Minggu, 15 Februari 2015

Apa yang tampak, belum tentu...

Cantik, bukan?
Sederhana, putih, terlihat sejuk dan lembut, menenangkan karena keluasannya.

Tapi... apa pernah kautahu rasa sebenarnya?
Betapa dingin, keras, dan sepinya.
Seringkali, yang terlihat belum tentu yang memberikan makna sebenarnya. Kita harus mencandrainya dengan seluruh indrawi yang kita miliki, untuk tahu yang sebenarnya.

Mungkin, seperti inilah hati manusia.

Apa yang tampak, belum tentu mencerminkan kenyataan sebenarnya. Manusia... senang sekali membuat segalanya rumit. Senang sekali memiliki paradoks dalam hidupnya. Sama halnya denganku.

Apakah kamu juga mengalami hal yang sama?

Meta morfillah

[Review buku] The man who love books too much

Judul: The man who loved books too much (Kisah nyata tentang seorang pencuri, detektif, dan obsesi pada dunia kesusasteraan)
Penulis: Allison Hoover Bartlett
Penerbit: Pustaka Alvabet
Dimensi: 300 hlm, 13 x 20 cm. Cetakan 1, April 2010
ISBN: 978 979 3064 81 9

Apa yang sanggup kaulakukan demi cintamu pada buku?
Bagi John Charles Gilkey, jawabannya: masuk penjara.

Itu adalah blurb di bagian cover belakang buku ini. Saya membeli buku ini karena judul dan kalimat tersebut, yang membangkitkan rasa penasaran saya. Saya kira awalnya, adalah novel. Ternyata ini narasi kisah nyata tentang seorang John Gilkey yang ingin memiliki perpustakaan kaya dengan cara paling buruk, yakni mencuri. Obsesi seorang kolektor yang salah, karena ia menipu dengan taktik kartu kredit.  Juga obsesi Ken Sanders, seseorang yang menyebut dirinya "bibliodick" (penjual buku yang merangkap sebagai detektif) dan sangat ingin menangkap si pencuri. Seumur hidupnya, ia membaktikan diri untuk menangkap Gilkey, si pencuri yang mengacaukan perdagangannya. Penulis sendiri adalah seorang jurnalis, yang mengurai cerita mereka secara langsung, mengikuti kedua orang tersebut bergantian selama sepuluh tahun.
  
Dalam narasi Bartlett ini, dijelaskan dengan detail mengenai intrik sastra serta deskripsi mengenai manuskrip-manuskrip, kilasan-kilasan menarik berbagai buku langka di dunia, pikiran kriminal, serta batasan-batasan keterlibatan jurnalistik. Membacanya membuat wawasan saya bertambah dan jatuh cinta lagi dan lagi pada buku fisik--sempat diulas juga tentang e book. Buku ini menunjukkan peran besar buku dalam kehidupan kita, penghormatan yang menjadikan buku itu tetap dipertahankan dan keinginan yang membuat sebagian orang mempertaruhkan apa saja demi memiliki buku yang mereka sukai.

Namun, bahasa narasi yang terlalu lugas, membuat saya terkadang agak jenuh, sehingga saya selingi dengan bacaan lain.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Jumat, 13 Februari 2015

[Review buku] Alles liebe

Judul: Alles Liebe (Bertahan dan berjuanglah untukku)
Penulis: Farrahnanda
Penerbit: de TEENS
Dimensi: 228 hlm, cetakan pertama, november 2013
ISBN: 978 602 7695 25 2

Dari awal tahu bahwa buku ini adalah buku remaja, saya sudah merasa agak berat. Mengapa? Karena harus menyamakan frekuensi kembali. Membaca dengan sudut pandang remaja, dan berusaha menikmatinya sebagai remaja. Awalnya, agak sulit, tapi didorong rasa penasaran karena penulisnya adalah teman yang juga lulusan kampus fiksi, tetap saya paksakan. Daaaaan.... hampir setahun hanya menjadi niat. Hingga sempat ingin saya berikan ke teman saya yang meminta buku ini, tanpa saya baca dahulu. Tapi, malam ini saya benar-benar iseng. Ingin baca buku yang gak perlu mikir. Di lemari buku, hanya ini yang lumayan 'ringan'.

