 9 8

"Jika Anda menyukai 'Mimpi-mimpi Einstein'nya Alan Lightman, maka Anda harus membaca novel ini. Karena ialah pelopornya." Editor Fresh Book.

Yup, gaya berceritanya seperti novel Alan Lightman. Saya berkata seperti ini karena saya lebih dulu membaca novel Alan, sebelum membaca novel ini.

Bagaimana yaaa... tidak mudah menjelaskan novel ini. Saya sudah berusaha untuk membuat reviewnya dengan cara saya yang biasa, namun rasanya tetap kurang pas. Berkali saya baca ulang, saya hanya merasa terhanyut pada keindahan bahasa puitisnya, juga gambaran kota yang terkadang memiliki sifat seperti manusia, surealis. Kemustahilan imajinasi bertemu dengan pasangan sempurnanya, kefasihan bercerita. Beginilah rasanya. Tak sadar kamu dibuai cerita di dalamnya, meski akal agak protes, karena surealisnya kadang tak masuk logika.

Pada intinya, tokoh Marco polo sebagai sang pencerita beragam kota mengelompokkan menjadi:
1. Kota-kota & kenangan
2. Kota-kota & keinginan
3. Kota-kota & tanda-tanda
4. Kota-kota kecil
5. Kota-kota niaga
6. Kota-kota & mata-mata
7. Kota-kota & nama-nama
8. Kota-kota & kematian
9. Kota-kota & langit
10. Kota-kota berlanjut
11. Kota-kota tersembunyi

Masing-masing kelompok memiliki 5 cerita. Jadi, totalnya ada 55 cerpen tentang kota yang berbeda.

Saya beri 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

[Review buku] Renjana dalam bejana

Judul: Renjana dalam bejana
Penulis: Nabila Budayana
Penerbit: Nulisbuku.com
Tahun: 2013

Buku ini dihadiahkan pada saya saat di Yogya. Lina, gadis yang memberikan buku ini, saya curiga bahwa dia pun mengenal cukup baik penulis buku ini.

Buku ini adalah kumpulan cerpen yang terdiri dari 13 kisah. Satu di antaranya berjudul "Renjana dalam bejana". Secara isi, saya suka dengan diksi dan metafora yang digunakan. Namun, ada beberapa cerita yang tidak saya pahami maksudnya. Interpretasi terlalu bebas, dengan gaya metafora sang penulis membuat saya agak lama mencerna tiap kisah. Bukunya sih tipis, tapi dahi saya berkerut lama memikirkan "Maksud cerita ini apa? Tahu-tahu sudah selesai, tapi saya bingung."

Saya sadari, bahwa buku ini diterbitkan self publishing. Bukan mendiskreditkan self publishingnya, tapi di buku ini saya agak kecewa karena editannya yang kurang rapi. Ada beberapa EyD yang kurang tepat, juga typo yang cukup fatal karena mengubah makna, letak preposisi dan prefiks kata di- yang kurang tepat, serta penulisan alinea. Saya menyayangkan, kualitas self publishing seharusnya tetap dijaga dengan self edit, minimal. Sebab hal tersebut sungguh mengganggu dan sempat menyurutkan minat saya melanjutkan baca buku ini.

Berikut cuplikan 13 cerpen tersebut:

1. Kawan dan malam
Menceritakan seorang gadis yang berkawan dengan malam hingga ia dewasa.

2. Perjalanan kenangan
Menceritakan perjalanan kenangan seorang lelaki yang menanti kekasih wanitanya hingga menua di stasiun.

3.Tiga wanita dan toko buku kecil
Menceritakan keterkaitan masa lalu, masa kini dan masa depan tiga wanita di sebuah toko buku kecil, disebabkan ulah seorang lelaki.

4. Berawal dari kepala
Menceritakan tentang ilusi rumah kenangan yang ada di kepala seorang cucu wanita.

5. Kuteks hijau
Menceritakan tentang seorang wanita, sejarah kelahirannya dan kuteks hijau yang selalu diingatnya.

6. Beri tempat semanggiku
Menceritakan perjuangan seorang penjual pecel semanggi di tengah kota dan roda zaman yang menggilas.

7. Sampul ungu tua
Menceritakan kisah cinta sejati nenek dan kakek yang tak berujung pernikahan, namun tetap awet sebagai cinta pertama mereka.

8. Melodi tanah air dalam kotak mimpi
Menceritakan pilihan jalan hidup sebagai musisi.

9. Semu merah pada wajah
Menceritakan seorang wanita yang bersemu merah dan mampu menaklukkan hati lelaki mana pun, namun sebenarnya banyak kepahitan yang tersembunyi di balik semu wajahnya.

10. Sepasang payung berdebu
Menceritakan kisah sepasang pemain sirkus yang saling memendam rasa hingga menua.

11. Renjana dalam bejana
Menceritakan seseorang yang siap dan telah mencintai kematian, lalu menjadi gila saat menghadapi kematian orang terdekatnya.

12. Encore
Menceritakan dua tokoh wanita lintas waktu dan zaman yang terhubung dalam satu tempat.

13. Menemukan manusia
Menceritakan sepasang kekasih yang mencoba menjadi lebih manusiawi dan pasrah pada takdir, tanpa ketergantungan terhadap teknologi.

Secara keseluruhan, saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah