Go to Malaysia [Part 3]
| Welcome to Batu Caves! |
| Bus di Malaysia |
This is slide 1 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...
Read More
This is slide 2 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...
Read More
This is slide 3 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...
Read More
| Welcome to Batu Caves! |
| Bus di Malaysia |
| Scene di pintu belakang hostel Malaka |
| Jam Merah Malaka |
| Hostel di Petailing. Enak, ber-AC pula |
| Interior ruang makan di Hostel |
| Sisa sarapan |
Jatah waktu hidup kita di dunia, seperti tumpukan balok di foto ini. Berkurang tiap harinya... semakin menipis dan sedikit yang tersisa. Seberapa kuat pun ingin kutahan helai nafas yang berembus... tetap tak mampu memperpanjang masa hidupku yang tergariskan. Dan syukurlah, jatah hidup itu rahasia. Sehingga, tiap harinya aku menebak kapan detik terakhir jantungku berdetak. Seraya memberikan waktuku yang berharga pada mereka yang kusayang.
Selagi masih ada waktu.
Itulah yang membenak, jika aku menghabiskan waktu untuk mengunjungi yang kusayangi.
Selagi masih bisa.
Itulah yang menyeruak di batin, jika aku memberikan telinga untuk mendengar.
Selagi masih hidup.
Itulah yang mewarnai rasa di tiap hariku. Mengeluh, murung, tak apa... tapi tak berkepanjangan. Seperti syair sebuah lagu, murung itu sungguh indah.. melambatkan butir darah. Sesekali, kita perlu.. tak memaksa menjadi orang yang selalu bahagia dan berparas cerah.
Tiap kita, memiliki cara berbeda dalam menyikapi jatah waktu yang menipis. Ada yang merelakan jatah waktunya untuk dinikmati dalam kesendirian. Ada yang menyibukkan diri dalam pekerjaan, menguras habis perhatian dan pikiran. Ada yang berusaha membahagiakan kesayangannya.
Lalu, cara mana yang kamu mau?
Semoga tiap kita sadar akan bekal yang harus disiapkan, sementara waktu semakin tipis. Sebab kita semua menunggu. Menunggu kapan kita pulang.
Meta morfillah
17 februari keempat belas
Kautahu, aku tak pernah mengingat hari lahirmu. Sebab bagiku, hari lahirmu tak terlalu istimewa. Aku tak mengenalmu sedari bayi. Aku tak seperti ayah ibumu yang begitu mengharapkan kelahiranmu. Tapi, aku selalu mengingat hari wafatmu. Sebab, sepeninggalmu, duniaku berubah.
Mungkin, memang benar bahwa tak penting awal mula, melainkan fokuslah pada akhir. Sehingga kau berproses lebih baik saat menuju akhirmu. Sebab, kau dinilai di akhir hidupmu.
Empat belas tahun sudah, aku merayakan hari wafatmu. Sesibuk apa pun, sebahagia apa pun, saat sadar bahwa aku berada di tanggal 17 februari, suasana hatiku langsung sendu. Terutama bila sedang sendiri. Sering aku merayakan hari wafatmu dengan hujan dari bola mataku. Setegarnya aku, se-maksa-banget pun aku, tetap saja... aku kangen.
Bukan... bukan tak ridha atas kehendakNya.
Bukan... bukan tak ikhlas atas kepergianmu.
Ini semata, kelemahan diriku.
Selalu bertanya, apakah kaubahagia memilikiku sebagai putrimu?
Apakah kaubangga?
Apakah kau...
Apakah kau...
Lalu, masih dengan cara yang sama... aku selalu menuliskan apa yang kurasakan di tanggal 17 februari.
Sayangnya, saat ini aku terlambat dua hari untuk menuliskan. Sebab, anakmu sekarang banyak menanggung beban.
Sayangi dia, Tuhan....
Bapak nomor satu di dunia.
Meta morfillah
Copyright ©
APA MAU KAMU | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com