Mulai membaca pukul 20.00 dan selesai pukul 21.00. Di awal, ada beberapa bagian detail yang saya skip karena memang belum dapat 'feel'nya. Lalu menjelang pertengahan, baru mulai menarik. Tokoh Sartika, seorang gadis SMA yang nakal, anak panti, hobi merokok, terancam dikeluarkan dari sekolah karena nilai-nilainya yang merosot tajam, padahal awalnya dia masuk sepuluh besar. Tiba-tiba mendapat bantuan dari sekretaris OSIS bernama Ferro. Anak lelaki yang berwajah malaikat, baik, pintar, penurut, dan ramah. Ferro sampai berani mempertaruhkan jabatannya sebagai sekretaris OSIS di hadapan kepala sekolah, bila ia tidak berhasil membuat Sartika berubah dalam waktu enam bulan.

Konflik khas remaja. Tokoh anak lelaki populer bersandingkan anak perempuan biasa. Haha... saat membacanya, entah mengapa saya merasa penulisnya agak berkiblat ke drama korea. Tapi untuk karakter Sartika, yang kebanyakan sinis dan sarkas, saya merasa dialognya banyak yang bergaya film-film holywood.

But, so far saya menikmati pertengahannya. Hanya saja, saat endingnya... saya merasa antiklimaks. Sartika menjadi melankolis lagi, yang karakternya seperti blur. Voice dalam tokoh 'aku' serta sudut pandang yang kebanyakan dari Sartika pun agak membingungkan. Terkesan begitu cerdas untuk anak SMA seperti dia.

Oh ya, saya masih penasaran sama arti lagu Jerman yang biasa disenandungkan Ferro. Nanti saya mau googling... hahah

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Kamis, 12 Februari 2015

Perubahan dan Keluar dari zona nyaman



Meninggalkan zona nyaman itu berat. Berat sekali.

Setelah mengajukan resign di kantor lama, hanya seminggu saya dapat menikmati jadi pengangguran. Senin malam, senior saya menghubungi dan menawarkan pekerjaan sebagai Instructional Designer di kantornya. Bidang pekerjaannya, walau masih terkait apa yang saya pelajari dan kerjakan selama ini, namun agak berbeda media. Selama ini saya agak lemah di bidang media, dari kuliah saya menyadari itu, sehingga tak memilihnya. Saya sudah menjelaskan hal itu pada kakak kelas saya, dan dia tetap menyuruh saya datang ke kantornya. Malam itu, ramai wasap saya. Tiga senior dan seorang teman menyuruh saya mencoba datang dan melamar ke kantor itu. Seperti biasa, saya tak pernah menolak kesempatan. Toh, saya pikir aka nada banyak waktu dalam mempertimbangkan saya diterima atau tidak. Saya pun tak memiliki ekspektasi akan diterima.

Selasa siang, saya diinterview oleh kakak kelas dan HR perusahaan itu. Setelah wawancara pun, saya main ke kantor lama. Setidaknya seminggu sekali saya menyempatkan diri ke sana, karena meski saya sudah tak bekerja di sana, mereka tetaplah keluarga yang saya sayangi. Cinta tapi tak jodoh, haha… kayak lagu T2. Rabu pagi, saya membuat NPWP—hal yang tak sempat saya lakukan saat bekerja dahulu—lalu pulang ke Bogor bersama mama dan uda saya. Sorenya, saya mendapat telepon bahwa saya diterima dan disuruh mulai bekerja besok, hari kamis. Saat itu, saya agak sedih. Mengapa? Karena niat saya sebulan menganggur dan membantu chef alladzu—usaha brownies bersama teman-teman komunitas Pencinta Anak Yatim—harus terhenti. Tapi tak lama, saya mengucap hamdalah dan innalillah… pekerjaan baru adalah amanah baru. Berat rasanya, terutama saya memang tak terlalu menguasai bidang pekerjaan baru saya. Tapi, saya ingat lagi dua pekerjaan saya sebelumnya… keduanya dimulai dengan cara yang sama. Saya tak pernah melamar atau pun berniat melamar di sana. Sama sekali tak ada ekspektasi apa-apa terhadap perusahaan sebelumnya. Tapi mereka yang memilih saya, dan saya bertahan dua tahun di kedua tempat. Keduanya meninggalkan kenangan manis. Murid-murid saya yang kebanyakan berkebutuhan khusus, serta sahabat-sahabat yang setia menemani dan tak putus hubungan hingga kini. Keduanya pun member pembelajaran yang berbeda namun membuat saya utuh seperti pribadi saya saat ini.

Di perusahaan yang baru ini, ternyata saya akan menjadi satu-satunya instructional designer. Menggantikan kakak kelas saya yang akan resign bulan ini karena sakit. Transfer knowledge seadanya. Bahkan dalam seminggu hari kerja, saya hanya datang ke kantor satu kali. Sebab, saya sendiri kurang paham bagaimana ritme kerja dan apa tanggung jawab saya. Selama ini, saya menunggu perintah dari senior saya. Tak boleh jauh dari handphone, sebab sewaktu-waktu ada koordinasi dan saya harus siap mobile.

Kautahu, pekerjaannya lebih seperti marketing dan project manager. Selain saya berpikir sebagai instructional designer, saya juga harus memastikan project berjalan sesuai timeline, memastikan kualitas hasil pekerjaan, dan juga mempresentasikan dari awal project hingga akhir ke klien. Ibaratnya saya garda depan. Setelah mendapat gambaran itu, hati saya berkali-kali tak tenang. Saya agak keberatan untuk menjadi front office. Tapi, kembali dalam pergulatan batin saya, saya berpikir “Apa lagi scenario yang Allah ingin berikan pada saya?”

Jujur saja, saya merasa bahwa hidup saya dan pekerjaan saya selama ini, bagaikan tingkatan pembelajaran yang harus saya selesaikan. Dan semuanya saya selesaikan dalam kurun yang sama. Dua tahun. Lalu lanjut ke tahap selanjutnya, dengan kemudahan yang saya dapat, untuk membuktikan apakah pembelajaran selanjutnya saya akan lulus atau tidak. Saat mengajar di homeschooling, saya belajar kesabaran menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak normal yang memiliki segudang masalah hingga putus sekolah. Saat bekerja di perusahaan sebelumnya, saya belajar menekan ego, bekerja secara tim dan kepemimpinan. Saat ini, saya merasa goal saya adalah menuntaskan pelajaran komunikasi, bagaimana menghadapi beragam karakter klien yang harus saya pilah-pilih, tidak sekadar menjadi “yes-man”.

Satu hal yang paling berasa, adalah perubahan itu sendiri. Betapa pergulatan pikiran dan konflik batin saya kerap muncul. Tak jarang membandingkan dengan kantor lama, betapa “surgawi” kantor lama saya. Semua kenyamanan ada di sana, sangat-sangat nyaman hingga menumpulkan. Lantas saya teringat tulisan pak rhenald kasali,

“Manusia belajar sepanjang masa melewati ujian demi ujian. Dan itu meletihkan, bahkan kadang menakutkan, melewati proses kesalahan dan kegagalan, menemui jalan buntu dan aneka krisis, kurang tidur. Kadang kita menemukan guru yang baik dan pandai, tapi kadang bertemu guru yang menjerumuskan dan menyesatkan. Tetapi mereka semua memberikan pembelajaran. Hidup itu memang terdiri dari proses keluar-masuk. Kalau sudah nyaman, ingatlah jalan ini akan crowded. Jadi, apakah Anda termasuk orang yang mengalami gejala kesulitan “keluar-masuk” zona nyaman?”

Yaa… perubahan itu menyakitkan. Belajar lagi dari nol. Keluar dari zona nyaman. Persis seperti batu berlian yang dibentuk, dan akan semakin mahal bila ia memiliki banyak sudut cahaya, banyak pembentukan.
Semua perubahan ini, insyaa allah telah dan akan saya lewati kembali dengan baik, selama ada dukungan dari keluarga. Terutama mama. Doanya yang memeluk dari jauh begitu kuat dan menenteramkan, meski raga tak bersua. Setiap kali orang bilang saya beruntung, atau saya merasa sangat beruntung, saya percaya bahwa itu adalah doa mama saya yang dikabulkan.

*Saya menuliskan semua yang saya rasakan, bukan sekadar curhat… tapi agar saya ingat bahwa “saya pernah merasa begitu bodoh, buntu, tak berguna dan merasa masalah yang saya hadapi rumit dan tak selesai-selesai” saat ini. Untuk kemudian saya tertawakan di beberapa waktu ke depan, saat saya sudah berhasil menyelesaikannya, atau menyadari bahwa masalah saya tidak ada apa-apanya.*


Meta morfillah

Rabu, 11 Februari 2015

[Review buku] Of mice and men

Judul: Of mice and men
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Selasar
Dimensi: vi + 147 hlm, cetakan pertama, september 2011
ISBN: 978 979 25 9413 3

Novel ini menceritakan tentang persahabatan antara dua manusia. Lenni Small, yang bertubuh besar, bertenaga kuat, tapi begitu bodoh. George Milton, bertubuh kecil, cerdas, dan selalu mengarahkan--tepatnya mengatur--hidup dia dan Lenni.

Berlatar belakang tahun 1930an, novel ini mengangkat cerita kehidupan dua sahabat tersebut yang bekerja sebagai sebuah buruh kasar di peternakan. George yang memiliki impian memiliki peternakan sendiri, menjadi pemimpin bagi dirinya dan Lenni.

Menarik sekali melihat watak tokoh dalam novel ini. Mencerminkan sisi manusiawi, yang kadang baik, kadang jahat. Bahkan, orang baik pun bisa menjadi jahat disebabkan keadaan yang mendukung. Itulah yang menimpa Lenni dan George. Dengan ending yang tak disangka, penulis seperti menciptakan tokoh villain bagi saya. Tokoh jahat yang dicintai, sebab ia jahat karena keadaan, bukan kemauannya. Juga perjalanan persahabatan yang mengharukan serta menyedihkan.

"Siapa pun bisa sinting kalau tak punya orang dekat. Tak peduli separah apa pun orangnya, asalkan ia selalu ada untukmu."

Kalimat olok-olok yang diucapkan Crooks, salah satu tokoh di novel ini, menegaskan bahwa penulis ingin menyampaikan betapa kuatnya kebutuhan manusia akan kawan. Meski pun penulis juga menekankan betapa kesepian ini akan alami tetap terpelihara dalam wujud dinding tinggi yang terbentuk dari sikap tidak manusiawi satu sama lain.

Saya memberi nilai 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Selasa, 10 Februari 2015

[Review buku] Mimpi-mimpi Einstein

Judul: Mimpi-mimpi Einstein
Penulis: Alan Lightman
Penerbit: KPG
Dimensi: 154 hlm, 14 x 20 cm, cetakan kedelapan, februari 2004
ISBN: 979 9203 31 9

Tertulis di covernya bahwa ini novel. Tapi jangan harapkan ini sebagaimana novel biasanya yang memiliki alur progresif. Bahkan tokoh einstein yang merupakan tokoh utama hanya tampil di bagian prolog, beberapa interlude, dan epilog. Novel ini lebih menceritakan tentang konsep waktu dalam pikiran einstein. Butuh nalar dan pemahaman dalam mencernanya.

Kecerdasan penulis kadang membuat saya takjub. Betapa waktu bisa dinilai begitu berbeda dari banyak sisi. Contohnya, ada pandangan di mana waktu memiliki tiga dimensi, seperti ruang, menjadi paralel, dengan banyak kemungkinan pilihan.

"..di dunia pertama, lelaki itu memutuskan untuk tidak menemui perempuan itu lagi."

"Di dunia kedua, lelaki itu menemui perempuan dari fribourg, bermain cinta, meninggalkan pekerjaannya di Berne dan pindah ke fribourg."

"Di dunia ketiga, lelaki itu menemui perempuan itu, lalu merasa hampa setelah menemuinya." (Hlm. 12-14)

Juga konsep tentang waktu di mana tiap manusia hanya mendapat jatah hidup di dunia hanya satu hari. Betapa berbedanya perilaku tiap manusia. Belum lagi konsep di mana ada masa depan yang sudah terlihat pasti, masa lalu yang bisa diubah, dan lompatan masa.

Membaca buku ini, membuat kening saya agak berkerut. Lalu setelah mencapai ending, saya jadi bertanya... lantas... apa yang didapatkan einstein? Apa kelanjutannya?

Haha... novel ini seperti jurnal dalam bahasa fikai, menurut saya. Cuplikan einstein dan sahabatnya, besso bahkan hanya seperti bayang-bayang dalam novel ini. Terhadap pribadi dan keluarga einstein, saya malah kasihan. Nampaknya einstein di novel ini, digambarkan begitu tak peduli pada diri dan keluarganya. Apakah memang seperti itu gambaran einstein? Menyedihkan...

Saya berikan 3 bintang dari 5.

Meta morfillah

Sabtu, 07 Februari 2015

[Review buku] Lapis-lapis keberkahan

Judul: Lapis-lapis keberkahan
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Dimensi: 16 x 24 cm, 518 hlm
ISBN: 978 602 7820 12 8

Hampir semua buku-buku Salim saya baca, dan saya suka. Tapi bila boleh diurut dari yang paling saya suka adalah buku "Dalam dekapan ukhuwah" dan buku ini. Prolog buku ini begitu mengesankan, sehingga saya langsung tergerak untuk pre order. Membacanya dimulai dari 21 Juli 2014, saat buku ini mendarat setelah menanti sebulan pre order dari Yogya. Sangat bersemangat, namun juga tak ingin lekas selesai. Sengaja saya berlama-lama dan mengulang-ulang kisah yang membuat hati lirih hingga gerimis. Hingga akhirnya saya selesaikan malam ini, sebab terlalu asyiknya membaca kisah teladan yang disampaikan dengan kalimat-kalimat indah nan cerdas khas salim.

Dalam tiap bukunya, salim selalu menampilkan kata-kata baru yang jarang saya temui. Hingga sering kali saya bertanya pada teman atau googling arti kata tersebut, seperti: anggitan, selingkung, teripis, dll. Soal diksi, jangan ditanya... saya kadung jatuh cinta pada untaian kalimat salim di tiap bukunya.

Dalam buku lapis-lapis keberkahan ini sendiri terbagi menjadi tiga bab yang dipecah lagi menjadi beberapa sub bab. Bab pertama berjudul beriris-iris asas makna, bab kedua  berjudul bertumpuk-tumpuk bahan karya, dan bab terakhir berjudul bersusun-susun rasa surga. Membahas tentang hakikat kebahagiaan yang sejatinya kita cari dalam bentuk keberkahan dan lapis-lapisnya, yang dapat ditemui dalam teladan pribadi rasulullah, sahabat serta keluarganya, juga berbagai tempat, waktu dan amalan yang memiliki keutamaan untuk diberkahi.

Membaca buku ini, membuat saya terhempas membayangkan masa lalu saat rasul hidup hingga kurun waktu sebelumnya, saat doa nabi ibrahim terwujud dalam bentuk hadirnya rasulullah sebagai jawaban doa berusia 4000 tahun. Betapa kecil dan tiada apa-apanya diri ini dibandingkan mereka.

Lalu di bab terakhir, saya merasa diajak bermuhasabah dari pribadi, keluarga, hingga negara. Dan ditutup dengan epilog cantik berjudul Tiada rasa cukup akan berkahMu.